Tapi, kecepatan pengiriman pesan tersebut ternyata bisa memengaruhi irama otak. Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Mayo Clinic, menemukan bahwa kebiasaan mengirim pesan teks melalui ponsel menimbulkan perubahan irama gelombak otak yang disebut ‘texting rhythm’.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasilnya, terdeteksi adanya ‘texting rhythm’ pada satu dari lima partisipan yang menggunakan ponsel untuk bertukar pesan.
Saat dimonitor, para partisipan diminta melakukan berbagai aktivitas, termasuk mengirim pesan teks dan melakukan panggilan jarak jauh. Peneliti kemudian melakukan tes fungsi kognitif dan tingkat perhatian pada peserta. Dari semua kegiatan yang diminta dilakukan, hanya aktivitas bertukar pesan teks yang menghasilkan irama otak unik.
"Kami percaya irama baru ini adalah tujuan metrik dari kemampuan otak untuk memproses informasi non verbal selama menggunakan perangkat elektronik, dan hal itu juga terhubung dengan perhatian atau emosi," kata Dr Tatum.
Menurut tim peneliti ini, temuan mengenai hal tersebut turut memiliki implikasi pada sejumlah skenario, termasuk hubungan otak dengan komputer dan juga saat bermain game.
Tak hanya itu, mereka pun mengatakan bahwa cahaya layar ponsel turut menjadi alasan pendukung mengapa bertukar pesan berbahaya dilakukan saat mengemudi.
"Masih banyak penelitian lain yang dibutuhkan, tapi kami sudah mulai mengungkap respon yang dihasilkan oleh otak ketika berhadapan dengan gadget,” tambahnya. (les)