Berburu 'Manhattanhenge' di Langit New York

REUTERS/Mark Kauzlarich, CNN Indonesia | Rabu, 13/07/2016 14:31 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Manhattanhenge adalah fenomena langka buruan para pencinta senja di New York. Ini hanya terjadi dua kali setahun di musim panas. 

New York dikenal sebagai 'skycrapper jungle', dimana gedung pencakar langit berbaris memenuhi jalanan. Namun, ada satu fenomena cantik yang kerap diburu para pencinta senja, Manhattanhenge namanya.
Fenomena ini terjadi ketika matahari seolah 'ditelan' barisan gedung, karena bola api itu terbenam tepat ditengah-tengah jalanan 42nd Street di area Times Square yang diapit barisan gedung-gedung tinggi. 
Berkas sinar matahari ditingkahi semburat jingga senja serta pantulan dari kaca gedung mencipta pemandangan istimewa. Itulah sebabnya Manhattanhenge kerap jadi buruan para pencinta senja. 
Terbukti dari kerumunan massa yang berlomba-lomba mengabadikan fenomena langka tersebut. Melansir CNN, Manhattanhenge hanya terjadi beberapa kali dalam setahun. 
Bahkan Walikota New York Bill de Blasio tidak ketinggalan mengabadikan momen cantik itu di Facebook Live dan ditonton 20 ribu kali. Sementara di jalanan warga New York memotret Manhattanhenge dengan ponsel mereka.
Istilah Manhatannhenge pertama kali dicetuskan oleh Neil deGrasse Tyson, direktur Hayden Planetarium. Nama itu diambil dari 'Stonehenge' yang juga terlihat indah saat sejajar dengan matahari terbit. 
Di media sosial, fenomena Manhattanhenge melahirkan banyak ungkapan baru. Salah satunya, 'senja terindah dari kota terhebat di dunia'. Media sosial seperti Instagram dan Facebook pun dibanjiri berbagai foto senja cantik di New York. 
Umumnya, Manhattanhenge terjadi dua kali dalam setahun di musim panas. Tahun ini, Manhattanhenge terlihat pertama kali pada tanggal 28 Mei dan yang kedua adalah pada Selasa(12/7).