Tradisi Resolusi Sudah Ada 4000 Tahun Lalu

Tri Wahyuni, CNN Indonesia | Jumat, 01/01/2016 14:57 WIB
Tradisi Resolusi Sudah Ada 4000 Tahun Lalu Ilustrasi tahun baru. (Thinkstock/Thomas Northcut)
Jakarta, CNN Indonesia -- Momen tahun baru biasa dimanfaatkan orang sebagai momen untuk melakukan perubahan. Tak sedikit orang yang sudah menyusun rencana perbaikan hidup dengan beragam target sebagai bentuk resolusi dibawal tahun.

Kebiasaan membuat resolusi awal tahun ternyata telah berlangsung sejak 4 ribu tahun lalu. Kebiasaan ini pertama kali dimulai oleh masyarakat Babilonia.

Dikutip dari History, awalnya, masyarakat Babilonia selalu membuat perjanjian dengan para dewa untuk membayar hutang-hutang dan mengembalikan semua barang yang mereka pinjam. Tradisi ini biasa dilakukan saat Festival Akitu, sebuah festival yang digelar ketika masyarakat Babilonia memilih raja barunya atau menegaskan loyalitas mereka terhadap pemerintahan rajanya.


Perjanjian ini kemudian menjadi cikal bakal dimulainya resolusi tahun baru. Jika masyarakat Babilonia menepati janjinya, para dewa akan memberkati mereka di tahun berikutnya. Tapi, jika tidak mereka tidak akan mendapatkan berkat dari para dewa.

Tradisi yang sama juga dilakukan pada zaman Romawi Kuno, setelah Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai awal tahun baru.

Bulan Januari sendiri merupakan sesuatu yang spesial untuk bangsa Romawi. Nama bulan itu diambil dari nama dewa yang bernama Janus. Dia merupakan dewa yang memiliki dua sisi wajah.

Wajah yang menghadap ke depan dipercaya melambangkan masa lalu dan wajah yang menghadap ke depan jadi simbol masa depan. Bangsa Romawi pun membuat perjanjian untuk melakukan hal-hal yang baik untuk tahun berikutnya.

Bagi kaum Nasrani kuno, hari pertama di tahun baru juga dijadikan tradisi untuk memikirkan kesalahan-kesalahan di masa lalu dan menyelesaikannya serta bertekad untuk lebih baik lagi di kedepannya.

Pada 1740, pendeta Inggris bernama John Wesley yang merupakan penggagas doktrin gereja Metodis membuat covenant renewal service yang biasa diselenggarakan pada malam tahun baru dan hari pertama di tahun baru dengan membaca Kitab Injil dan bernyanyi. Kegiatan tersebut biasanya juga disertai dengan doa-doa dan membuat resolusi untuk tahun berikutnya.

Namun, kini, membuat resolusi tidak hanya dilakukan untuk ritual keagamaan karena tradisi sudah bergeser. Resolusi tahun baru kini bisa dilakukan oleh siapa saja.

Membuat resolusi pun tidak lagi menjadi perjanjian dengan Tuhan atau dewa, tapi lebih fokus kepada perbaikan diri sendiri. Meskipun pada akhirnya, sebagian dari resolusi awal tahun ternyata tidak terencana.

Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa hanya dekapan persen orang dari peserta penelitian yang sukses mewujudkan resolusinya dan mencapai tujuan mereka. Padahal ada sekitar 45 persen peserta penelitian yang mengaku kerap membuat resolusi awal tahun. (les/les)