Korea Utara Gelar Festival Bir Pertama

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Rabu, 17/08/2016 13:47 WIB
Korea Utara Gelar Festival Bir Pertama Ilustrasi. (antonioandrade1/Pixabay
Jakarta, CNN Indonesia -- Terkenal dengan keketatan pemerintah negaranya, Korea Utara (Korut) kini tampak mulai membuka diri. Setelah sebelumnya mengeluarkan film komedi romantis yang bisa disaksikan secara daring melalui Vimeo, kini Korut menggelar sebuah festival yang cukup menarik perhatian.

Dikutip dari Lonely Planet, acara bertajuk The Pyongyang Taedonggang Beer Festival digelar di tepi sungati Taedon. Sejumlah pelayan berpakaian seragam putih dan biru itu melayani tamu yang hadir. Mereka membawa satu gelas besar bir untuk disajikan.

Kantor berita China, CCTV+, melaporkan acara ini telah berhasil menarik 800 warga, wisatawan, dan tamu asing yang tengah berada di negara itu.


Selain bir, dalam festival itu juga disediakan makanan ringan dan ayam goreng. Tamu yang hadir juga disuguhi sebuah pertunjukan musik dan pidato. Ini dilakukan sebagai bentuk kemeriahan festival bir pertama di Korut.

Festival ini memang terbilang kecil jika dibandingkan dengan festival serupa di dunia. Festival juga tampak digelar dengan sangat rapi. Semua tamu duduk di kursi sambil berbincang.

Acara yang berlangsung selama 20 hari ini diselenggarakan untuk mempromosikan bir Taedonggang, merek bir ternama di negeri komunis tersebut.

Bir tersebut merupakan racikan sendiri yang kini cukup digemari warga di sana. Korea Utara pertama kali membuat bir pada 2002, setelah membeli sejumlah peralatan dari Inggris.

Sebelumnya, 'isi' Korea Utara memang tidak terekspos. Seluruhnya dijaga ketat oleh pemerintah. Karena itu, seorang warga negara Spanyol, Alejandro Cao de Benos, akhirnya membangun sebuah kafe bertema Korea Utara di kota Tarragona, Spanyol.

Dia menggambarkan sebagian kecil Korea Utara dengan membawa nuansa negara itu ke kafe miliknya.

Interior kafe dibuat semirip mungkin dengan suasana di Korea Utara. Dinding bar dicat dengan bendera negara komunis tersebut. Selain itu, terdapat sejumlah poster yang sengaja dibawa dari Pyongyang sebagai penghias ruangan.

Bahkan, Benos juga memajang satu rak yang penuh dengan buku yang dibuat pada dinasti Kim, sejak 1948. Sajian khas Korea Utara juga menjadi menu utama di Pyongyang Cafe. Benos mengklaim bahwa bar ini merupakan satu-satunya bar bernuansa Korea Utara bagi masyarakat di belahan Barat.

(meg/meg)