Cerita Remaja Berhijab Penunggang Kuda

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 08/05/2016 11:03 WIB
Cerita Remaja Berhijab Penunggang Kuda Nabila Putri Shariva, pehobi berkuda yang masih duduk kelas 2 SMP saat ditemui CNNIndonesia.com di Arthayasa Stables. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada yang menarik di antara murid sekolah berkuda Arthayasa Stables, saat dikunjungi CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu. Dari beberapa remaja laki-laki, ada sosok perempuan yang tampak percaya diri menunggang seekor kuda gagah berwarna putih.

Nabila Putri Shariva, gadis berhijab penunggang kuda itu terlihat tenang duduk di atas si hewan bertulang besar. Kala itu, Nabila sedang bersiap untuk mengikuti ujian dressage, yaitu tunggang serasi.

Usai melakukan dressage, Nabila bercerita, bahwa ketenangannya saat di atas kuda didapatinya karena telah sejak kecil dia berkenalan dengan olahraga berkuda.


"Awalnya iseng hanya pony rides atau menunggang kuda kecil. Kemudian ditawari ikut latihan, dan sempat dikira iseng saja oleh Ayah tapi ternyata keterusan sampai sekarang belum berhenti," kata perempuan yang masih duduk di bangku Kelas 2 SMP Nurul Fikri, Depok, ini.

Nabila mulai berkuda saat usianya enam tahun. Jika teman sebayanya masih bermain dengan boneka, Nabila agaknya lebih tertarik untuk menaklukkan ketakutan akan sosok hewan besar seperti kuda.

Ia mengaku sama sekali tak takut ketika berhadapan dengan kuda pertama kalinya. Kala itu, dia masih tinggal di Surabaya.

Begitu pindah ke Jakarta, hobi berkuda tersebut tak hilang. Ia kemudian mendaftarkan diri di Arthayasa Stables dan rutin berlatih berkuda dua hingga tiga kali dalam sepekan.

Meski begitu, tak jarang Nabila mampir ke stable jika mendadak ingin berkuda setelah jam sekolah dan di luar jadwal latihanya.

Faktor menyenangi hewan sepertinya memudahkan Nabila dalam menghadapi kuda. Dia pun merasa sudah punya chemistry dengan kuda favoritnya.

"Menurut saya, berkuda atau Equestrian ini unik. Olahraga apalagi yang atletnya ada dua, orangnya dan kudanya? Karena di berkuda kerjanya tidak bisa 100 persen dari orang semata, jadi kerjasama antar orang dan hewan. Itu yang jadi unik," kata Nabila.

"Memang sih awalnya serasa ingin jatuh, tapi justru itu yang buat seru. Dan kuda itu kan makhluk hidup jadi tidak dapat tertebak maunya apa, jadi penunggangnya yang harus selalu sadar keinginan kuda. Harus mengerti. Dan minta tindakan tertentu juga tidak bisa semaunya seperti pada mesin, harus pakai perasaan karena karakter kuda beda-beda," ujarnya.

Telaten bermain kuda, Nabila selama sembilan tahun, tak sedikit juga kejuaraan yang pernah diikuti olehnya. Dalam beberapa kompetisi berkuda untuk kategori anak untuk jenis pertandingan dressage dan jumping, dia telah membawa pulang beberapa piala.

Dalam berkuda, dressage menuntut penunggang untuk serasi dan sikap yang baik dalam berkuda. Sedangkan jumping, menuntut penunggang dan kudanya dapat lompat melewati berbagai perintang yang sudah disiapkan. Hanya saja, untuk kategori terakhir belum siap dijajal Nabila.

Beberapa kali berhasil mengikuti kejuaraan berkuda, naluri berkompetisi lebih jauh lagi pun akhirnya muncul. Nabila mengaku, dirinya sangat ingin satu saat nanti dapat bersaing sebagai atlet berkuda.

"Iya saya memang ingin jadi atlet berkuda. Orang tua selama ini mendukung. Inginnya sih jadi atlet secepatnya," aku Nabila sambil tersenyum.
(meg/meg)