Lancong Semalam

Wisata Satu Malam di Bangka

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 03/10/2016 17:49 WIB
Wisata Satu Malam di Bangka Pantai Tikus di Bangka. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pastikan untuk mengetahui perbedaan Belitung dan Bangka sebelum mengunjungi salah satu pulau yang masih dalam satu provinsi itu.

Pulau Belitung terkenal dengan objek wisata pantai--seperti yang terlihat dalam film Laskar Pelangi, sementara Pulau Bangka terkenal dengan objek wisata sejarahnya--salah satunya mengenai asal usul penambangan timah di Indonesia.

Sejumlah maskapai penerbangan telah melayani rute perjalanan dari dan ke Belitung serta Bangka.


Bandar udara di Belitung bernama H.A.S. Hanandjoeddin, yang terletak di Tanjung Pandan. Sementara di Bangka, bandar udaranya bernama Depati Amir, yang terletak di Pangkal Pinang.

Tarif tiket penerbangannya pun sangat terjangkau, mulai dari Rp450 ribuan.

Belitung dan Bangka hanya dipisahkan oleh penerbangan udara selama sekitar 30 menit dan penyeberangan laut--dari Pelabuhan Pangkal Balam di Bangka, ke Pelabuhan Tanjung Pandan di Belitung, selama sekitar 4 jam.

Dengan jarak yang tidak terlalu jauh, tidak ada salahnya untuk mampir ke Bangka sebelum mengunjungi Belitung.

Tak perlu bingung memilih tempat menginap di Bangka. Sedikit berbeda dengan Belitung, di pulau ini pilihannya jauh lebih banyak, bahkan ada beberapa hotel bintang tiga sampai empat yang tersedia, dengan tarif mulai dari Rp500 ribuan per malam.

Salah satunya pilihannya ialah Hotel Menumbing, yang berada di pusat kotanya, Pangkal Pinang. Bagi turis yang sama sekali buta akan Bangka, Hotel Menumbing memberi tamunya lembar informasi wisata Bangka, yang berisi mulai dari alamat restoran, obyek wisata sampai rumah sakit, berikut dengan peta jalan.

Terlebih, hotel yang dinobatkan sebagai ikon budaya oleh Dinas Pariwisata Pulau Bangka ini terbilang cukup strategis, karena hanya berjarak sekitar 20 menit ke Bandar Udara Depati Amir dan ke Pelabuhan Pangkal Balam.

Untuk berkendara, lebih baik menyewa mobil pribadi, dengan tarif mulai dari Rp450 ribuan selama 12 jam. Karena meski sudah ada taksi dan angkutan umum, namun sebagian besar hanya beroperasi sampai pukul sepuluh malam.

Suhu di Pangkal Pinang cenderung tropis, tidak berbeda jauh dengan Jakarta. Saat dikunjungi pada pertengahan September, cuaca cerah terasa sampai pukul satu siang, setelah itu hujan besar mengguyur sampai menjelang pukul lima sore.

Jika hanya punya waktu satu malam di Bangka, berikut beberapa tempat yang bisa dikunjungi: 

Restoran Mr. Adox

Tujuan pertama ialah makan siang di Restoran Seafood Mr. Adox, yang berada di Jalan Alexander Raya.

Seperti namanya, sajian makanan laut pun menjadi hidangan utamanya, mulai dari Udang Saus Padang, Kepiting Saus Padang, Kepiting Ketam (berbumbu tape manis), Ikan Katarap Lempah Kuning, Ikan Tenggiri Kuning dan Sotong Tepung.

Ikan Katarap Lempah Kuning. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sekilas, menu makanannya tidak berbeda jauh dengan yang ada di kota lain. Namun, di sini masakannya diolah sedikit lebih asam, karena penduduknya gemar menambahkan perasan Jeruk Kunci (semacam jeruk nipis), beserta cabai, tomat dan kecap asin.

Secara garis besar, rasa yang dihasilkan mirip dengan Tom Yam, hanya saja sedikit lebih manis.

Selain rasa, hal lain yang membedakan ialah kesegaran hasil laut yang dimasak. Dijelaskan salah satu pelayannya, setiap hari mereka menggunakan hasil laut yang baru ditangkap dari perairan. Hasilnya, daging yang dikunyah pun terasa lebih juicy dan tidak berbau amis.

Museum Timah

Selesai makan siang, CNNIndonesia.com melanjutkan perjalanan ke Museum Timah yang berada di Jalan Ahmad Yani.

Bangunan museum ini merupakan peninggalan Belanda pada abad ke-17. Museumnya dikelola oleh PT. Timah Tbk. sejak tahun 1997.

Turis di Museum Timah. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Sejak pertama kali masuk ke dalam ruangannya, penjelasan mengenai sejarah pertambangan timah di Bangka dan Belitung terpajang dengan jelas. Ditambah lagi dengan beberapa alat peraga yang dipajang.

Dari museum ini, dijelaskan pula sejarah eksistensi penduduk China di Bangka--yang awalnya didatangkan Belanda untuk menambang timah hingga akhirnya menjadi penduduk mayoritas.

Penting untuk mengunjungi museum yang tidak menarik bayaran bagi pengunjungnya ini. Sebabnya, museum ini menjadi satu-satunya museum tentang timah yang berdiri di Indonesia dan dunia.

Jika tertarik membeli kerajinan dari timah, museum ini juga membuka galeri di belakang bangunannya.

Es Kacang Merah Ayong

Hujan sempat turun dengan lebat sampai pukul tiga sore. Setelah cuaca kembali cerah, udara gerah pun kembali terasa. Menikmati minuman dingin menjadi pilihan selanjutnya. Oleh karena itu, kios Es Kacang Merah Ayong di Jalan Jeletung bisa disebut istimewa, karena serutan es di kios ini sangat lembut, hampir mirip dengan yang disajikan di beberapa restoran Korea.

Gundukan serutan es yang menutupi butiran kacang merah dilumuri susu putih disajikan dalam mangkuk sedang. Setelah disendok ke mulut, sensasi segar dan manis pun terasa.

Kalau tidak terlalu suka rasa manis yang berlebihan, bisa juga memilih untuk tidak menggunakan susu, karena kacang merahnya sudah memiliki rasa manis.

Pusat Oleh-oleh LCK

Sebelum pulang ke hotel, bisa menyempatkan diri untuk belanja oleh-oleh khas Bangka di Toko LCK yang terletak di Jalan Sudirman.

Kerupuk ternyata menjadi barang dagangan utamanya. Bahan dasarnya mulai dari ikan, udang dan sotong.

Toko LCK. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Selain kerupuk, mereka juga menjual oleh-oleh lain, seperti terasi, kopi dan abon pedas. Pecinta kopi ditawarkan dua merek yang populer, Bintang dan King Kong.

Bagi yang membeli dalam jumlah banyak, mereka juga menyediakan jasa pengiriman, sehingga tidak perlu repot menenteng kardus saat pulang ke kota tujuan.

Makan Malam Mewah di Hotel Menumbing

Bagi mereka yang ingin menikmati fine dining, Hotel Menumbing menyediakan menu mewah yang ditangani langsung oleh perusahaan katering Culture Royale yang berbasis di Jakarta. 

Menu makan malam disajikan beragam, mulai dari menu seafood sampai steak. Tak hanya makanan utamanya, menu makanan penutupnya pun disajikan dengan serius, salah satunya dengan menyajikan berbagai jenis rasa macaroon.

Martabak Acau 89

Jika masih ngidam makanan manis, martabak sudah pasti jadi pilihan saat berkunjung ke Bangka.  kios Martabak Acau 89 di Jalan Soekarno Hatta.

Antrian pembeli masih terlihat mengular, walau satu jam lagi kios ini akan segera tutup. Tanpa pikir panjang, pilihan pun jatuh pada Martabak Telur Bebek dan Martabak Jagung Manis.

Martabak Telur Bebek. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Setelah menyicipi Martabak Telur Bebek, baru terasa betapa khasnya martabak olahan asli Bangka. Di sini, isian martabak telornya terasa seperti kari yang kaya rempah. Ketebalan martabak telornya pun tidak perlu diragukan lagi.

Martabak Jagung Manis bisa dibilang pilihan yang cukup tidak biasa, dibanding pilihan manis lainnya yang tersedia. Berwarna hijau dengan butiran jagung dan serutan keju, martabak ini diolah dengan rasa manis yang tidak berlebihan.

Sempat berbincang dengan supir yang mengantar, ia menjelaskan kalau Kota Pangkal Pinang hanya ramai sampai pukul dua pagi. Selebihnya kota itu akan tertidur, dan beraktifitas kembali mulai pukul lima pagi.

