Singapura, 'Singa' yang Tertidur Usai Pergantian Tahun

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Selasa, 09/02/2016 16:32 WIB
Singapura, 'Singa' yang Tertidur Usai Pergantian Tahun Suasana di kawasan Chinatown, Singapura, terlihat sangat sepi pada siang hari usai perayaan tahun baru China, Senin (8/2). (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Singapura, CNN Indonesia -- Dihuni mayoritas etnis Tionghoa, Singapura ternyata baru benar-benar merayakan pergantian tahun saat Imlek, yang jatuh pada Senin (8/2). Pada 1 Januari lalu negara ini memang menggelar banyak acara musik. Namun, kemeriahan merah emas baru terasa saat Tahun Baru China.

Sejak awal Februari, gegap gempita perayaan Imlek sudah terasa. Lampion bulat serta lampu kera yang melambangkan tahun monyet api, terpasang di mana-mana. Di tengah Chinatown bahkan ada "pohon kehidupan" raksasa.

Puncak perayaan terjadi pada hitung mundur pergantian tahun yang dilangsungkan di kawasan Chinatown. Sejak pukul enam sore, kawasan itu sudah dipadati masyarakat. Publik lokal maupun wisatawan asing berlomba foto di bawah lampion-lampion.


Suasana perayaan malam Tahun Baru China di kawasan Chinatown, Singapura, Minggu (7/2). (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)
Pasar tradisional Chinatown terlihat lebih sesak dari biasanya. Tepat di depan pintu keluar A stasiun MRT Chinatown, dipasang sebuah panggung besar.

Sekitar pukul delapan malam, menjelang acara yang dimulai pada 21.30 waktu setempat, Chinatown makin penuh sesak. Jalan santai sembari menikmati berbelanja seperti hari-hari biasa tidak lagi dapat dilakukan. Orang-orang hanya bisa melangkah pelan.

Di sepanjang jalan, selain penjual oleh-oleh di tiap kios yang meneriakkan barang dagangannya bersaing dengan para penjaja kebutuhan Imlek tradisional. Mulai daging, sayuran, sampai peralatan Imlek dijajakan di sana.

Tak hanya area belanja, di bagian Chinatown Food Street juga ternyata tak kalah sesak. Meja-meja yang tersedia ditempati beragam wajah. Mulai dari warga lokal, wisatawan Asia Tenggara, India, Amerika, hingga Eropa. Salah satunya Laura, perempuan asal Jerman yang telah setahun bekerja di Singapura.

"Ini kan tidak setiap hari, saya harus datang. Ini Tahun Baru China! Saya penasaran akan ada apa saja," katanya dengan penuh semangat saat ditemui CNN Indonesia, Minggu (7/2). 
Suasana perayaan malam Tahun Baru China alias Imlek di Singapura. (CNN Indonesia/Rizky Sekar Afrisia)

Laura mengaku, sudah dua tahun dia merasakan Tahun Baru China di Singapura. "Tahun lalu juga ramai seperti ini. Tapi saya tidak ke Chinatown. Saya tidak tahu apakah penuh sesak seperti ini atau tidak," ujarnya.

Sepasang muda-mudi berwajah India yang tinggal di Singapura pun mengaku sengaja datang ke Chinatown untuk menyaksikan pesta perayaan tahun baru.

"Saya tidak tahu ada apa saja. Tapi ini meriah sekali, jadi kami datang," kata salah satunya.

Perayaan kali itu diawali dengan tari-tarian, kemudian pertunjukan barongsai, dan ditutup dengan hitung mundur dan kembang api. Acara tuntas selepas tengah malam.

Keesokan harinya, tepat pada hari pertama di tahun monyet api, suasana di kawasan Chinatown berubah 180 derajat. Singapura seperti negara nyaris mati. Pertokoan tutup. Pusat-pusat perbelanjaan baru buka sekitar pukul 12 siang. Perkantoran, hotel, semuanya sepi.

Bukan hanya itu, hampir semua kelab malam pun tutup. Di Club Street dan Ann Siang Road yang kanan kirinya dipenuhi bar serta kelab dan tiap malam menguarkan musik keras, hari itu terasa sepi. Hanya satu atau dua bar saja yang buka dengan menyajikan live music.

"Ini pertama kalinya saya melihat daerah ini sangat sepi. Biasanya musik bersahut-sahutan. Ternyata Singapura juga bisa tidur," kata Nir, ekspatriat dari Israel yang sudah beberapa bulan tinggal di Singapura, Senin (8/2).

Di Chinatown sendiri, pasar tradisional yang terpusat di salah satu gedung juga tutup. Chinatown Street Food tutup hingga malam. Banyak restoran di tepi-tepi jalan yang biasanya buka 24 jam pun ikut tutup.

"Anda harus mencari makanan cepat saji, kalau mau mudah. Karena hari-hari seperti ini semua tutup," tutur seorang penjaga hostel di Chinatown. Mencari makan di pusat kota saat itu terbilang cukup sulit.

Chinatown, kawasan yang selalu ramai dan penuh sesak, memang mendadak menjadi sepi. Itu diakui masyarakat sekitar, termasuk ekspatriat yang tinggal dan bekerja di Negeri Singa.

Bagi sebagian, Imlek selayak Natal. Kebanyakan ekspatriat pergi berlibur atau bahkan pulang kampung. Di Singapura, libur tahun baru China diberikan selama dua hari. Dengan akhir pekan yang terbilang panjang, sejak Sabtu hingga Selasa, jelas saja jika banyak kaum urban memutuskan meninggalkan Singapura. (meg)