Tak Mudah Buat Masyarakat Lokal Terima Ekowisata

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 12/12/2015 12:21 WIB
Tak Mudah Buat Masyarakat Lokal Terima Ekowisata Sejumlah wisatawan berjalan di atas Canopy Trail (Jembatan Gantung) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Cikaniki, Bogor, Jawa Barat. (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam konsep penerapan ekowisata, masyarakat sekitar lokasi menjadi salah satu aspek kesuksesan ekowisata. Namun, memberdayakan masyarakat agar menerima hingga ikut menyukseskan suatu kawasan ekowisata tidaklah mudah. Hal itu dirasakan oleh Teguh Hartono, penggiat masyarakat dari Taman Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat.

"Dahulu saya ikut memberikan pendampingan masyarakat di Taman Nasional Gunung Halimun selama kurang lebih dua tahun," kata Teguh ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com seusai ‘Seminar Basic Research Taman Nasional’ oleh Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, beberapa waktu lalu.

Teguh mendampingi masyarakat beberapa desa yang terdapat di dalam Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS), Jawa Barat. Di dalam taman nasional yang terletak di Kabupaten Bogor Jawa Barat tersebut memiliki beberapa objek wisata yang dapat dikembangkan sebagai ekowisata.


Potensi yang ada di TNGHS seperti lahan untuk berkemah dan homestay menjadi unggulan yang coba ditawarkan sebagai tempat ekowisata. Teguh dan tim mencoba untuk menyampaikan ide ini kepada masyarakat.

Setelah dua tahun mendampingi masyarakat atas inisiasi ekowisata di TNGHS, Teguh sempat meninggalkan masyarakat selama lima tahun untuk mengurus taman nasional lainnya. Sekarang, masyarakat sekitar TNGHS sudah menjadikan ekowisata seperti homestay menjadi tambahan pendapatan mereka.

"Sekarang mereka lebih kaya dibanding saya," kata Teguh tertawa. "Mereka kini tidak butuh pendampingan, sudah dapat jalan sendiri walaupun dahulu awal-awal sempat susah. Ya paling cepat masyarakat lokal adaptasi dengan ekowisata itu lima tahun,"

Prinsip ekowisata yang dibawa ke sebuah lingkungan sosial dengan akar budaya sosial tertentu bukanlah perkara mudah. Pendampingan terhadap masyarakat untuk dapat menerima ide ekowisata menjadi hal yang teramat penting guna mendapatkan dukungan sosial.

Menurut Teguh, pendampingan dengan pola pertemanan dapat menjadi pemulus jalan ide ekowisata diterima oleh masyarakat lokal. Ibarat seni, pendamping harus tahu betul karakteristik dari masyarakat setempat.

Walaupun seringkali keberadaan taman nasional menjadi ekowisata masih kerap menimbulkan pro-kontra di masyarakat adat ataupun lokal, namun keberadaan ide ini dipercaya Teguh menjadi salah satu peningkat kesejahteraan masyarakat setempat.

"Pengalaman di beberapa tempat, taman nasional yang menjadi ekowisata masyarakat setempatnya menjadi lebih baik. Sebenarnya yang terpenting ekowisata jangan dijadikan pekerjaan utama dari masyarakat itu, bila pendapatan semula berawal dari bertani, ya bertani saja tetapi ramah lingkungan," kata Teguh.

"Wisata itu kan rencana jangka panjang, bila tetap ada dua pendapatan bila sewaktu-waktu ekowisata tengah turun masih ada pendapatan. Bila dari awal hanya satu, nanti akan jadi bumerang. Wisata tidak bisa cepat ada hasilnya, bila dipromosi sekarang, tamu bisa datang dua tahun lagi." (les/les)