Keramaian hingga dini hari itu biasanya berpusat di kedai kopi, yang memang sangat mudah ditemukan di pinggir jalan. Menu yang disajikan pun tidak berbeda dengan kopitiam yang ada di kota lain.

Vihara Puri Tri Agung

Jika punya waktu lebih di Bangka, hari kedua bisa dimulai dengan mengunjungi Vihara Puri Tri Agung yang berada di kawasan Sungai Liat.

Bangunan berbentuk pagoda berwarna kuning dan merah ini dibangun sejak 2012 dan baru diresmikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin pada tahun lalu.

Salah satu sudut beribadah di Vihara Puri Tri Agung. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Setelah diresmikan, bangunan ini diperuntukkan sebagai pusat beribadah pemeluk agama Buddha, Khongfutze dan Laotze.

Namun, pengelola vihara tetap mengizinkan turis untuk berkunjung, asal tetap menjaga kenyamanan pemeluk agama yang sedang beribadah.

Pantai Tikus

Kecantikan Vihara Puri Tri Agung berpadu dengan keindahan alam Pantai Tikus yang berada di seberangnya. Hanya tinggal berjalan kaki menuruni bukit untuk sampai ke pantai berpasir putih dan berbatu besar itu.

Pantai Tikus. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Pastikan mengenakan alas kaki yang nyaman, karena satu-satunya akses untuk menuju pantai ialah berjalan perlahan di lahan berpasir sekaligus menurun.

Sampai di pantai yang dulu dijadikan lokasi penambangan timah ini, turis bisa langsung menggelar piknik, memancing atau berfoto.

Memancing di Pantai Tikus. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Dari Pantai Tikus, turis bisa menikmati pemandangan pagoda di Vihara Puri Tri Agung, perkebunan mangga dan pulau-pulau kecil yang ada di seberangnya.

Jangan bayangkan pantai ini seramai Pantai Kuta di Bali, karena tampaknya belum terlalu banyak pihak yang menyediakan fasilitas menikmati suasana pantai di sini.

Pauw Kopitiam

Selesai berpanas-panasan di Vihara Puri Tri Agung dan Pantai Tikus, ada warung makan Pauw Kopitiam yang berada tidak jauh, di Jalan R.E. Martadinata.

Perlu dicatat, warung makan ini selalu ramai setiap harinya, dan hanya buka selama dua sesi, pukul 06.00 sampai 14.00 dan pukul 17.00 sampai 19.00.

Nasi Siram Seafood. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Warung makan ini menyediakan berbagai menu, dari masakan Asia sampai Eropa.

Melihat menu, berbagai masakan dengan olahan laut menjadi andalannya, seperti Kwetiau Kuah Ikan dan Nasi Siram Seafood. Jangan lupa untuk memesan Jus Nanas yang segar sebagai penutup.

Bangka Botanical Garden

Penyuka wisata alam bisa melanjutkan perjalanan ke Bangka Botanical Garden.

Bangka Botanical Garden. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Lagi-lagi, pemerintah Bangka menyulap bekas lokasi penambangan timah ini sebagai lokasi wisata. Di sini, terdapat tempat pemancingan dan pengolahan susu murni, yang bisa langsung dinikmati di tempat.

Susu murni yang dijual di Bangka Botanical Garden. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Bagi yang membawa keluarga, Bangka Botanical Garden terbilang cocok untuk dikunjungi, karena teduhnya pepohonan dan lahan yang luas untuk tempat bermain anak-anak.

Otak-otak Amui

Untuk penyuka camilan, ada kios Otak-otak Amui yang berada di Jalan Melintas.

Tak berbeda jauh dengan kios Es Kacang Merah Ayong, kios ini juga menyediakan menu Es Kacang Merah. Yang berbeda, kios ini menyediakan menu otak-otak bakar dan rebus.

Otak-otak bakar. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Seperti otak-otak bakar pada umumnya, di sini daging ikan tenggiri di bakar dalam balutan kulit pisang. Dua sambal merah pun bisa menjadi pilihan, dengan perasan jeruk atau kacang tanah.

Selain yang dibakar, ada pula yang direbus. Bagi yang tidak bermasalah dengan bau amis ikan, menu ini wajib dicoba selama berkunjung di Bangka.

Otak-otak rebus. (CNN Indonesia/Ardita Mustafa)

Ketika dikunjungi, antrian sudah lumayan panjang. Terlihat pula beberapa karyawan hotel yang memesan dalam jumlah banyak untuk tamunya. (les/les)