Bertukar Pesan Singkat Bisa Mengubah Irama Otak

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Kamis, 30/06/2016 07:45 WIB
Bertukar Pesan Singkat Bisa Mengubah Irama Otak Bertukar pesan singkat yang kini sudah jadi bagian masyarakat dunia, ternyata bisa mengubah irama otak. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di era digital ini, komunikasi jarak jauh bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Hanya butuh hitungan detik agar pesan dapat terkirim.

Tapi, kecepatan pengiriman pesan tersebut ternyata bisa memengaruhi irama otak. Sebuah studi yang dilakukan peneliti dari Mayo Clinic, menemukan bahwa kebiasaan mengirim pesan teks melalui ponsel menimbulkan perubahan irama gelombak otak yang disebut ‘texting rhythm’.

Mengutip laman Daily Mail, temuan ini dapat dikaitkan dengan penggunaan layar kecil, yang memerlukan lebih banyak konsentrasi. Mereka pun berpendapat bahwa temuan ini juga memberikan alasan biologis mengapa orang tidak diperbolehkan bertukar pesan teks saat berada di belakang kemudi.


Penelitian yang mengaitkan gelombang otak dan kebiasaan bertukar pesan ini dipimpin oleh peneliti Mayo Clinic Dr William Tatum dan melibatkan 129 pasien yang tidak ataupun mengidap epilepsi. Para peneliti memonitor gelombang otak peserta selama 16 bulan menggunakan electroencephalograms (EEG) dan rekaman video.

Hasilnya, terdeteksi adanya ‘texting rhythm’ pada satu dari lima partisipan yang menggunakan ponsel untuk bertukar pesan.

Saat dimonitor, para partisipan diminta melakukan berbagai aktivitas, termasuk mengirim pesan teks dan melakukan panggilan jarak jauh. Peneliti kemudian melakukan tes fungsi kognitif dan tingkat perhatian pada peserta. Dari semua kegiatan yang diminta dilakukan, hanya aktivitas bertukar pesan teks yang menghasilkan irama otak unik.

"Kami percaya irama baru ini adalah tujuan metrik dari kemampuan otak untuk memproses informasi non verbal selama menggunakan perangkat elektronik, dan hal itu juga terhubung dengan perhatian atau emosi," kata Dr Tatum.

Menurut tim peneliti ini, temuan mengenai hal tersebut turut memiliki implikasi pada sejumlah skenario, termasuk hubungan otak dengan komputer dan juga saat bermain game.

Tak hanya itu, mereka pun mengatakan bahwa cahaya layar ponsel turut menjadi alasan pendukung mengapa bertukar pesan berbahaya dilakukan saat mengemudi.

"Masih banyak penelitian lain yang dibutuhkan, tapi kami sudah mulai mengungkap respon yang dihasilkan oleh otak ketika berhadapan dengan gadget,” tambahnya. (les)