"Kisah yang diangkat harus relevan dan kekinian, sehingga dapat langsung ditangkap," ujar Yudhi di Museum Nasional Indonesia, Jakarta, Minggu (20/9).
Akhir Pekan @Museum Nasional merupakan pementasan teater, sebagai bentuk kerja sama Museum Nasional, Teater Koma dan Dapoer Dongeng untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yudhi mengatakan mereka memerlukan satu setengah sampai dua bulan untuk merampungkan semua. Tak hanya itu, Yudhi mengatakan mereka turut melibatkan psikolog agar apa yang dipentaskan dapat langsung diterima dan dimengerti anak-anak.
"Di saat anak-anak mengerti, (orang) dewasa juga akan mengerti," ucap Yudhi.
Sebagai contoh, Akhir Pekan @Museum Nasional mengangkat tema kemaritiman untuk bulan September. Yudhi mengatakan hal tersebut akibat ramainya pemberitaan poros kemaritiman belakangan.
Minggu siang tadi, mereka mementaskan pertunjukan Berbiduk-Biduk di Langit, Berlayang-Layang di Lautan yang mengisahkan tiga orang pelaut bodoh melalui Wayang Tavip.
Pekan depan (27/9), Akhir Pekan @Museum Nasional akan mementaskan Nina Bobo Si Nona Manis Porto yang mengisahkan hiburan para pelaut pada tahun 1702.
Pementasan akan dilakukan pada pukul 09.00, 10.00, dan 11.00 WIB.
Contoh lainnya adalah pergelaran Ribut-Ribut Si Bumbung dan Si Coak yang digelar Agustus 2014 silam. Bumbung merupakan meriam besar yang digunakan saat perang Spanyol melawan Portugis di Maluku. Sementara Coak adalah meriam kecil yang sering digunakan saat acara kenegaraan.
Bumbung dan Coak menggambarkan koleksi meriam di Museum Nasional. Tapi siapa sangka, itu juga menggambarkan Prabowo Subianto dan Joko Widodo yang sebelumnya tengah bertarung di pemilihan presiden 2014. (win/win)