'Bau Badan Rusak Masa Remaja Saya'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 29/04/2016 14:43 WIB
Ratu harus pasrah menerima olok-olok orang lain karena ia memiliki masalah yang tak dapat ia kendalikan, bau badan. Masalah bau badan bisa mengganggu hubungan pertemanan dan membuat seseorang dijauhi. (Thinkstock/Shvili)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah masa remaja Ratu (25), tak seindah yang ada di kisah dongeng ataupun film-film. Di tengah masa pubernya kala itu, ia harus menerima ledekan dan olok-olok orang lain karena ia memiliki masalah yang tak dapat ia kendalikan, bau badan.

Ratu menghabiskan masa kanak-kanak seperti pada umumnya, bermain dan belajar di sekolah. Ia pun termasuk murid yang cerdas karena selalu mendapat peringkat lima besar sejak kelas satu Sekolah Dasar.

Ketika ia mulai memasuki masa puber yang ditandai dengan menstruasi pertama saat duduk kelas lima SD, ia pun memutuskan untuk mulai mengenakan pakaian lebih tertutup dan berjilbab. Dan ketika itulah permulaan masa remajanya tak seindah yang ia bayangkan.


"Sedih sih sering banget diledek dan diomongin di belakang," kata Ratu ketika bercerita kepada CNNIndonesia.com mengenai problem masa kecilnya, beberapa waktu lalu.

Semula Ratu tak sadar, namun seiring dengan berjalannya waktu ia merasakan gunjingan yang mengarah kepadanya. Bermula teman-teman perempuan sebayanya yang mulai menjauh, hingga kemudian sering mendapat sindiran dan olokan dari kawannya yang laki-laki.

Berbagai ledekan pernah Ratu terima, mulai dari ‘BB’ atau bau badan, sampai 'burket' atau 'bubur ketek'. Hingga pada suatu kali, ia kemudian mencoba mencerna ledekan dan nasihat dari kawan-kawannya tentang masalah yang ia miliki.

“Sudah pernah mencoba semua, mulai dari bedak tabur, roll-on, sampai yang semprot-semprot. Tapi tetap tak hilang. Mungkin puber juga kali ya," katanya.

Ratu mencoba tak menghiraukan ledekan dan sindiran yang datang kepadanya. Walau begitu, dia tidak menampik kerap merasa tak nyaman dengan keringat yang keluar saat beraktivitas dan kemudian tertutup oleh pakaian yang cukup membuatnya gerah.

Namun sekuat apapun Ratu mencoba cuek akan ledekan itu, ia tetap merasa sedih dan hanya bisa berbicara dengan orang-orang terdekatnya saja. Sifatnya pun berubah, dari ceria dan supel, menjadi tertutup.

Selepas lulus Sekolah Dasar, tampaknya masalah Ratu pun dapat tertangani seiring dengan berjalannya waktu. Bersyukur dengan semakin canggih teknologi dalam mengatasi bau badan, setidaknya masalah Ratu dapat teratasi.

Ia pun kini sudah dapat menyesuaikan diri kembali dan saat ini tak lagi ia dapatkan yang ia anggap hanya ulah anak-anak yang belum paham saat itu.

Disebabkan Hormon

Masalah bau badan menjadi masalah yang dapat mengganggu kualitas hidup manusia. Bau badan sebenarnya adalah hal yang lumrah terjadi pada manusia karena keberadaan kelenjar keringat dan aktivitas fisik.

Namun akan menjadi mengganggu bila timbul aroma yang tak sedap, terutama bagi orang lain yang menghirupnya. Bau badan terjadi karena ekskresi dari kelenjar keringat yang ada di bawah permukaan kulit yang kemudian menarik bakteri untuk aktif lalu mengeluarkan bau yang tak sedap.

Dalam keringat yang dihasilkan oleh kelenjar, terdapat berbagai senyawa yang menjadi makanan bagi bakteri seperti lemak dan protein. Kelenjar akan aktif ketika seseorang memasuki masa puber karena aktifnya hormon seksual.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan di Jurnal Biological Psychology pada 2003 lalu menyebutkan perempuan dapat memiliki sensitivitas terhadap bau badan lebih tinggi ketika masa menstruasi, yang kemudian terkait dengan kondisi hormon seseorang.

Meski sering dianggap mengganggu, bau badan dapat menjadi bentuk proteksi dari kondisi fisiologis seseorang. Ini terlihat dari penelitian yang dilakukan sejak 1985 lalu bahwa ibu dapat mendeteksi anak kandungnya sendiri dari bau badan sang anak.

Dan penelitian yang diterbitkan di Oxford Handbook of Evolutionary Psychology pada 2007 menunjukkan bayi menggunakan bau badan untuk mendeteksi ibu kandung mereka. Namun, masih dalam buku yang sama, bau badan selain dipengaruhi keringat dan bakteri, juga dapat dipengaruhi oleh makanan, minuman, aktivitas seks, genetik, dan penggunaan obat-obatan. (les)