Upaya Indonesia Jadi Rumah Terakhir Bagi Penyu

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 06:10 WIB
Upaya Indonesia Jadi Rumah Terakhir Bagi Penyu Indonesia merupakan habitat alami bagi enam dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia. (ANTARA FOTO/Irfan Anshori)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia bukan hanya menyimpan keindahan alam, namun juga ragam fauna eksotis salah satunya adalah penyu. Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang menjadi habitat penyu.

Indonesia adalah habitat enam dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia. Jenis penyu yang tercatat ada di Indonesia adalah penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), dan penyu tempayan (Caretta caretta).

Tapi sayangnya, keberadaan mereka terancam.


"Dari segi populasi, penyu sangat terancam mulai dari masih telur hingga dewasa," kata Mirza Dikari Kusrini, pakar penyu dari Institut Pertanian Bogor ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com di SeaWorld Ancol, Selasa (22/3).

"Indonesia memiliki banyak tempat yang cocok untuk penyu bertelur, yaitu pantai pasir putih. Seberapa banyak? Seluas pantai pasir putih di Indonesia, dan itu banyak sekali," katanya.

"Tapi meski Indonesia punya banyak tempat, masalahnya yang mengincar telur itu juga banyak. Itu yang jadi masalah, telur penyu diincar banyak orang. Sebegitu dicarinya, bahkan diperjualbelikan di pinggir pantai," lanjut dosen Departemen Konservasi Hutan dan Ekowisata ini.

Hanya penyu Kemp's ridley atau Lepidochelys kempi yang tidak pernah tercatat ditemukan di Indonesia. Di antara semua penyu, penyu belimbing adalah yang paling besar karena dapat tumbuh hingga sepanjang 2,75 meter dengan bobot 600 sampai 900 kilogram.

Sementara, jenis penyu hijau adalah yang paling sering ditemukan.

Keberadaan Indonesia sebagai tempat habitat bagi penyu dinilai Mirza karena lokasinya yang berada di kawasan Khatulistiwa. Letak ekuator ini menyebabkan Indonesia memiliki perairan hangat yang dibutuhkan oleh penyu sebagai makhluk reptil berdarah dingin.

Selain itu, Indonesia juga kaya akan kekayaan flora laut seperti terumbu karang. Hal ini juga yang menjadi daya tarik bagi penyu untuk betah berlama-lama di perairan Indonesia. Lantaran terumbu karang atau coral adalah tempat favorit ubur-ubur, makanan penyu.

Tercatat, beberapa lokasi di Indonesia menjadi andalan penyu untuk bertelur. Tempat itu seperti pantai selatan Jawa Barat, pantai selatan Bali, Kalimantan Tengah, pantai selatan Lombok, Alas Purwo di Jawa Timur, Bengkulu, Pulau Cangke di Sulawesi Selatan, Kabupaten Bintan Kepulauan Riau, Kepulauan Karimun, hingga Kepulauan Natuna.
Penyu belimbing (Dermochelys coriacea), spesies penyu terbesar di dunia, juga berhabitat di Indonesia. (REUTERS/South Carolina Sea Aquarium)

Selangkah Menuju Punah

Mirza begitu geram mengisahkan kekesalannya ketika ia menemukan kenyataan bahwa telur penyu tidak ubahnya seperti telur asin di Brebes, diperjualbelikan di pinggir jalan. Bukan sebagai hiasan, namun telur tersebut dijual untuk dikonsumsi.

Banyak orang yang mengincar telur penyu lantaran terhasut oleh mitos khasiat telur penyu. Katanya, telur berkulit lunak tersebut berkhasiat untuk meningkatkan vitalitas pria.

"Padahal penelitian mengatakan, telur penyu itu kandungannya tidak jauh berbeda dengan telur ayam. Entah mengapa mereka percaya dengan mitos itu," kata Mirza.

"Penyu itu sekali bertelur sekitar 40 sampai 70 butir dengan keberhasilan menetas menjadi anak penyu atau tukik hingga 90 persen. Namun dari tukik yang menetas itu, yang dapat bertahan hingga dewasa hanya satu persen," sebut Mirza. "Kematian paling tinggi saat masih telur adalah diincar manusia.”

Secara statistik, tingkat fertilitas penyu pun sangat rendah. Seekor penyu betina hanya bertelur dua hingga delapan tahun sekali dengan cara kembali ke tempat ia menetas. Sedangkan penyu jantan, seumur hidupnya dihabiskan di dalam lautan.

