Alat cukur tersebut adalah hasil kreasi dari sebuah perusahaan, Zafirro. Meski harga alat tersebut mencapai jutaan, namun itu adalah generasi kedua, Z2, yang lebih murah dibanding versi perdana seharga US$100 ribu atau Rp1,3 miliar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zafirro menyebutkan bahwa pergantian alat cukur setiap beberapa kali setelah bercukur adalah pemborosan. Di sisi lain, baja yang digunakan sebagai mata pisau cukur, menjadi limbah bagi lingkungan.
Adapun perhitungan hemat Zaffiro datang dari akumulasi jumlah pisau cukur yang digunakan selama satu tahun. Umumnya, pisau cukur harus diganti setelah tiga kali pemakaian, jika dijumlahkan, nilainya bisa mencapai US$190 atau Rp2,5 juta per tahun.
Sementara, pisau cukur Zaffiro terbuat dari safir dan bisa diganti setiap enam bulan. Dengan kata lain Zaffirro ‘hanya’ menghabiskan dana sebesar US$120 (Rp1,5 juta) selama satu tahun.
Selain penghematan, Zaffiro juga mengemban misi lain yakni mengajak pembeli mulai mengurangi biaya tahunan guna membeli pisau cukur. Mereka juga menyebutkan bahwa ada lebih dari dua miliar pisau cukur terbuang setiap tahunnya dan belum ada cara untuk mendaur ulang. (les)