Alih Fungsi Si Merah Ikon Kebanggaan Inggris

Vega Probo, CNN Indonesia | Selasa, 16/08/2016 23:37 WIB
Alih Fungsi Si Merah Ikon Kebanggaan Inggris Seiring maraknya ponsel pada era 1990-an, fungsi boks telepon merah di Inggris kini tak lagi sama. (Thinkstock/Marek Slusarczyk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seiring maraknya ponsel pada era 1990-an, fungsi boks telepon merah di Inggris kini tak lagi sama. Menurut laman Digital Trends, jumlah pengguna maupun operator telepon koin makin menyurut.

Sejak diperkenalkan pertama kali pada 1924, si merah menjadi kebanggaan warga dan incaran wisatawan. Kini, jumlahnya makin berkurang, kondisi sebagian di antaranya pun merana. Ada yang tak berfungsi, ada pula yang menjadi korban vandalisme.

“Kasihan nasib si merah. [Padahal] dulu dipuja-puja,” kata Tuni Nurmadiyani, WNI yang bermukim di Chesire via akun Facebook. Menurutnya, kini “banyak boks telepon merah yang dijual ke luar negeri dari harga seribu sampai tiga ribu poundsterling.”


“Telepon menjadi korban vandalisme karena tidak berfungsi lagi,” kata John Cleese dari grup komedi Monty Python, dikutip Digital Trends, beberapa waktu lalu. Sekalipun kondisinya merana, tidak lantas boks telepon merah ikonik nan legendaris ini dienyahkan.

“Boks telepon merah masih dipertahankan sebagai ciri pariwisata,” kata Ukirsari Ingram, WNI yang menetap di Islington. Beberapa yang masih berfungsi baik, ada di sekitar Charing Cross, South Bank, West End, Trafalgar Square, dan Downing Street.”

“Boks telepon di dekat Seven Sisters dicat hijau tua. Cantik,” kata Ukirsari kepada CNNIndonesia.com, baru-baru ini. Selain masih difungsikan sebagai alat komunikasi, sejumlah boks telepon merah juga diberi fungsi baru, dari kedai mungil sampai kantor mini.

Ben Spier yang beberapa waktu lalu, membuka salad bar di beberapa boks telepon di jantung kota London. Buka dua hari sepekan, boks teleponnya berisi kulkas mungil, cukup untuk menyimpan beragam makanan sehat seharga antara US$6 dan US$11.

Hal serupa juga dilakukan oleh Red Kiosk Company. Sejak beberapa tahun lalu, menyewakan boks telepon untuk bisnis kecil-kecilan, atau bisnis besar. Si pebisnis bisa menyewa boks telepon sekitar US$15 per hari, atau membeli kurang lebih US$15 ribu.

“Boks telepon merah yang ikonik ini hebat secara teknik maupun arsitektur, kini kebanyakan tak lagi digunakan,” Red Kiosk di website-nya. “Kami mengalihfungsikannya agar sesuai kebutuhan masa kini, tanpa mengubah penampilan luarnya.”

Beberapa bulan lalu, Bar Works, yang berbasis di New York, Amerika Serikat, juga mengalihfungsikan boks telepon merah menjadi kantor mini yang dilengkapi komputer personal, layar monitor 25 inci, scanner, printer, mouse dan koneksi Wi-Fi.

Menurut laman Express, idenya berawal dari keinginan segenap orang untuk memiliki kafe dan kantor alternatif. Proyek alih fungsi boks telepon merah ini telah diluncurkan di kota-kota di Inggris, termasuk London, Leeds dan Plymouth.

Boks telepon di Edinburgh telah dialihfungsikan menjadi anjungan tunai mandiri, gerai retail dan bahkan kios semir sepatu. “Inisiatif baru ini memanjakan para profesional yang sibuk di Edinburgh,” kata Neil Scoresby, petinggi perusahaan payphone BT.

“Kami senang melihat banyak boks telepon kuno yang semula tak terpakai kemudian bisa diberi fungsi baru,” kata Scoresby. “Komunitas setempat bisa mempertahankan ikon lokal yang orisinal dan memberi fungsi baru sesuai napas lokal.”

Bar Works menyebut kantor mini yang menempati bekas boks telepon merah sebagai ruang alternatif bagi mereka yang sibuk tapi enggan melanjutkan pekerjaan di kafe yang bising dan ramai. Apalagi harga kopinya rata-rata relatif mahal.

“Pebisnis membutuhkan ruang kerja yang privat dan terjangkau,” kata Jonathan Black, petinggi Bar Works. Jadi, “mengapa harus duduk di Starbucks atau bar kopi lain jika ada kantor mini yang memudahkan orang-orang lebih fokus pada pekerjaan?”

Boks telepon merah bekas juga kini difungsikan sebagai Solarbox, tempat mengisi daya baterai dengan tenaga solar. Laman Euro News mengabarkan, boks telepon merah ini hanya buka pada siang hari dan tutup pada malam hari.

Sementara itu, laman Business Insider mengabarkan, di Hampstead High Street, juga ada toko kopi Kape Barako milik pasangan Umar Khalid dan Alona Guerra. Mereka menyewanya dari Red Kiosk Company, karena tak ingin benda ikonik ini ditelantarkan. (vga/vga)