Namun tak selamanya hormon ini ternyata bisa membuat pasangan merasa bahagia. Menurut penelitian yang dilaporkan oleh Science Live, pasangan yang tengah menanti kelahiran buah hati ternyata terancam berpisah gara-gara hormon ini. Kemungkinan ini disebabkan oleh rendahnya tingkat oksitosin yang dimiliki ibu hamil.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tujuh pasangan yang berpisah memang tidak diketahui, namun ketujuh di antaranya ditemukan memiliki tingkat oksitosin yang rendah saat trimester pertama kehamilan, juga beberapa saat usai melahirkan dibanding. Hal ini dibandingkan dengan rata-rata 170 perempuan lain yang masih bersama dengan pasangannya.
Bartz melaporkan bahwa tiap unit memiliki perbedaan peningkatan oksitosin selama trimester pertama dan usai melahirkan. Kondisi tersebut menyebabkan tiap pasangan harus bertahan dan berjuang untuk mempertahankan pernikahannya tujuh sampai sembilan kali lebih keras. Hanya saja, level oksitosin ini bukanlah satu-satunya alasan perpisahan itu. Namun penelitian ini menunjukkan bahwa hormon tersebut mungkin berpengaruh dengan hubungan Anda.
Bartz menjelaskan bahwa tingginya tingkat oksitosin akan membantu perempuan untuk menjalin relasi yang lebih baik dengan bayi. Selain itu, hormon ini juga akan membantu meringankan stres ibu. Hal tersebut akan memberi dampak yang baik untuk hubungan terhadap pasangan.
Di sisi lain, ada juga kemungkinan bahwa perempuan dengan tingkat oksitosin yang rendah tidak mendapat dukungan dari pasangan atau lingkungan sekitar seperti halnya perempuan dengan oksitosin tinggi. Dengan kata lain, ada masalah mendasar dalam kehidupan perempuan tersebut, dan rendahnya tingkat oksitosin hanyalah pertanda awal. (chs/vga)