Segores Cerita di Balik Sehelai Batik

Edward Hutabarat, CNN Indonesia | Minggu, 02/10/2016 17:25 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi Edward Hutabarat, pembatik diibaratkan seperti penari Bedoyo yang harus tahu bagaimana menyatukan gerakan dengan alunan gamelan. Seorang penari Bedoyo juga harus tahu apa arti di balik lirik yang dinyanyikan para sinden.

Demikian pula para pembatik, ketika membasahi canting dengan malam, seorang pembatik harus tahu betul seberapa panas malamnya. Pembatik pun juga harus tahu seberapa banyak dia harus mengisi cantingnya, sampai seberapa kuat tiupannya ke ujung canting.

Proses perjalanan sebuah kain menjadi kain batik tulis yang tak cuma indah tapi sarat makna, harapan, dan doa tak terjadi dalam waktu yang singkat. Ada banyak proses yang harus dilalui untuk membuat batik tulis dari awal sampai akhir.

Bukan cuma prosesnya yang membuat harga selembar kain batik punya harga mahal. Tapi seni, doa, ketulusan, dan jiwa yang menyertai dalam tiap goresannya yang membuatnya jadi tak ternilai harganya.

Di balik bidikan lensanya, Edward Hutabarat ingin menyuarakan bahwa batik bukanlah tren. Batik bukan fesyen, apalagi kain tradisional. Batik adalah kain peradaban bangsa yang dibuat secara beradab dan sarat makna.