Botoks Bisa untuk Pemulihan Operasi Payudara

Windratie, CNN Indonesia | Rabu, 07/10/2015 14:35 WIB
Botoks Bisa untuk Pemulihan Operasi Payudara Botoks(Ilustrasi/Getty Images)
New York, CNN Indonesia -- Botoks ternyata tidak hanya bermanfaat bagi kulit wajah tetapi bisa juga digunakan untuk menyempurnakan payudara.

Seorang ahli bedah plastik kota New York merintis satu metode mempergunakan botulinum untuk mempercepat proses penyembuhan lebih baik bagi pasiennya yang menjalani operasi payudara.

“Metode ini masuk akal bagi saya,” kata Matthew Schulman, yang mempergunakan Botoks pada sekitar 500 pasiennya, seperti dikutip dari laman NY Daily News.


Metode ini sangat sederhana: Satu operasi pembesaran payudara mengharuskan dokter membedah otot dada perempuan sebelum mengangkatnya dan mengganti dengan implan.

Tetapi, sebagian rasa sakit yang diderita pasien muncul ketika otot-otot itu dalam proses penyembuhan. Dengan menyuntikkan Botoks ke daerah tertentu, waktu penyembuhan menjadi cepat.

Banyak dokter mempergunakan Valium, obat anti cemas yang juga melemaskan otot, tetapi obat ini masuk dalam aliran darah sehingga berdampak pada seluruh tubuh. Sebaliknya, Botoks hanya beredar di sasaran suntikannya saja.

Selain itu, Botoks juga mencegah payudara yang baru dibesarkan tampak terlalu “ranum”. Biasanya, implan payudara terletak terlalu tinggi setelah operasi hingga otot dibawahnya menjadi lemas secara alami. Dengan metode ini, Botoks membantu implan turun dengan cepat.

Botoks digunakan secara luas untuk wajah sejak 1990an, tetapi Schulman mengaku dia adalah dokter bedah plastik pertama yang mulai mempergunakannya sebagai standar prosedur dalam operasi kosmetik payudara.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Federal Amerika Serikat atau FDA mengatur bahwa Botoks adalah pengobatan untuk keriput atau gejala penuaan lain di sekitar alis, bibir dan leher. Tetapi ahli bedah bisa mempergunakannya tanpa menyebut label itu sesuai kebutuhan masing-masing.

Schulman pun telah berbagi teknik tersebut dengan dokter lain.

“Saya tidak memerlukan kerahasiaan,” katanya.

Dampak negatif dari prosedur ini adalah tambahan biaya sekitar US$500 atau sekitar Rp7 juta, namun Schulman mengatakan dokter lain menawarkan harga yang lebih murah lagi. (yns)