Dalam bertelur, penyu pun tidak sembarang memilih. Biasanya penyu bertelur di pantai pasir putih yang landai karena akan memudahkan ia keluar dari laut untuk bertelur. Penyu betina hanya bertelur di malam hari, dan bila ada cahaya, maka ia tidak jadi bertelur dan kembali ke laut.

Bila tidak diincar manusia, tukik yang menetas dari telur akan secara alami menuju laut. Namun bayi penyu yang masih lemah tersebut adalah incaran empuk bagi predator mulai dari kepiting, tikus, hingga burung.

Jika ada yang selamat di pantai dan berhasil masuk ke laut, ia pun menjadi mangsa ikan. Belum lagi bila ia terjerat jaring para nelayan hingga tukik gagal mengambil nafas dan mati tenggelam.

Ketika sudah dewasa pun bukan berarti tak terancam. Banyaknya pencemaran sampah yang terbawa ke laut seringkali membuat penyu mati. Hal ini karena penyu sulit membedakan makanannya yaitu ubur-ubur dengan plastik yang mengotori laut sehingga ia salah makan. Penumpukan plastik dan kontaminan lainnya menyebabkan penyu kini terserang berbagai penyakit seperti tumor dan hidup lebih rentan.

"International Union for Conservation of Nature (IUCN) bahkan menempatkan penyu sisik sebagai critically endangered atau sangat terancam punah. Predikat ini selangkah sebelum kateogori punah di alam liar," papar Mirza.

Keputusan IUCN bukan tanpa sebab. Dalam berbagai laporan dari banyak lembaga penyelamatan dan perlindungan alam mencantumkan terjadi penurunan yang sangat tajam akan jumlah penyu sisik di alam liar. Tercatat, terjadi penurunan populasi sebanyak 84-87 persen dalam kurun waktu tiga generasi penyu sisik.

Kondisi lebih parah terjadi pada penyu belimbing, jenis penyu terbesar. Menurut laporan Conservation International pada 2004, jumlah penyu belimbing betina turun dari 115 ribu menjadi kurang dari tiga ribu sejak 1982. Ini berarti turun 97 persen dalam dua dekade.
Konsep ekowisata yang membuat wisata dan pelestarian alam berjalan berdampingan, jadi cara melestarikan populasi penyu di Indonesia. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)
Ekowisata dan Edukasi

Berbagai upaya penyelamatan atau konservasi telah dilakukan untuk mempertahankan anak cucu manusia masih dapat melihat penyu secara nyata. Upaya tersebut selain dengan pendirian stasiun penetasan telur penyu di berbagai pantai di Indonesia, penyu juga dilindungi secara hukum.

Di Indonesia, seluruh jenis penyu telah dilindungi dalam bentuk Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pelestarian Jenis Tumbuhan dan Satwa yang ditandatangani oleh Presiden BJ Habibie kala itu. Namun meski sudah berstatus hukum, masih banyak yang sepenuhnya belum sadar dan peduli akan nasib penyu.

Untuk semakin meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama larangan berburu penyu, berbagai sosialiasi dilakukan. Selain itu, kegiatan edukasi dari berbagai lembaga konservasi dan pemerhati alam diharapkan bisa menurunkan perburuan penyu dan mempertahankan populasi penyu.

Ada juga upaya menggalakkan konsep ekowisata di tempat penyu tinggal.

"Efektifitas dari ekowisata sebenarnya susah dilihat. Tapi selama pengalaman saya, yang menjadi konservasionis adalah mereka yang semasa kecil sudah mengenal hewan di kebun binatang, jadi ketika dewasa mereka akan berusaha mempertahankan hewan itu ada," kata Mirza.

"Jadi saya selalu mendukung wisata selama ia masih mempertahankan kelangsungan hidup hewan, ya karena itu salah satu yang efektif mengenalkan ke masyarakat.”

Namun Mirza mengakui masih banyak tempat resor yang berdiri di atas habitat penyu yang tak peduli akan kelangsungan hidup hewan purba tersebut. Padahal, menurut Mirza beberapa penelitian telah menghasilkan berbagai cara agar resor dan habitat alami dapat hidup berdampingan.

"Harusnya kalau tempat wisata berada di habitat penyu, sudah jadi kewajiban untuk ikut memperhatikan. Ya seperti memiliki orang untuk monitoring dan sebagainya, atau mematikan lampu ketika musim penyu bertelur," kata Mirza.

"Bahkan sebenarnya proses bertelur penyu dapat menjadi atraksi tersendiri asal tidak mengganggu," lanjutnya. "Saya belum tahu seberapa efektif ekowisata untuk penyu, karena selama ini yang paling efektif adalah di taman nasional." (les/les)