Liputan Khusus Ultah Jakarta

Roti Buaya, Sejatinya Simbol Kesetiaan

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Senin, 22/06/2015 11:37 WIB
Roti Buaya, Sejatinya Simbol Kesetiaan Roti buaya, simbol kesetiaan yang selalu ada di acara pernikahan adat Betawi (Wikimedia Commons/Gunawan Kartapranata (CC BY-SA 3.0))
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernikahan orang Betawi tak bisa lepas dari roti buaya. Biasanya mempelai pria membawakan roti berbentuk buaya — sekarang dengan mata terbuat dari choco chip atau kismis sebagai variasi — saat datang ke mempelai wanita. Jika tidak, bisa dianggap tidak menghargai. Lamaran bakalan ditolak. Pernikahan bisa batal.

Budaya itu membuat orang heran. Sebab selama ini buaya identik dengan pria mata keranjang. Jika suka menggoda wanita, disebut buaya darat. Dengar saja lagu Lelaki Buaya Darat yang disenandungkan Ratu. Istilah itu bahkan ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Ia diartikan ‘penjahat’ atau ‘penggemar perempuan’.
Banyak orang ternyata salah kaprah, menurut peneliti sejarah Betawi, JJ Rizal. Ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu, Rizal berkata mengetahui makna roti buaya dalam Betawi tak boleh melupakan bahwa penduduk Jakarta dahulu merupakan masyarakat sungai. Jakarta dikelilingi 13 sungai.

“Sering diberitakan muncul buaya di sungai-sungai itu. Dan interaksi masyarakat Betawi paling intens dengan buaya,” kata Rizal menerangkan. Makhluk itu dianggap setia. Ia hanya kawin dengan satu pasangan, tak pernah berpindah ke lain bodi atau hati. Buaya pun dianggap sebagai hewan suci bak sapi di India.


“Sampai sekarang masih ada beberapa orang yang memberi sesajen ke buaya, di Sungai Pesanggrahan misalnya,” ujarnya.

Karena dianggap hewan suci, maka buaya dimasukkan ke siklus-siklus kehidupan terpenting dalam masyarakat Betawi, seperti saat menikah.

“Kalau calon mertua dari pihak laki-laki enggak bawa roti buaya akan diusir, karena itu simbol kesetiaan,” kata Rizal menegaskan. Ia juga menyebut, makin keras dan makin besar roti buaya, maka semakin baik. Karena roti itu akan disimpan selamanya.

“Awalnya dipajang di pelaminan, lalu diletakkan di atas lemari pengantin,” ucap Rizal. Karena itu, budaya Betawi yang membiarkan roti buaya dibagi-bagi dan dimakan setelah upacara pernikahan juga salah kaprah. Itu sama saja menyimbolkan pernikahan sang pengantin bakal berantakan, tak setia seperti buaya.

Namun, roti buaya bukan hanya dijadikan simbol kesetiaan antara pria dan wanita. Sebutan buaya juga untuk mereka yang setia memperjuangkan pengentasan terhadap penderitaan masyarakat.

“Karena itu kalau ada yang memberontak demi masyarakat disebut Buaya Betawi, karena dia setia pada masyarakat Betawi,” ujar Rizal lagi.




(rsa/mer)