Penelitian yang mensurvei 22 ribu orang Amerika antara 2005 hingga 2012. Responden yang terlibat ditanya mengenai kebiasaan tidur mereka, frekuensi terkena pilek, flu, pneumonia, atau gangguan pendengaran dalam beberapa bulan terakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian ini juga terungkap bahwa orang yang sering mengaku punya masalah dengan tidur, lebih mungkin terkena pilek atau infeksi sejenis dalam sebulan terakhir.
Meski menemukan pengaruh kurangnya tidur dengan imunitas tubuh, penelitian ini tidak mengungkapkan dampak kesehatan dari orang yang memiliki jam tidur banyak, seperti sembilan jam atau lebih.
"Temuan ini menambah kajian ilmiah tentang tidur dan kaitannya dengan kesehatan fisik," kata peneliti dari University of California, seperti yang tertulis di jurnal JAMA Internal Medicine.
"Mungkin sudah saatnya pendugaan kualitas tidur menjadi cara lebih umum dalam pengecekan medis. Dengan kata lain tidur dapat berfungsi sebagai tanda penting lain bagi kesehatan," tulis peneliti.
Penelitian kali ini sejalan dengan studi sebelumnya meski dalam lingkup yang lebih kecil. Studi sebelumnya melibatkan 164 orang yang bersedia diberikan cairan mengandung rhinovirus yang menyebabkan flu.
Dari ujicoba tersebut didapatkan bahwa orang yang tidur kurang dari enam jam per malamnya punya peluang empat kali lebih mungkin terkena pilek, dibandingkan mereka yang tidur tujuh jam atau lebih.
(meg)