Jakarta Fashion Week 2016

Tak Ada Stiletto di Panggung Tex Saverio

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Minggu, 25/10/2015 03:15 WIB
Tak Ada Stiletto di Panggung Tex Saverio Model membawakan busana karya perancang Tex Saverio dalam Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 di Jakarta, Sabtu, 24 Oktober 2015. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gelaran pekan mode bergengsi, Jakarta Fashion Week (JFW) 2016 kembali digelar. Usai pembukaan di Atrium Senayan City, kemarin, panggung Jakarta langsung dibanjiri koleksi teranyar dari para desainer. Mereka menyuguhkan rangkaian busana yang akan menjadi acuan tren tahun mendatang.

Salah satu agenda yang paling dinanti di hari pertama JFW 2016 adalah Tex Saverio.  

Kendati belum genap lima tahun berkiprah di belantika mode Indonesia, nama Tex atau Rio, begitu dia biasa disapa, sudah berkibar ke seantero jagat. Koleksinya bahkan pernah digunakan Lady Gaga, Jennifer Lawrence, Kim Kardashian dan penyanyi Jepang, Ayumi Hamasaki.  


Maka, wajar saja jika Fashion Tent Senayan City, yang menjadi panggung utama pergelaran mode terbesar di Indonesia itu, padat oleh para fashionista. Semua ingin menjadi yang pertama menyaksikan persembahan terbaru Rio.  

Desainer kelahiran tahun 1984 ini, dikenal sebagai ‘Alexander McQueen’-nya Indonesia. Alasannya, karena rancangan Rio selalu penuh lewah. Koleksinya adalah adibusana. Seni dalam bentuk mode.  

Tapi di panggung JFW 2016, Rio justru tampil sederhana. Dia ‘meredam’ semua keganasannya dalam berfantasi untuk lini adibusananya. Sementara di hari pertama JFW, Rio menghadirkan lini difusi terbarunya, TXID.  

Satu hal yang langsung menarik perhatian saat pertunjukkan dimulai adalah absennya sepatu hak tinggi alias stiletto yang biasanya selalu menemani para model di catwalk.  Sebagai gantinya, mereka berparade menggunakan sandal dan sepatu boots ala grunge.  

Pun dengan busananya. Hilang sudah rok dan gaun panjang menyapu lantai, yang ada, kemben, bralet, celana ketat, rok pendek, bolero serta jaket bomber. Semua dikemas dalam warna dominan hitam atau biru. Gayanya juga kontras. Tidak lagi menyuguhkan ‘gaun pengantin api’ ala Katniss Everdeen atau bustier mewah yang dikenakan Lady Gaga, TXID adalah kombinasi dari nafas atletis, punk, grunge serta biker chic.

Rio dengan piawai membungkus semua itu dengan kemasan andogyny, yang membaurkan garis feminin dan maskulin.
 

Oleh karena itu, para model, kendati semuanya perempuan, terlihat maskulin. Rambut ‘klimis’, wajah terlihat bersih dari make up, dan langkah mereka tegas. Di lengan dan paha yang tidak tertutup baju, tampak tato berupa barcode serta tulisan ‘what eva’ yang mewakili simbol kebebasan berekspresi. 

Sebagai ‘pemanis’, Rio juga bermain dengan motif cetak. Grafis garis nan abstrak menjadi perhatian utama yang membuat rancangan TXID menonjol, meski tak seheboh gaun milik Katniss. 

(les/les)