Mengunjungi Korea Utara di Spanyol

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Kamis, 11/08/2016 17:32 WIB
Mengunjungi Korea Utara di Spanyol Sebuah restoran di Spanyol menawarkan makanan khas dan budaya Korea Utara. (John Pavelka/Wikimedia Commons)
Jakarta, CNN Indonesia -- Korea Utara merupakan negara yang memiliki kesan misterius. Seluruh informasi tentang Korea Utara, dijaga ketat oleh pemerintah. Bahkan wisatawan yang berkunjung pun juga harus didampingi dengan penduduk lokal.

Bukan hal yang mudah berkunjung ke negara tersebut.

Namun, jika penasaran dengan Korea Utara, ada cara mudah. Kunjungi saja sebuah bar di Spanyol. Pyongyang Cafe namanya.


Melansir laman Oddity Central, bar yang menggambarkan sebagian kecil Korea Utara ini terletak di dekat Laut Mediterania, tepatnya di kota Tarragona.

Pemiliknya, Alejandro Cao de Benos membuatnya untuk memperlihatkan pada masyarakat tentang rezim militer Kim Jong-Un.

Ada alasan tersendiri kenapa Benos melakukan hal tersebut, Benos sempat menempati salah satu pos di sana. Itu membuat Benos menjadi tertarik dengan Korea Utara, terlebih lagi setelah jatuhnya Uni Soviet saat itu. 

Ketertarikannya itu kemudian berhasil membawanya menyambangi beberapa negara Asia yang terisolasi. Pun ia sempat bertemu dengan mendiang Kim Jong-Il, dan pada 2002 ia diangkat menjadi delegasi khusus pada hubungan internasional dengan Pyongyang. Benos pun mengganti namanya dengan Cho Sun-Il yang dalam bahasa Korea sendiri artinya ‘Korea is One’.

"Kami ingin mematahkan mitos [tentang Korea Utara]," papar Benos menungkapkan alasannya membuka Pyongyang Cafe. “Alasan lainnya karena banyak orang yang tidak bisa pergi ke Korea Utara lantaran sulit dan jauh. Lewat kafe ini, mereka bisa sedikit mengetahui tentang Korea Utara.”

Benos tidak mengada-ada. Interior kefe dibuat semirip mungkin dengan suasana di Korea Utara. Dinding bar dicat dengan bendera negara komunis tersebut. Selain itu, terdapat sejumlah poster yang sengaja dibawa dari Pyongyang sebagai penghias ruangan. Bahkan, Benos juga memajang satu rak yang penuh dengan buku yang dibuat pada dinasti Kim, sejak 1948.

Sajian khas Korea Utara juga menjadi menu utama di Pyongyang Cafe. Benos mengklaim bahwa bar ini merupakan satu-satunya bar bernuansa Korea Utara bagi masyarakat di belahan Barat. Sebelumnya, sebuah kafe serupa juga pernah dibuka di Amsterdam, Belanda pada 2012, namun beberapa bulan setelahnya, kafe tersebut tutup.

Benos berharap kafe tersebut akan sukses. Ia optimistis lantaran Pyongyang Cafe kini menerima 35 pengunjung setiap harinya. Sejumlah strategi juga telah ia siapkan untuk meningkatkan jumlah pengunjung, seperti menjadikannya sebagai pusat kebudayaan Korea Utara lengkap dengan makanan khas, tradisi, atau pun pemutaran film dokumenter. (les)