Tak ada yang istirahat sempurna. Di Jepang, banyak pecandu internet memiliki masalah tidur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Isu ini tak ayal menjadi keprihatinan pemerintah Jepang. Mereka memperkirakan, setidaknya ada 500 ribu remaja yang ketagihan internet.
Pusat-pusat detoks internet akhirnya menjamur di berbagai sudut kota. Mereka menawarkan detoks digital. Sebelum memasuki membuka pintu tempat rehabilitasi tersebut, pengunjung diminta untuk meninggalkan alat elektronik mereka dan menikmati waktu sejenak tanpa telepon genggam, tablet, atau komputer.
Salah satu pasien yang berhasil tahir dari kecanduan internet adalah editor situs majalah Lifehacker, Yoneda Tomohiko. Kepada Al Jazeera, ia menuturkan bahwa sebelumnya ia bisa menghabiskan waktu 15 jam per hari untuk mengarungi internet. Kini, ia tengah menulis buku mengenai pengalamannya memerangi kecanduan internet dan mengapa remaja harus belajar hidup tanpa layar dunia maya.
"Bahkan saat akhir pekan, saat Anda seharusnya beristirahat, jika Anda terhubung dengan internet, Anda tidak benar-benar beristirahat. Orang membutuhkan waktu menjauh dari perangkat digital, tak terhubung dengan internet, lalu kalian dapat menyelami imajinasi dan lebih sering melakukan komunikasi tatap muka," papar Yoneda.
Secara umum, Asia memang memiliki masalah kecanduan internet yang sangat pelik. Pada 2015 lalu misalnya. BBC melaporkan, seorang pria Korea Selatan tewas setelah bermain permainan video selama 50 jam tanpa istirahat. Polisi mengatakan bahwa ia bahkan tidak tidur dan makan dengan baik.
Pada Maret 2010, The Guardian melaporkan bahwa sepasang suami istri dari Korea Selatan membiarkan bayi tiga bulan mati kelaparan sementara mereka malah membeli anak secara daring. Mereka menamakan bayi tersebut Anima, sementara anak kandung mereka tak diberi nama. Ia ditelantarkan di rumah sementara orang tua mereka mengunjungi kafe internet setiap hari.
(mer)