Ada 'Bayi Jangkung' di Kebun Binatang Singapura

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 14:45 WIB
Bayi jerapah itu merupakan yang pertama lahir di Kebun Binatang Singapura, setelah 28 tahun. Bayi jerapah paling tinggi di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore)
Jakarta, CNN Indonesia -- Jika Anda berencana mengunjungi Singapura dalam waktu dekat, tidak ada salahnya berkunjung sejenak ke Singapore Zoo. Di kebun binatang kebanggaan Negeri Singa tersebut, baru saja lahir seekor bayi jerapah.  

Bayi jerapah berjenis kelamin jantan itu merupakan yang pertama kali lahir setelah 28 tahun.

Bayi tersebut lahir pada malam Halloween, tepatnya tanggal 31 Oktober, dari pasangan jerapah betina Roni dan si jantan Growie.
Pasangan jerapah yang menjadi penghuni Singapore Zoo pada 2005 dari Israel dan Belanda.
Bayi jerapah di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore)
Dalam rilis yang diterima CNN Indonesia, Kamis 12 November, disebutkan bahwa bayi jerapah itu merupakan ‘bayi istimewa’ karena menjadi yang paling tinggi dari semua bayi-bayi hewan di Singapore Zoo.  


Kendati masih terbilang imut jika dibandingkan dengan induknya, si bayi jerapah itu tingginya 1,9 meter saat lahir. Di usia dua minggu, dia pun semakin bertambah tinggi. Pengukuran terakhir, menunjukkan si bayi yang belum punya nama panggilan itu, punya tinggi 2,3 meter.  

Saat ini, bayi jerapah imut itu bisa dikunjungi di zona Wild Africa.  

Selama beberapa bulan, pengelola Singapore Zoo akan memisahkan si bayi dan induknya dari sisa kawanan yang lain. Hal itu bertujuan agar terjadi ikatan yang lebih kuat antara induk dan bayinya, sehingga bayi jangkung itu bisa mendapat cukup nutrisi sang induk. 

Seiring berjalannya waktu, induk dan bayinya akan diperkenalkan ke kawanan, termasuk pada sang ayah, Growie serta Lucy, betina senior di kawanan Jerapah Singapore Zoo. 

Kini, di habitatnya di Singapore Zoo, pengunjung bisa melihat si bayi jangkung mengikuti induknya kemana-mana, atau tengah mengunyah dedaunan di pohon tinggi, juga sayuran yang disediakan pengelola. Sesekali, si bayi pun tampak berlari-lari, yang jadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. 

“Bayi hewan selalu jadi kebahagiaan baru di Singapore Zoo karena itu sekaligus jadi indikasi positif manajemen kami. Kelahiran bayi menandakan hewan-hewan merasa nyaman dan aman untuk berkembang biak,” kata Dr Cheng Wen-Haur, Chief Life Sciences Officer, Wildlife Reserves Singapore. 
Bayi jerapah dan induknya di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore
Selain itu, Wen-Haur berharap kehadiran si bayi jangkung bisa mendongkrak kunjungan ke Singapore Zoo dan sekaligus memicu rasa penasaran masyarakat akan jerapah. Singapore Zoo juga berencana mengadakan kontes untuk memberi nama pada si bayi jerapah. 

Jerapah termasuk dalam daftar IUCN, atau daftar merah binatang yang terancam punah akibat perusakan habitat dan alih fungsi lahan. Tidak hanya itu, di Afrika, jerapah masih banyak diburu untuk daging, kulit dan ekor mereka.  

Ekor jerapah dipercaya sebagai jimat keberuntungan, sementara helaian rambut ekornya, kerap digunakan sebagai benang jahit untuk kerajinan manik-manik. Adapun kulitnya digunakan sebagai mantel.   (les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK