Cari Uang Sembari Wisata dengan Open Trip

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 07/12/2015 06:15 WIB
Cari Uang Sembari Wisata dengan Open Trip Ilustrasi wisatawan. (Thinkstock/michaeljung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berawal dari lamunan mencari ilham untuk mendapatkan pemasukan tambahan pada Maret 2014, Hani yang kala itu baru lulus kuliah memutuskan membuka usaha baru yang berawal dari hobinya berwisata, open trip. Tak disangka, usaha wisata kecil-kecilan itu kini menjamur di kalangan anak muda urban sebagai pilihan untuk 'kabur' dari penatnya aktivitas dalam sepekan.

Hani, seorang karyawati swasta di Jakarta, sebelumnya sempat membuka usaha dengan berjualan pempek di dekat sebuah mini swalayan. Namun, usaha tersebut gagal karena dia harus terus mengecek ke lokasi sehabis kerja dan ia pun bosan dengan usaha itu.

"Di saat teman-teman pada ngomongin sale dan main, saya malah mikir bagaimana caranya dapat uang lagi, dan mereka biasanya bete kalau saya sudah memikirkan masa depan," kata Hani sembari tertawa ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com. "Lalu ada yang nyeletuk, 'Hani kan lo suka jalan-jalan, kenapa nggak buka travel?'. Saya tadinya tidak yakin untuk itu," lanjutnya.


Bukan tanpa alasan Hani merasa ia tak yakin menjalani usaha travel, karena menurutnya usaha jenis itu membutuhkan teknik komunikasi yang baik dan harus selalu ramah dengan pelanggan. Sedangkan ia mengaku moody. Namun berbekal pengalaman sebagai peserta open trip, dia pun lantas membuka jalur perdananya.

Hani memilih tiga pulau di Kepulauan Seribu, yaitu Pulau Onrus, Pulau Cibir, dan Pulau Elor, sebagai destinasi pertamanya. Ia pun mengurus semuanya sendiri dan hanya bermodalkan publikasi di media sosial. Tak sangka, terkumpul 75 orang sebagai peserta perdananya, dan ia tak kenal satu pun.

"Saya waktu itu mikir, 'Anjir! 75 itu beneran orang semua? Gue harus ngomong apa?' Ya sudah dijalani saja, yang penting ramah dan akhirnya berhasil," kata Hani. "Saya sengaja pasang harga murah agar peserta bisa menjadi langganan."

Strategi Hani kurang lebih berhasil. Kini tur yang ia beri nama Bima Tour Travel setidaknya memiliki puluhan pelanggan tetap yang setia untuk ikut open trip yang ia sediakan. Walaupun, ia mengaku sangat sulit mengingat nama pelanggannya satu per satu.

Usaha open trip yang telah ia jalani, kini telah menyambangi berbagai tempat wisata di Indonesia, seperti Dieng, Pulau Pahawang, Kepulauan Seribu, Bromo, dan Belitung. Open trip yang ia buka biasanya dilakukan sebulan sekali karena dia pun harus menyesuaikan jadwal kerjanya yang padat. Selain itu, ia selalu berusaha untuk mengalami pengalaman trip sebelum ia tawarkan ke pasar.

"Saya belum berani bekerja sama dengan pihak lain bila belum ngerasain sendiri. Sebagai tour leader saya harus sudah pernah ke sana. Karena ini terkait dengan kualitas, lagipula bila ada apa-apa, pelanggan selalu komplain ke saya walaupun ada tour leader saya di dalam rombongan," kata Hani.

Atas nama kualitas, maka Hani pun selalu rela 'blusukan' menjelajah daerah-daerah baru yang akan ia jadikan target wisata berikutnya. Tak ayal, ia harus tanya dan negosiasi sana-sini untuk mendapatkan fasilitas yang ia anggap layak dibeli oleh pelanggannya. Dalam bisnis open trip, operator memang harus bekerja sama dengan orang setempat dalam pengadaan fasilitas penunjang.

"Biasanya saya tahu dari sosmed, kan ada akun-akun lokal tuh, nah saya minta rekomendasi. Pas sudah di sana, wah saya sudah kayak emak-emak deh, tanya ini-itu, nyatet harga, nego, minta diskonan," kata Hani sembari tertawa.

Saingan Antar Operator

Teknik Hani untuk tetap mempertahankan kualitas adalah salah satu kunci agar ia tetap bertahan di bisnis yang semakin lama makin banyak bertebaran. Hani pun mengakui gesekan antar operator travel tak dapat dipungkiri terjadi di lapangan.

"Saya selalu mematok harga yang tidak mahal sekali, tetapi juga tidak terlalu murah. Misal yang lain memasang Rp600 ribu untuk suatu tujuan, saya memasangnya Rp575 ribu. Ada memang yang sangat murah, tetapi fasilitasnya dikurangi dan itu sangat mematikan harga dari operator travel lain," tutur Hani.

Tapi Hani tak ambil pusing. Berbekal pengalamannya, ia percaya bila seorang pelanggan sudah nyaman dengan pelayanan berkualitas, maka ia akan kembali lagi. Pun selama ini dirinya mengaku tak pernah mengalami defisit, walaupun beberapa kali dirinya harus rela mengeluarkan anggaran lebih karena suatu masalah.

Hani mengaku pendapatannya ketika high season seperti Agustus dan Desember, dapat berkali-kali lipat,  setidaknya tiga kali, dibandingkan gajinya dari pekerjaan kantoran. Panen keuntungan itu bukan hanya dirasakan olehnya, tetapi juga anggota timnya yang lain.

"Banyak operator lain yang nyindir bahwa saya menekan terlalu rendah harga dari orang lokal, padahal saya juga tidak tahu kenapa orang-orang lokal memberi saya harga yang lebih murah dan sejauh ini mereka memberikan pelayanan yang bagus," kata Hani.

"Tapi saya juga sebal bila ketemu pelanggan yang bertanya harga hanya sekedar membandingkan mana yang lebih murah. Permasalahannya, banyak juga teman saya yang hanya menggantungkan penghasilannya dari usaha ini, jadi otomatis mahal," kata Hani. "Saya kalau ketemu pelanggan yang hanya membandingkan mana yang murah, saya katakan 'silakan pakai yang termurah'."

Ucapan Hani memang terkesan galak, namun ia mengakui selalu jujur dalam mengungkapkan kondisinya. Pernah suatu kali ia mengkritik tawaran destinasi baru kepadanya karena ia anggap bahwa destinasi baru itu lebih banyak nyamuk ketimbang objek wisata.

Hani bukan hanya mengadakan open trip bagi para pekerja ibukota yang ingin melarikan diri dari kepenatan, tetapi juga menyediakan jasa outing bagi perusahaan. Hani mengakui mengelola outing atau kegiatan liburan sebuah perusahaan ini sangat menambah pendapatannya. Ia cukup menanyakan kebutuhan perusahaan dan sisanya biarkan Hani dan tim yang mengatur jadwal.

Ia pun memiliki segudang rencana marketing dalam mengembangkan usahanya ini, termasuk mempromosikan secara off-line melalui brosur. Namun, lantaran dirinya juga menjadi karyawan, ia masih belum sempat mengerjakan rencananya itu. Termasuk menjalani berbagai survei guna memenuhi permintaan jalur open trip dari pelanggan yang membanjiri teleponnya.

Hani beruntung memiliki pelanggan yang mengerti kondisinya. Bahkan, Hani pernah menolak permintaan pelanggan karena ia dan timnya sedang sibuk dengan pekerjaan lain sehingga tak dapat memenuhi permintaan. Tapi sang pelanggan mengerti meski tetap kukuh menggunakan jasa Hani, akhirnya, Hani mengutus rekannya di daerah guna memenuhi kemauan klien.

Membantu Masyarakat Lokal

Hani mengaku bahwa usaha open trip yang ia lakukan sangat membantu masyarakat lokal. Dengan keberadaan ia dan travel tour lainnya membuka destinasi baru di daerah dan merekrut masyarakat lokal, maka akan memberikan sumber pendapatan bagi mereka.

"Asal tahu saja, sejak buka open trip ini, yang menelpon saya bukan lagi gebetan-gebetan. Tapi tukang kapal, tukang ELF, tukang bus! Mereka biasanya menelpon di tengah pekan bertanya akankah saya bawa pelanggan ke sana, mereka kan kasarnya sudah bergantung ke saya juga," kata Hani.

Jika sudah menerima telepon semacam itu, Hani langsung sibuk mencari peserta. Terkadang Hani merasa terbebani, tapi di sisi lain, dia juga ingin membantu. "Tapi sejauh ini saya tulus membantu mereka juga. Makanya suka jengkel kalau dicurangi orang lokal, sudah tulus kok malah dicurangi. Ya saya tidak pakai lagi jasanya," kata dia. 

Usaha Hani bukan tanpa pengorbanan. Saat ini dia tercatat sebagai karyawan sebuah perusahaan swasta. Selalu ada kekhawatiran bahwa usaha open trip ini akan membuat kinerjanya menurun. Namun sejauh ini, pihak perusahaan belum berkata apapun walaupun mengetahui usaha sampingan Hani ini.

"Entah kenapa saya sayang banget dengan usaha ini dan sangat happy bila berbicara soal ini," kata Hani. "Ya sebagai travel agent sih saya sebenarnya muak dengan destinasi yang itu-itu saja, makanya buka destinasi baru. Lagipula semakin banyak juga travel tour yang sebelumnya peserta open trip juga, tapi sejauh ini tidak masalah rezeki orang beda-beda," lanjutnya sembari tersenyum. (les/les)