Guevedoces: Anak Perempuan yang Tumbuh Penisnya di Usia 12

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 22/09/2015 15:13 WIB
Guevedoces: Anak Perempuan yang Tumbuh Penisnya di Usia 12 Ilustrasi anak perempuan. (Pixabay/Pezibear)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di sebuah desa terpencil di Republik Dominika, diperkirakan satu dari 50 anak terlahir sebagai perempuan,  tapi seiring mereka tumbuh organ kelamin mereka tumbuh sebagai laki-laki saat pubertas.

Anak-anak tersebut dikenal sebagai Guevedoces. Jika diterjemahkan, kira-kira artinya adalah 'penis pada usia 12', usia yang merujuk ketika penampilan mereka mulai berubah.

Dilansir dari laman Independent, sebuah dokumenter berjudul Countdown to Life: The Extraordinary Makin of You menjelaskan bahwa kondisi langka tersebut adalah bagian dari rangkaian pertumbuhan.


Johnny, yang dulu dikenal sebagai Felicita, bercerita tentang perjuangannya menghadapi para pengganggu saat perubahan itu muncul. “Mereka mengatakan saya setan, semua hal dan kata-kata buruk, dan saya tidak punya pilihan selain melawan mereka karena mereka sudah kelewat batas,” katanya.

“Saya ingin menikah dan memiliki anak, mendapatkan pasangan yang akan bersama saya melewati peristiwa baik dan buruk.”

Dokumenter tersebut juga menampilkan bocah tujuh tahun bernama Carla, yang dikenal juga sebagai Carlos. Ibu dari Carlos mengatakan, dia melihat perubahan anaknya, dimulai ketika usianya lima tahun. “Saya mencintainya apapun kondisinya. Anak laki-laki atau naka perempuan, tidak ada perbedaan,” kata sang ibu.

Julianne Imperato-McGinley, ahli endokrinologi di Universitas Cornell di Amerika Serikat menyelediki fenomena tersebut pada awal 1970-an. Menurut Lembaga Penelitian Ilmu Pengetahuan Urologis, Guevedoces oleh masyarakat lokal dikenal sebagai Machihembras, yang artinya 'pertama perempuan, lalu laki-laki.

Berdasarkan temuannya, pseudohermafrodit yang ketika lahir tampak seperti perempuan, tapi kemudian, otot-otot, testis dan penis berkembang saat masa pubertas, yang merupakan akibat dari berkurangnya enzim dan 5-alpha Reductase.

Dalam sebuah artikel pada tahun 2005, yang dipublikasikan di Berkley Medical Journal, Elizabeth Kelley menuliskan, setelah penelitian Dr Imperato McGinley, ada laporan bahwa kondisi ini juga umum terjadi di desa Sambian, Papua New Guinea.

Orang-orang lokal di desa itu menyebut anak-anak itu sebagai 'turnims', yang artinya 'diperkirakan menjadi laki-laki'.

Para ahli medis perlu mengkonversi testosteron menjadi dihydrotestosterone (DHT) yang aktif secara biologis. Tanpa prosedur tersebut, alat kelamin eksternal akan muncul mirip dengan klitoris perempuan dan labia.

“Masyarakat Sambian melihat anak-anak itu sebagai laki-laki yang cacat. Anak-anak itu ditolak dan dipermalukan oleh keluarga dan masyarakat mereka,” kata Kelley.

Di sisi lain, di Republik Dominica, anak-anak yang lahir dengan kondisi pseudohermafrodit diterima sepenuhnya, dan perubahan fisik anak menjadi laki-laki selama masa pubertas disambut dengan perayaan gembira.”

(win/utw)