Bayi jerapah berjenis kelamin jantan itu merupakan yang pertama kali lahir setelah 28 tahun.
Bayi tersebut lahir pada malam Halloween, tepatnya tanggal 31 Oktober, dari pasangan jerapah betina Roni dan si jantan Growie. Pasangan jerapah yang menjadi penghuni Singapore Zoo pada 2005 dari Israel dan Belanda.
Bayi jerapah di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, bayi jerapah imut itu bisa dikunjungi di zona Wild Africa.
Selama beberapa bulan, pengelola Singapore Zoo akan memisahkan si bayi dan induknya dari sisa kawanan yang lain. Hal itu bertujuan agar terjadi ikatan yang lebih kuat antara induk dan bayinya, sehingga bayi jangkung itu bisa mendapat cukup nutrisi sang induk.
Kini, di habitatnya di Singapore Zoo, pengunjung bisa melihat si bayi jangkung mengikuti induknya kemana-mana, atau tengah mengunyah dedaunan di pohon tinggi, juga sayuran yang disediakan pengelola. Sesekali, si bayi pun tampak berlari-lari, yang jadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
“Bayi hewan selalu jadi kebahagiaan baru di Singapore Zoo karena itu sekaligus jadi indikasi positif manajemen kami. Kelahiran bayi menandakan hewan-hewan merasa nyaman dan aman untuk berkembang biak,” kata Dr Cheng Wen-Haur, Chief Life Sciences Officer, Wildlife Reserves Singapore.
Bayi jerapah dan induknya di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore |
Jerapah termasuk dalam daftar IUCN, atau daftar merah binatang yang terancam punah akibat perusakan habitat dan alih fungsi lahan. Tidak hanya itu, di Afrika, jerapah masih banyak diburu untuk daging, kulit dan ekor mereka.
Ekor jerapah dipercaya sebagai jimat keberuntungan, sementara helaian rambut ekornya, kerap digunakan sebagai benang jahit untuk kerajinan manik-manik. Adapun kulitnya digunakan sebagai mantel. (les)
Bayi jerapah di Singapore Zoo (
Bayi jerapah dan induknya di Singapore Zoo (Dok. Wildlife Reserves Singapore