Kisah Pilu Pablo Novak, Pria Paling Kesepian di Argentina

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2015 03:00 WIB
Berbeda dengan orang kebanyakan, Novak justru tak takut sendirian dan tinggal di kota hantu, sebelah barat daya Argentina. Pablo Novak (Dok. CNN)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jalanan sepi dan sunyi bak kota hantu di Epecuen, sekitar 500 km barat daya Buenos Aires, Argentina menggambarkan kesedihan. Bunyi derit sadel sepeda yang usang dan berkarat terdengar nyaring di telinga. Bagaimana tidak, hanya pemilik sepeda tua ini yang jadi satu-satunya orang bernyawa di tempat ini.

"Hanya ini yang tersisa," kata Pablo Novak, kakek berusia 85 tahun, penduduk satu-satunya desa hantu, dikutip dari CNN.

Kota Epecuen muncul kembali pada tahun 2009 lalu, setelah terkubur 33 kaki selama 25 tahun. Air yang merendamnya menguap karena cuaca yang kering.


Kota yang sempat hilang ini sekarang memiliki suasana surealis yang nyata. Pohon-pohon yang dulunya hijau, berubah jadi cokelat dan mati karena proses pengelantangan (sebagai efek air asin yang korosif), bangkai mobil yang berkarat dan nyamuk beterbangan di sekelilingnya.

Sebuah rumah jagal yang terbengkalai dan tepat berada di pintu masuk kota membuat kota bernuansa gothic. Mungkin Anda harus berdoa dengan penuh keyakinan, berharap sosok hantu yang menyeramkan tak muncul dan menghantui Anda di malam hari.

Berbeda dengan orang kebanyakan, Novak justru tak takut sendirian. Ketika air yang merendam kota ini surut, ia kembali ke sana. Ia kembali menjadi salah satu orang paling kesepian di dunia.

"Saya menghabiskan waktu mencari botol wiski 20 tahun, dan akhirnya saya menemukan satu, dan saya bisa minum semuanya sendiri," kata Novak diiringi tanya.

Apa yang terjadi pada Epecuen?

Ketika air secara bertahap merendam kota wisata ini, Novak masih berusia 60 tahun. Saat itu kota ini memiliki populasi sekitar 5000 orang.

Novak tinggal di luar pusat kota Epencuen, bersama dengan sapi, domba dan ayam-ayamnya. "Anda tahu, tak ada ruang yang cukup di pusat kota." katanya.

Tanggal 10 November 1985, hujan lebat mengguyur kota ini setelah bertahun-tahun hujan tak turun. Hujan lebat seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya, menyebabkan bendungan tanah di Lago Epecuen, sebuah danau air asin pun jebol. Air meluap dan membanjiri kota.

Dalam beberapa minggu setelah kejadian tersebut, semua penduduk lokal pun mengemasi barang-barangnya dan berjuang melarikan diri. Kota ini mendadak jadi kota mati.

Namun banjir akhirnya mereda, hanya saja pola cuaca basah jangka panjang jadi terbalik.

Sekitar 20 tahun kemudian, Novak pun kembali ke Epecuen, meski sebagian desa itu masih banjir. Dia menetap di sebuah rumah kosong yang memiliki taman.

"Saya kembali ke sini untuk tinggal bersama ternak saya. Dan saya tidak akan pernah meninggalkannya lagi," katanya.

Hidup sendirian

Setiap harinya, cucu Novak, Christian, datang untuk membantu Novak mengurus dua ekor sapi. Christian juga datang membawa makanan untuk sang kakek.

Saudara-saudara Novak, tinggal di kota tetangga, Carhue, sekitar lima kilometer dari Epecuen.

Awalnya, saudara-saudaranya terkejut dengan keputusannya untuk pindah ke desa hantu itu. Bahkan istrinya saja tak mau ikut. Mereka pun hidup terpisah.

"Mereka ingin saya selalu periksa kesehatan tahunan," katanya. "Tapi sungguh, mereka tak suka datang dan pergi ke tempat yang jauh."

Rumah yang ditinggalinya adalah rumah kecil yang sangat berdebu. Mirip seperti ruang penyimpanan yang penuh kursi berkarat dan tumpukan koran yang berantakan. Di luar rumahnya, sebuah truk berkarat dipakai untuk menyimpan tabung gas kosong.

"Saya terbiasa sendirian," katanya.

Setiap harinya, dia hanya berjalan-jalan bersama anjingnya, Chorno. "Di usia saya sekarang ini, saya hanya menikmati hidup, dengan berjalan melalui reruntuhan Epecuen, berharap bahwa seseorang akan bertanya sesuatu."

Bukan cuma sendirian, tapi Novak juga terbiasa gelap. Di rumah tersebut, ia tak punya listrik. Untuk hidupnya, ia menggunakan kompor kayu untuk merebus air. Sedangkan untuk mengatasi kesepiannya, ia membawa sebuah radio antik pemberian cucunya saat ulang tahun ke-74.

Di dindingnya, tergantung sebuah kalender usang, peninggalan tahun-tahun lama. Kalender tahun 2008 dan 2013 seolah menandakan waktu tampaknya sudah terhenti dalam hidupnya.

Sesaat ia terhenti dan kembali menatap foto-foto masa mudanya di desa tersebut.

"Saya kehilangan harapan," ucapnya.

"Saya pikir mereka akan membangun kembali kota ini, mengingat ketenarannya, tapi tak ada yang punya motivasi untuk melakukannya."

Di masa jayanya, danau asin ini adalah tujuan populer bagi wisatawan dari kota-kota tetangga dan juga Buenos Aires.

Ia bercerita, di sisi kiri dan kanan jalan utama, ada hotel Parque dengan kolam renang yang besar. Di seberang jalan, dia ingat ada semua toko manisan Coradini yang punya roti panggang harum dan hangat, langsung dari oven.

Dia tersenyum saat melewati reruntuhan teater. Dulu, ia selalu menghabiskan malam di sini, menari dengan perempuan muda dari luar kota.

"Saya melihat kota ini lahir dan saya melihatnya mati," kata Novak sembari mengangkat tangannya seperti orang yang menyerah.

(chs/mer)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK