INDONESIA FASHION WEEK 2016

Napas Muda di Wastra Nusantara

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 11/03/2016 16:48 WIB
Di gelaran Indonesia Fashion Week, bukan hanya busana muslim yang jadi titik berat melainkan juga upaya melestarikan kain-kain tradisonal. Lini Z'Rowaste karya selusin siswa LPTB Susan Budihardjo. (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. Tim Muara Bagdja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Semangat mengangkat wastra nusantara sebagai salah satu identitas mode Indonesia selalu digembar-gemborkan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) di setiap Indonesia Fashion Week, pun dalam peragaan yang digelar oleh SMESCO di IFW 2016 kali ini.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah melalui Lembaga Layanan Pemasaran Koperasi dan Usaha Kecil Menengah atau SMESCO Indonesia menggandeng beberapa desainer dalam peragaan 'Ragam Wastra Nusantara' di IFW, Kamis (10/3), di antaranya adalah Acakacak by LPTB Susan Budiardjo, dan Yogiswari Prajanti.

Masing-masing desainer mengangkat berbagai jenis wastra atau kain tradisional, termasuk batik dan tenun. Mereka pun menuangkan berbagai ide inovatif, hingga kain yang terkadang masih dianggap kuno itu, bukan hanya dapat dikenakan oleh para orang tua saja, namun juga menarik bagi kaum muda.


Batik dan Tenun ala Daft Punk

Susan Budihardjo menampilkan kreasi unik melalui imajinasi siswanya yang tergabung dalam lini Acakacak. Ke-12 murid tersebut menggunakan batik lurik sebagai bahan kreasi mereka di runway Indonesia Fashion Week 2016.

Para anak didik Susan mengombinasikan lurik bermotif tiga garis dan lima garis atau gerimis dengan batik bermotif parang dan juga truntum sogan, hitam, serta putih. Bukan cuma batik lurik yang menjadi pusat perhatian dari koleksi bernama Z'Rowaste ini, ada kain tenun ikat Tanimbar yang dibuat siluet ringkas, lurus, dan longgar supaya meminimalisir potong kain dan limbah.

Kain batik yang biasanya digunakan oleh para sepuh terasa puluhan tahun lebih muda berkat teknik potong sembarang yang dilakukan oleh para desainer belia didikan Susan. Selain teknik potong sembarang, Acakacak juga mengombinasikan batik dengan bahan scuba yang cocok dikenakan di segala usia.

Koleksi Z'Rowaste karya Acakacak LPTB Susan Budihardjo yang ditampilkan di Indonesia Fashion Week 2016 (13/6). (CNNIndonesia Free Watermark/Dok. Tim Muara Bagdja)
Seperti nama lini modenya, Acakacak, penggunaan gaya dari batik ini pun acak-acakan. Untuk mencapai identitas Acakacak yang kasual, rileks, dan ringan, mereka mengombinasikan batik dengan beragam padu-padan, seperti jaket bomber, celana 7/8, celana 3/4, atasan tanpa lengan, rok span, rompi panjang, hingga sweater. Kreasi ini menampilkan batik dengan sentuhan hip-hop dan pop yang identik anak muda.

Namun ternyata kreasi cerdas itu belum usai. Pemilihan kain yang monokromatik ternyata sanggup mempertahankan rasa elegan dan berkelas dari wastra yang digunakan.

Acakacak pun tak ketinggalan memberikan beberapa aksesori yang sesuai dengan sistem ‘random’ yang mereka lakukan. Para desainer belia ini memilih kacamata futuristik sebagai penegas jiwa muda mereka. Sekilas, mengingatkan akan penampilan duo musisi EDM asal Perancis pemenang Grammy yang berpenampilan seperti robot, Daft Punk.

Jepara yang Penuh Warna

Desainer yang gemar menggunakan wastra langka, Yogiswari Prajanti kali ini memilih tenun endek Jepara dan tenun ikat Adonara sebagai bahan koleksi Prettylicious di IFW hari pertama. Yogi, sapaan akrabnya menilai warna cerah pada tenun Jepara adalah hal yang langka. Itu yang membuatnya tertarik.

"Sebenarnya saya ingin menggunakan yang penuh warna, dan saya sudah mengenal tenun Jepara ini dari 2010 tapi belum pernah pakai, dan saya melihat tenun Jepara semakin lama semakin baik dan warnanya juga eyecatching," kata Yogi ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com seusai peragaan busana.

Yogiswari Prajanti memamerkan karyanya yang bertajuk Prettylicious di Indonesia Fashion Week (IFW) 2016 di Plenary Hall JCC, Kamis (10/3). (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
“Saya biasanya melihat kain dari Jepara berwarna kalem, nah ketika saya melihat yang cerah-cerah ini jadi ingin menggunakan," kata Yogi. "Tapi seringkali jumlahnya terbatas ketika saya memilih satu bentuk warna atau motif.”

Keterbatasan tersebut disiasati oleh Yogi dengan mengombinasikan tenun ikat Adonara dalam koleksinya kali ini. Tenun ikat yang berasal dari Nusa Tenggara Timur ini memiliki warna lebih tua dan motif bergaris yang mudah dipadu padan dengan kain apapun.

Yogi pun menaruh motif ikan ikat pada beberapa bagian tertentu agar menegaskan tampilan edgy dari potongan yang digunakan seperti A line, bentuk dress midi, dan celana palazzo.

Warna cerah dan tampilan yang 'muda' memang diinginkan Yogi dalam koleksinya kali ini. Ia berkeinginan wastra-wastra peninggalan leluhur tidak melulu hanya dapat dikenakan oleh generasi sepuh, namun juga bisa terasa muda dan segar.

Selain itu, bentuk koleksi yang ready-to-wear menyesuaikan kampanye APPMI, bahwa wastra Indonesia dapat dikenakan sehari-hari, setiap waktu, dan melintasi batas generasi. (les/les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK