Liputan Khusus Ultah Jakarta

Sejarah Bir Pletok Betawi, Tiruan Anggur Barat Tanpa Alkohol

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 15:42 WIB
Sejarah Bir Pletok Betawi, Tiruan Anggur Barat Tanpa Alkohol Bir khas betawi yang terbuat dari aneka rempah-rempah dan berkhasiat untuk kesehatan. (CNN Indonesia/Christina Andhika Setyanti)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak dahulu, masyarakat Betawi sangat dekat dengan agama Islam. Lihat saja busana mereka, para lelakinya tak bisa lepas dari sarung dan peci. Karena itu saat Belanda masuk ke Indonesia, mereka agak antipati. Apalagi saat para penjajah mengadakan pesta khas bule yang tak pernah diadakan tanpa minuman keras.

“Mereka banyak menyaksikan orang Belanda berpesta. Ukuran seberapa extravaganza-nya pesta mereka, adalah seberapa banyak wine yang dikeluarkan,” ujar JJ Rizal, peneliti budaya Betawi saat ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Masyarakat Betawi menyaksikan itu dengan kesal sekaligus iri.
Mereka ingin pula mencicip anggur bikinan Belanda. Tapi itu minuman keras dan dilarang dalam Islam. “Itu haram, dan bagi mereka budaya itu terlalu jauh,” ujar Rizal. Maka mereka kemudian membuat budaya tandingan. Masyarakat Betawi membuat minuman sewarna bir, merah kecokelatan. Tapi tidak ada kandungan alkohol.

Mereka menyebutnya bir pletok.
“Itu konsep imitasi. Orang Betawi menyebut anjing, apa pun namanya, dipanggil Bleki. Padahal itu dari warna black, hitam. Sama seperti ini. Yang penting warnanya seperti bir, disebutlah bir,” kata Rizal menjelaskan. Sedangkan nama ‘pletok’, diambil dari suara yang keluar saat penutup wine biasanya dibuka.


Jika penyumbat kayu yang biasanya digunakan menutup botol anggur dicabut, ada suara semacam ‘plop’ atau ‘pletok’. Itulah yang digunakan masyarakat Betawi untuk menamai minumannya.
Sampai sekarang, bir pletok pun menjadi minuman khas Betawi yang biasanya disuguhkan saat pesta-pesta seperti khitanan atau pernikahan.

Warna bir pletok memang seperti campuran bir dan anggur. Tapi rasanya sama sekali tidak asam atau pahit. Bir pletok justru manis. Juga tidak ada gigitan soda seperti saat bir biasa menyentuh lidah peminumnya. Tentu saja tidak memabukkan.
Namun sama seperti bir atau anggur khas barat, bir pletok membuat peminumnya merasa hangat. Itu karena ia terbuat dari rempah seperti jahe dan serai. Ada pula campuran daun pandan yang membuatnya wangi. Jika ingin warnanya lebih merah, saat merebus bir pletok tinggal tambahkan kayu secang. Tambahan cengkih, kayu manis, kapulaga, dan pala juga biasanya dicampurkan saat membuatnya.

Bir pletok biasa disajikan panas. Itu cocok diminum di malam hari. Namun, bir pletok modern juga bisa disajikan dingin. Itu segar untuk di siang hari.




(rsa/mer)