Mengatasi Diabetes dengan Mikroprotein

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 23/06/2016 09:07 WIB
Mengatasi Diabetes dengan Mikroprotein Makanan pengganti daging dari jamur atau mikroprotein diharapkan bisa membantu mengobati diabetes. (Thinkstock/adlifemarketing)
Jakarta, CNN Indonesia -- Studi terbaru menyebutkan mikroprotein dapat bermanfaat bagi penderita diabetes dan obesitas. Manfaat dari pengganti daging ini dapat mengurangi rasa lapar dan meningkatkan manajemen gula darah.

Mikroprotein adalah bahan makanan yang mengandung protein tinggi, serat, dan rendah kolesterol karena terbuat dari jamur Fusarium venenatum. Mikroprotein di Amerika Serikat sudah dibuat secara komersil dari kultur Fusarium tersebut.

"Bila merujuk hasil penelitian kami dan bila ditetapkan dalam populasi yang lebih besar maka akan menjadi pemberi kontribusi besar dalam mencegah obesitas," kata Gary Frost, salah satu peneliti seperti yang dilansir Daily Meal.


Penelitian tersebut melibatkan 55 responden dan merupakan perluasan dari pengujian sebelumnya tentang dampak mikroprotein pada orang kurus dan terindikasi obesitas.

Pada pengujian sebelumnya, kandungan protein dalam bahan pangan kultur tersebut terbukti membantu mengurangi kandungan glukosa setelah makan dan insulin pada darah. Hasil ini terjadi dibandingkan dengan peserta yang tidak makan mikroprotein.

Sedangkan dalam penelitian Frost melihat ada kecenderungan konsumsi mikroprotein secara signifikan menurunkan jumlah keinginan menambah porsi makan.

“Hasil post-test menunjukkan bahwa asupan energi setelah mengonsumsi makanan kaya mikroprotein adalah sepuluh persen lebih rendah dibandingkan uji konsumsi ayam," tulis penelitian tersebut.

Meski terkesan menjadi harapan baru menangani orang obesitas, namun para peneliti mengatakan studi tersebut masih memiliki banyak keterbatasan.

Para peneliti belum mengetahui secara pasti mengapa asupan protein berhasil menekan keinginan makan. Topik ini yang diharapkan mampu dijawab melalui penelitian selanjutnya.

Mikroprotein pertama kali ditemukan pada kisaran 1950-an saat terjadi ketakutan akan kekurangan sumber protein di masa depan ketika ketersediaan hewan ternak tak mampu lagi jadi sumber asupan manusia.

Di tengah kekhawatiran akan terjangkit penyakit malnutrisi seperti kwashiorkor, pada 1985 sebuah perusahaan Inggris berhasil menciptakan sumber protein selain daging yang terbuat dari Fusarium venenatum. (les)