Clubsterben, Krisis yang Menghantui Klub Malam Berlin

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Kamis, 22/09/2016 23:01 WIB
Clubsterben, Krisis yang Menghantui Klub Malam Berlin Klub malam di Berlin kini tengah terancam Clubsterben yang mereka sebut sebagai kematian klub. (Pixabay/dantetg)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dari dansa swing, salsa, bachata, tango, hingga musik elektronik, Berlin punya semua hal yang bisa memenuhi keinginan para pencinta kehidupan malam.

Bahkan, di era 60an, Berlin sempat membuat kehebohan dengan terang-terangan menghadirkan klub malam seksi, yang kemudian digambarkan dalam film ‘Cabaret’. Hingga kini, nyaris 6 dekade kemudian, Berlin masih dianggap sebagai pusat kehidupan malam di Eropa.

Sebut saja RAW, kawasan tua berhias grafiti yang berlokasi di bekas bengkel kereta di bagian timur kota, yang menjadi rumah bagi berbagai macam klub malam, bar, serta kedai bir.


Di sana, warga Jerman dan wisatawan bersama-sama menikmati kehidupan malam yang ditawarkan Berlin. Mereka dengan bebas berjingkrak diiringi musik punk rock, EDM, hardcore, metal, rap, hip-hop di klub bernama nyentrik seperti Cassiopeia dan Suicide Circus.

“Kehidupan malam di Berlin seperti petualangan. Setiap hari, Anda bisa menikmati hal yang berbeda,” kata Richard Shawn, warga Inggris yang kini berdomisili di Berlin, dikutip Reuters.

“Sangat liar, sangat bebas dan tidak pernah berakhir. Anda mungkin melupakan nama orang atau tempat, tapi tidak dengan kehidupan malam di Berlin.”

Tapi, tidak ada yang abadi, termasuk juga dengan ingar-bingar kehidupan malam Berlin. Musik dan kebebasan yang kerap dicari para pemburu kesenangan, kini terancam tingginya harga sewa properti dan lahan yang semakin sempit.

Faktanya, banyak klub malam di Berlin yang terpaksa tutup akibat tak mampu lagi membayar harga sewa yang tinggi.

Sebut saja klub-klub di Prenzlauer Berg, distrik yang berlokasi Berlin Timur. Usai runtuhnya Tembok Berlin, distrik tersebut berkembang menjadi surga partygoers. Namun, pemukiman penduduk yang terus bermunculan, memaksa barisan klub itu untuk tutup dan hijrah.

“Banyak komplain soal kebisingan klub dari masyarakat yang membuat klub akhirnya tutup,” kata Simone Braun, salah satu pemilik klub. “Alasan lainnya adalah pembangunan perumahan dan apartemen.”

Braun menyebut tren 'Clubsterben' atau kematian klub, sedang meningkat di Berlin.

Klub miliknya, Pogo Tussy, dirobohkan untuk dijadikan lahan bagi apartemen baru.

“Rasanya sedih, menyerahkan gedung setelah 13 tahun. Tapi, apa boleh buat,” tuturnya.

Meskipun begitu, bagi para pencari kesenangan, pesta malam di Berlin masih terus berlanjut. Ada beberapa klub legendaris yang masih berdiri.

Berghain, salah satunya. Para fanatik musik tekno mewajibkan diri mengunjungi Berghain saat berada di Berlin. Tak heran, setiap malam, antrian mengular hingga 100 meter, di klub bekas gedung pembangkit tenaga listrik.

Antrian itu menjadi berkah bagi kedai bir di sekitar klub, yang meraup untung dari para penunggu keriaan pesta di Berghain.

Mereka yang enggan menunggu, bisa mencoba berbagai alternatif, seperti Salon Zur wilden Renate, klub bertingkat yang berlokasi di gedung bekas apartemen atau About Blank, klub malam yang bertempat di sebuah taman dan Sisyphos, klub unik di bekas pabrik makanan anjing.

Penggemar atraksi kinky bisa mengunjungi Insomnia, dimana pengunjung harus menukar baju dengan kostum ketat dari kulit dan lateks. Klub itu juga membebaskan pengunjungnya melakukan apa yang mereka suka.

“Di sini adalah kebebasan mutlak. Orang bisa datang mewujudkan mimpi terliar mereka. Tidak ada batasan dan larangan,” kata Dominique, pemilik Insomnia.

Namun, tidak ada yang tahu kapan ‘kematian’ klub itu menghampiri. Dengan kata lain, selama pengunjung masih terus membanjir, kehidupan malam Berlin akan tetap mengalir. (les)