Kisah Kartini Muda Tembus Amerika Serikat dengan 'Darah'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 21/04/2016 19:13 WIB
Leonika Sari mengharumkan nama negara di Negeri Paman Sam dengan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di Massachusetts Institute of Technology. Aplikasi Reblood yang diciptakan Leonika Sari (22) memudahkan masyarakat untuk mendonorkan darahnya. (Thinkstock/4774344sean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Leonika Sari baru berusia 22 tahun, namun ia telah punya banyak pengalaman di bidang teknologi. Salah satunya, ia pernah mendapatkan undangan untuk mengikuti kuliah singkat di kampus terbaik dunia di bidang teknologi, Massachusetts Institute of Technology atau MIT.

Mungkin terbersit dalam benak Leonika adalah sosok wanita yang gadget freak. Namun, gadis asal Surabaya ini sebenarnya tidak pernah bercita-cita di bidang teknologi, ia bercita-cita menjadi dokter.

"Saya sangat senang biologi. Ketika SMA, nilai biologi saya tidak pernah kurang dari 95, saya ingin jadi dokter," kata Leonika ketika mengisahkan pengalamannya membangun bisnis start-up dalam Femaledev Conference di Conclave Wijaya, Jakarta Selatan, Kamis (21/4).


Cita-cita luhur tersebut ternyata harus menemukan kendala, restu orang tua. Dengan alasan kuliah kedokteran yang lama dan rumit, Leonika pun ikhlas banting stir masuk ke jurusan Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya. Ia pun harus berhadapan dengan 'momok' siswa sistem informasi, algoritma dan pemrograman.

Leonika mengaku kesulitan di awal-awal kuliah mata kuliah tersebut hingga mendapatkan nilai hanya sekadar lulus. Namun ia merasa tertantang dengan kesulitan tersebut sampai ia rela terus berlatih dan seperti pepatah Jawa, witing tresno jalaran soko kulino, atau cinta datang karena terbiasa.

"Di mata kuliah lanjutan algoritma berikutnya saya mendapat nilai A. Memang passion itu harus mencoba banyak hal dan tidak ada yang datang sendiri," kata Leonika.

Hingga pada suatu hari, ia memutuskan mengikuti kuliah daring dari MIT. Setelah mengikuti semua program kuliah tersebut, tawaran lain datang berupa boothcamp di kampus MIT di Amerika Serikat. Leonika pun nekat mendaftar dan mengikuti seleksi.

Dari 40 ribu pendaftar, MIT hanya menerima 47 orang dari seluruh dunia. Dan secara mengejutkan, Leonika berhasil menjadi salah satunya, satu-satunya dari Indonesia, mendapatkan beasiswa, dan seorang perempuan.

"Yang perempuan di boothcamp itu sangat sedikit. Kebanyakan laki-laki. Dan selama acara lima hari di MIT, itu gila-gilaan, ibarat kata minum dari selang pemadam kebakaran," kata Leonika. "Semua dosen dan profesor ada dan memberikan materi dari pukul 7 pagi hingga 11 malam, kadang baru usai pukul 2 pagi.”

Perjuangannya selama di MIT telah mengubah pola pikir Leonika dan memantapkan untuk membuat sebuah aplikasi 'Reblood' yang membantu orang untuk mendonorkan darah dan rumah sakit dapat mencari suplai darah.

'Reblood' didasarkan kenyataan bahwa Indonesia masih kerap kekurangan suplai darah hingga lima juta kantong. Aplikasinya itu disambut baik oleh rumah sakit dan pemerintah Surabaya, termasuk walikota Surabaya, Tri Rismaharini.

Kini, masyarakat Surabaya yang ingin mendonorkan darahnya menjadi lebih mudah, begitu pula rumah sakit ketika membutuhkan donor untuk pasien gawat darurat.

Leonika sadar menjalani usaha start-up seperti aplikasi tidaklah mudah. Menurut pengalamannya, banyak wanita yang sama-sama memulai usaha start-up berguguran. Namun semangat Kartini yang tetap mengejar impiannya membuat Leonika bertahan.

"Untuk memulai bisnis ini, memang harus tahan banting, start-up itu susah, risiko gagal besar, dan sangat panjang perjalanannya. Banyak juga yang menghalangi, namun apapun tantangannya ya jalan saja,” kata Leonika. (les)