'Kota Biru' Romantis Tepi Laut Maroko

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Jumat, 20/11/2015 12:41 WIB
'Kota Biru' Romantis Tepi Laut Maroko Pemandangan malam hari di kota biru (Thinkstock/Mikhail Markovskiy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu kesenangan sendiri ketika bisa melihat pemandangan indah dengan tambahan latar belakang pemandangan rumah kota yang berwarna-warni. Layaknya pemandangan rumah bercat warna-warni di Busan, atau rumah putih biru di Santorini.

Namun bagaimana dengan kota biru? Sudah pernah mengunjunginya? Adalah chefchaouen, sebuah kota di barat laut Maroko yang terkenal karena arsitektur kotanya yang berwarna biru terang. Bangunan dan rumah-rumah bergaya vintage di pusat kotanya benar-benar tertutup cat biru. Sekilas kota ini mirip dengan kota para avatar.

Mengutip House Beautiful, Chefchaouen sering disingkat sebagai Chaouen. Kota ini disebut demikian karena kota di pegunungan ini menyerupai tanduk kambing. Chefchaouen sendiri berarti lihatlah tanduk itu.


Mengapa semuanya biru?

Thinkstock/pierivb
Semua bangunan dan rumah di kota ini semuanya dicat dengan warna biru. Ini bukan karena salah satu pejabat kotanya suka dengan warna biru.

Warna biru di kota ini ternyata sudah menjadi tradisi dalam masyarakatnya. Selama abad ke-15 inkuisisi Spanyol, kaum sephardim Yahudi berlindung di kota ini. Mereka pun mengecat rumahnya dengan menggunakan bubuk berwarna biru. Kemungkinan ini disebabkan karena biru dalam agamanya melambangkan warna suci.

Di dalam kotanya, mobil tak diperbolehkan ada di jalan-jalan sempit. Penduduknya pun menjual barang-barang di pasar terbuka, sebuah pasar tradisional. Pigmen atau cat bubuk berwarna biru ini juga dijual di pasar setiap musim semi tiba. Cat ini dijual agar penduduk bisa mewarnai kembali rumahnya.

Saat ini, kota kecil yang mirip kota kuno ini sudah menjadi salah satu tujuan wisata para wisatawan asing. Kota ini juga menjadi tujuan belanja yang populer. Penduduknya banyak yang menjual wol, pakaian dan selimut tenun. Kota ini juga terkenal dengan keju kambingnya lokalnya.

Thinkstock/antonyshum


(chs/les)