Shift Malam Picu Jantung Koroner

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Senin, 02/05/2016 14:44 WIB
Shift Malam Picu Jantung Koroner Shift malam membuat wanita rentan terkena jantung koroner. (kieferpix/thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di dunia kerja, tak sedikit perusahaan yang memberlakukan jam kerja malam bagi pegawai. Penerapan tersebut tak ayal melahirkan adanya rotasi waktu kerja pegawai, yang secara bergantian mendapat giliran bekerja pada malam hari.

Sebuah studi baru menunjukkan pergeseran jam kerja sesekali ke malam hari dalam waktu yang lama, bisa memperburuk kesehatan, bahkan menyebabkan kematian.

Para peneliti di Amerika Serikat telah melihat catatan medis dari sekitar 189.000 wanita selama 24 tahun. Mereka menemukan adanya hubungan rotasi waktu kerja dan penyakit jantung koroner.


Penelitian menggunakan informasi dari US Nurses’ Health Study yang melaporkan segala sesuatu perihal serangan jantung termasuk keluha nyeri dada. Selama 24 tahun penelitian, lebih dari 10 ribu wanita menderita penyakit ini. Dari hasil wawancara mendalam, diketahui hampir 80 persen wanita penderita jantung koroner, pernah mendapatkan shift malam di tempat mereka bekerja.

Mereka menyimpulkan pergantian waktu jam kerja dan siang ke malam dan kemudian kembali ke siang, bisa meningkatkan risiko penyakit jantung koroner.

"Ada sejumlah faktor risiko yang diketahui menjadi penyebab penyakit jantung koroner, seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik, dan berat badan berlebih,” kata Dr Celine Vetter, penulis utama makalah di Journal of American Medical Association, dilansir dari Independent.

Menurutnya, meski telah melakukan berbagai pencegahan, ia melihat masih ada peningkatan risiko penyakit jantung koroner, terkait dengan rotasi waktu kerja. Bekerja pada waktu malam dapat membuat metabolisme tubuh menjadi buruk dan meningkatkan risiko keguguran pada wanita. Mereka juga menemukan bahwa pegawai yang bekerja tiga malam atau lebih, dalam satu bulan, memiliki 15-18 persen kemungkinan lebih tinggi terserang jantung koroner.

Dr Vetter menyebutkan, efek ini lebih berbahaya bagi kaum wanita. Pengaruhnya akan berbeda jika laki-laki yang menjalani hal tersebut.

"Kami percaya bahwa hasil penelitian ini menggarisbawahi kebutuhan penelitian masa depan dan untuk lebih mengeksplorasi hubungan antara jadwal rotasi kerja dan karakteristik individu, guna mengurangi risiko penyakit jantung koroner," katanya. (les)