Gaya Nelayan Jadi Incaran Penggila Fesyen
Vega Probo | CNN Indonesia
Rabu, 27 Jan 2016 11:58 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Gaya nelayan di Barat kini tengah menjadi sorotan pemuja fesyen, khususnya pria. Beanie, jumper, scarf yang biasa mereka kenakan kini bisa dijumpai di butik terkenal seperti Topman, juga butik online Asos.
Sebagaimana dikabarkan laman Guardian, baru-baru ini, gaya keseharian pekerja, termasuk “seragam” nelayan, memang menarik diikuti dengan padu padan baru. Salah satu alasannya, karena terlihat gagah.
Topman, misalnya, meluncurkan empat model fishermen jumper. Asos menawarkan fisherman hat, seperti beanie. Baja East meluncurkan fisherman scarf. Loewe tak ketinggalan merilis celana panjangnya.
Sekalipun garisnya sederhana, namun harga busana ala nelayan bagi kalangan atas ini tak main-main. Fisherman scarf merek Baja East dibanderol harga selangit lebih dari seribu poundsterling, hampir Rp20 juta.
Perancang busana Christopher Raeburn juga meluncurkan gaya nelayan untuk koleksi musim gugurnya. Begitu pula produsen merek terkenal di Scandinavia, macam Norse Projects, Our Legacy and Soul Lands.
Tak hanya pria, ada juga busana gaya nelayan untuk wanita. Vogue memopulerkan rajutan Aran yang merupakan gaya klasik nelayan di Barat. Busana rajutan Aran tersedia di butik Jigsaw, Isabel Marant dan Michael Kors.
Aslinya, rajutan ini biasa dibuat oleh istri nelayan Kepulauan Aran, Irlandia. Lanolin alami wol membuat rajutan ini antiair. Seorang anak nelayan menyatakan kepada Guardian, “Rajutan ini menahan bau amis ikan.”
“Rajutan ala nelayan sedang menjadi incaran, seperti garis-garis Breton atau motif Fair Isle. Biasanya diluncurkan pada musim gugur atau dingin,” kata Volker Ketteniss, petinggi seksi busana pria ramalan tren WGSN.
“Ada tren kuat untuk tekstur kain dan materi busana klasik pria pada saat ini yang memicu penemuan ulang nan kreatif,” kata Ketteniss, dikutip Guardian. Hal senada disampaikan Adrian Clark, pengarah gaya Shortlist.
“Saya memprediksi rajutan model baru dan eksperimental bakal menjadi tren musim mendatang,” kata Clark, dikutip Guardian. Sementara itu, para nelayan asli malah terbengong-bengong mengetahui gayanya jadi tren.
“Kami tidak terlalu memikirkan apa yang kami kenakan. Yang penting sesuai pekerjaan,” kata Nigel, John Trewin and Danny Phillips, nelayan asal Cadgwith, Inggris. Mereka biasa membeli pakaian via toko online.
Yang jelas mereka mengenakan busana tebal, macam rajutan, untuk menahan hawa angin dan terpaan angin di tengah perairan ganas. Begitu juga topi beanie digunakan untuk melindungi kepala sampai telinga agar tetap hangat. (vga/vga)
Sebagaimana dikabarkan laman Guardian, baru-baru ini, gaya keseharian pekerja, termasuk “seragam” nelayan, memang menarik diikuti dengan padu padan baru. Salah satu alasannya, karena terlihat gagah.
Topman, misalnya, meluncurkan empat model fishermen jumper. Asos menawarkan fisherman hat, seperti beanie. Baja East meluncurkan fisherman scarf. Loewe tak ketinggalan merilis celana panjangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perancang busana Christopher Raeburn juga meluncurkan gaya nelayan untuk koleksi musim gugurnya. Begitu pula produsen merek terkenal di Scandinavia, macam Norse Projects, Our Legacy and Soul Lands.
Tak hanya pria, ada juga busana gaya nelayan untuk wanita. Vogue memopulerkan rajutan Aran yang merupakan gaya klasik nelayan di Barat. Busana rajutan Aran tersedia di butik Jigsaw, Isabel Marant dan Michael Kors.
Aslinya, rajutan ini biasa dibuat oleh istri nelayan Kepulauan Aran, Irlandia. Lanolin alami wol membuat rajutan ini antiair. Seorang anak nelayan menyatakan kepada Guardian, “Rajutan ini menahan bau amis ikan.”
“Rajutan ala nelayan sedang menjadi incaran, seperti garis-garis Breton atau motif Fair Isle. Biasanya diluncurkan pada musim gugur atau dingin,” kata Volker Ketteniss, petinggi seksi busana pria ramalan tren WGSN.
“Ada tren kuat untuk tekstur kain dan materi busana klasik pria pada saat ini yang memicu penemuan ulang nan kreatif,” kata Ketteniss, dikutip Guardian. Hal senada disampaikan Adrian Clark, pengarah gaya Shortlist.
“Saya memprediksi rajutan model baru dan eksperimental bakal menjadi tren musim mendatang,” kata Clark, dikutip Guardian. Sementara itu, para nelayan asli malah terbengong-bengong mengetahui gayanya jadi tren.
“Kami tidak terlalu memikirkan apa yang kami kenakan. Yang penting sesuai pekerjaan,” kata Nigel, John Trewin and Danny Phillips, nelayan asal Cadgwith, Inggris. Mereka biasa membeli pakaian via toko online.
Yang jelas mereka mengenakan busana tebal, macam rajutan, untuk menahan hawa angin dan terpaan angin di tengah perairan ganas. Begitu juga topi beanie digunakan untuk melindungi kepala sampai telinga agar tetap hangat. (vga/vga)