Mengais Rejeki Dari 'Therasi Sambal' dan 'Hetty Koeslamdunk'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 23/10/2015 12:00 WIB
Kamengski menjadi brand yang digandrungi kaum muda berkat jargon segar dan desain keren. Topi Nike Ardilla kreasi Kamengski (Instagram/Kamengski)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari iseng karena tidak mampu membeli barang bermerek terkenal, karya Sulaiman Said atau yang terkenal di Instagram dengan nama Kamengski ini, justru banyak digandrungi anak muda. 

Karyanya cenderung nyeleneh. Seperti pada sebuah topi dengan tulisan NIKE, mirip sebuah topi dari merek terkenal legkap dengan simbolnya yang tak asing.  Namun bila ditelisik, ada tulisan 'Ardilla' di bawah 'NIKE'. Bila keduanya digabung, akan menjadi Nike Ardilla, nama penyanyi asal Bandung yang sempat populer di era awal 90an, namun di tengah ketenarannya, ia meninggal karena kecelakaan. 

Lainnya, ada brand para skater, ‘Thrasher’, yang dipelesetkan menjadi ‘Therasi Sambal’, atau ‘Reebok’ yang diparodikan jadi ‘Robeek’. Begitu juga dengan brand ‘Mitsubishi’ yang berubah jadi ‘Mustibisha’. 


Kreasi unik Kamengski bukan hanya sedap dipandang, tapi punya nilai lebih karena mengundang tawa, lewat jargon yang dekat dengan keseharian anak muda. Sebut saja logo legendaris ‘Star Wars’ yang dia pelesetkan jadi ‘Setelan Warteg’ atau ‘Slam Dunk’ yang mendadak nyempil di nama penyanyi keroncong kenamaan Hetty Koes Endang, menjadi ‘Hetty Koeslamdunk’. 

"Awalnya saya gunakan label-label terkenal karena saya tidak mampu membeli barang-barang mereka, dan saya pikir saya dapat membuat hal yang sama," kata Sulaiman saat berbincang dengan CNN Indonesia di Southbox Prapanca Jakata Selatan, belum lama ini. 

"Tadinya cuma becandaan saat nongkrong, tapi kalau sekedar jadi becandaan kan berlalu begitu saja. Ini dibuat secara visual dan dapat bertahan lebih lama," ujarnya. 

Namun ia tak ingin menggunakan label nama yang sama persis. Sebagai lulusan Desain Grafis Institut Kesenian Jakarta, Kamengski paham betul kerugian dari pembajakan. Maka, ia memutar otak menggabungkan beberapa label atau ikon terkenal menjadi sebuah ikon yang baru. 

Keisengan itu terinspirasi dari kesenian parodi yang biasanya menyindir ataupun menertawakan sebuah kondisi. Salah satu yang membuat Sulaiman terinspirasi adalah grup parodi asal Bandung, P-Project. Grup yang terkenal pada dekade 90an tersebut banyak menggunakan lagu terkenal untuk kemudian diparodikan. 

Hasil parodi ala Sulaiman rupanya memiliki keberuntungan yang sama dengan karya P-Project, banyak orang menyukainya. Bermula dari iseng mengunggah ke media sosial, hingga akhirnya banjir permintaan. 

"Saya berpikir, kalau saya buat sendiri dapat lebih murah. Jadinya barang yang bagusnya sama tapi dengan harga yang lebih murah. Label besar itu kebanyakan juga buatnya di negara dunia ketiga seperti Indonesia," kata Sulaiman. 

Bermodal koneksi teman yang memiliki usaha konveksi dan Rp200 ribu, Sulaiman pun mulai membuat beraneka macam produk dengan desain yang sudah ia buat mulai dari kaos, topi, hingga tas. Pesanan pun terus mengalir.

Meski mengaku tak pernah memikirkan hitungan omset per bulannya, Sulaiman setidaknya memiliki margin keuntungan hingga 100 persen dari setiap produk yang ia ciptakan.
 

Berkat Media Sosial 

Sulaiman tak memiliki kiat khusus hingga barangnya terkenal seantero Indonesia. Tapi nyatanya, barang produksi Kamengski sudah sampai Papua, walaupun ongkos kirimnya tak murah.

Sulaiman tak menggunakan promosi jenis apapun untuk produknya, semua karena media sosial.
 

Namun karena bisnisnya menuai semakin banyak permintaan. Maka, ia akan menjalaninya sembari terus berkarya menggambarkan imajinasi demi imajinasi parodi yang ada di otaknya. 

"Sekarang sudah terlanjur nyemplung, kalau mulai lagi, susah, ya jalani saja," kata Sulaiman.  (les/les)