Ekowisata Indonesia, Besar Potensi Minim Optimalisasi

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 12/12/2015 08:13 WIB
Ekowisata Indonesia, Besar Potensi Minim Optimalisasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. (Thinkstock/goikmitl)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia terkenal berkat panorama alam indah yang menarik minat wisatawan mancanegara. Namun, pada kenyataannya, di lapangan, ekowisata kurang berkembang karena tersandung ego sektoral.

Sudah sering kali disebutkan bahwa Indonesia begitu kaya akan keindahan alam sebagai potensi yang besar untuk objek wisata. Namun, besarnya potensi alam Indonesia sebagai lahan ekowisata diakui belum optimal.

"Kalau bicara optimal, memang belum. Karena masih tumpang tindih peraturan, masih ego sektoral," kata Endang Karlina, peneliti ekowisata dari Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, saat ditemui CNNIndonesia.com dalam sebuah seminar ‘Basic Research Taman Nasional’ di Bandung, beberapa waktu yang lalu.


Hutan, termasuk taman nasional, dianggap sebagai wilayah yang memiliki potensi wisata berbasis ekologi, atau ekowisata, yang tinggi. Dengan keberagaman flora dan fauna yang terkandung dalam hutan hujan tropis Indonesia, seharusnya mendatangkan keuntungan bagi dunia pariwisata Indonesia.

Secara definisi, ekowisata, menurut pengertian Panduan Ekowisata yang dikeluarkan oleh UNESCO, merupakan jenis wisata yang bertanggung jawab pada tempat alami serta memberi kontribusi terhadap kelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.

Anak badak baru di Taman Nasional Ujung Kulon. (Dok. Tim Monitoring Badak Jawa Taman Nasional Ujung Kulon)

Sedangkan menurut Kementerian Pariwisata, ekowisata merupakan konsep pengembangan pariwisata yang berkelanjutan dengan tujuan mendukung pelestarian alam dan budaya serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sehingga memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat lokal.

Banyak wisata alam menakjubkan di Indonesia, berada dalam wilayah konservasi, seperti kehidupan padang savana di Taman Nasional Alas Purwo, kehidupan badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon, dan kehidupan komodo yang mengagumkan dunia di Taman Nasional Komodo. Namun, faktanya hanya sebagian taman nasional di Indonesia yang sudah memiliki perhatian yang cukup.

"Dari sekitar 50 taman nasional yang ada di Indonesia, sekitar 20 taman nasional sudah menjadi model," kata Profesor Bismarck, peneliti senior Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam acara yang sama.

Kurang Promosi dan Minim Tata Kelola

Di sisi lain, masih banyak taman nasional yang ternyata belum memiliki kesempatan setenar Taman Nasional Alas Purwo, Ujung Kulon, ataupun Komodo. Contohnya, Taman Nasional Danau Sentarum di Kalimantan Barat. Taman nasional yang berbatasan langsung dengan Sarawak, Malaysia ini memiliki danau satu-satunya di Indonesia dengan karakteristik pasang-surut.

Di kala musim kemarau, Danau Sentarum akan menjadi padang yang sangat luas, sedangkan di musim hujan akan menjadi danau dengan kedalaman enam hingga 12 meter. Danau unik itu juga merupakan satu-satunya danau pasang-surut di Asia Tenggara.

Namun, untuk menggapai Danau Sentarum ini, membutuhkan usaha yang cukup besar. Taman Nasional Danau Sentarum ini berjarak 700 kilometer dari Pontianak, setara dengan Jakarta-Surabaya. Danau ini harus diakses melalui akses udara lalu dilanjutkan dengan perjalanan melalui sungai ataupun darat, kurang lebih tujuh hingga 23 jam perjalanan. Jalan darat yang tak layak menjadi faktor lamanya perjalanan dengan motor.

"Tapi kalau datang dari arah Sarawak berbeda sekali. Kalau boleh jujur, sedih rasanya melihat akses dari Sarawak ke Danau Sentarum seperti jalan tol. Sedangkan dari arah Indonesia, akses ke Danau Sentarum, yah tidak usah dijelaskanlah sedih pokoknya," kata Angga Prathama, perwakilan WWF Indonesia yang pernah ke Danau Sentarum ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com.

Pengembangan tata kelola taman nasional agar dapat menjadi sumber ekowisata yang baik sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan lingkungan alam dan sosial di sekelilingnya membutuhkan beberapa catatan.

"Bila suatu daerah atau taman nasional memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, tinggal tata kelola saja yang perlu diperhatikan. Yang terutama itu ya mengembangkan akses dengan catatan tidak merusak lingkungan," kata Endang. "Itu tugas pemerintah daerah, bukan pengelola taman nasional. Usaha pengembangan ekowisata harus ada koordinasi dari pemerintah pusat hingga daerah," katanya.

Menurut Endang, permasalahan ekowisata di Indonesia bukan terletak dari potensinya, namun lebih karena masalah pengembangan potensi yang dimiliki. Dalam pengembangan ekowisata, Endang menyebutkan setidaknya ada empat aspek yang perlu diperhatikan.

Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. (REUTERS/Darren Whiteside)
Pertama, adalah peraturan yang jelas mengenai penggunaan taman nasional ataupun wilayah konservasi sebagai arena pariwisata. Sejauh ini, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam yang ditandatangani oleh Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam peraturan tersebut, tercantum peraturan, kewajiban, hak, serta ketentuan pengembang wisata alam di wilayah konservasi.

Kedua, adalah kesadaran masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam. Masyarakat di beberapa taman nasional di Indonesia sudah mulai memanfaatkan kekayaan taman nasional sebagai penambah pendapatan mereka seperti pada Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Masyarakat di sana, memanfaatkan waktu migrasi gajah sebagai lahan jasa wisata.

Faktor ketiga menurut Endang adalah dukungan lembaga terkait. Kelembagaan yang dimaksud mulai dari pemerintah pusat melalui kementerian yang mengeluarkan peraturan, hingga tingkat Gubernur, Bupati/Walikota yang memberikan izin hingga mengevaluasi kebermanfaatan taman nasional. Lainnya adalah lembaga swasta sebagai investor hingga pembantu konservasi.

"Yang terakhir adalah motivasi masyarakat baik lokal setempat maupun secara nasional. Empat faktor itulah yang membuat ekowisata menjadi optimal," kata Endang.

"Target ekowisata adalah eco-sustainable antara ekonomi, sosial-budaya, dan alam. Kalau sudah paham arti dari eco-sustainable itu maka akan optimal, tapi bukan maksimal. Karena setelah maksimal, maka akan mati, tapi bila optimal maka akan lestari." (les/les)