Pengakuan UNESCO untuk Batik Bagai Pisau Bermata Dua

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Minggu, 02/10/2016 10:54 WIB
Di satu sisi, pengakuan UNESCO memberikan semangat bagi produsen batik printing. Tapi di sisi lain, membuat produksi batik tradisi terpuruk. Perajin batik Danar Hadi, Solo, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Maulana Surya/Koz/mes/14)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di era sekarang, agaknya batik semakin diminati masyarakat luas. Batik tak lagi dipandang sebagai sesuatu yang kuno, melainkan unik. Beberapa orang pun sudah mengenakan batik layaknya busana sehari-hari.

Ketertarikan masyarakat terhadap batik tentu tak lepas dari campur tangan produsen batik. Mereka berlomba-lomba menciptakan motif batik terbaru dengan warna-warna yang cerah. Tak hanya itu, potongan busana yang dijual juga semakin modern.

"Itu berarti prospek batik di masa depan akan sangat luar biasa," ujar Nita Kenzo kepada CNNIndonesia.com, di acara Batik Fashion Week 2016 di Jakarta, belum lama ini.



Ia menambahkan, "Apalagi setelah pencanangan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, pemerintah mewajibkan dalam satu minggu harus ada batik dalam satu hari. Bahkan ada yang dua hari [dalam seminggu], dan ada juga yang enam hari pakai batik lalu satu hari pakai baju bebas."

Menurutnya, hal tersebut dapat dijadikan senjata untuk menguatkan industri batik, pun membangkitkan batik di seluruh Indonesia.

Wanita yang kini menjabat sebagai Ketua Yayasan Batik Indonesia ini juga mengaku bangga melihat banyak provinsi di Indonesia yang mulai membuat motif batik dengan ciri khasnya masing-masing.

"Padahal sebelumnya enggak punya batik," katanya. "Tapi kemudian mereka membuat batik dari hasil kota mereka dan itu adalah sebuah kemandirian bagi provinsi mereka karena tidak perlu lagi membeli batik dari daerah lain."

Selain itu, tambahnya, produksi batik dari masing-masing daerah dianggapnya bisa mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran lantaran masyarakat memiliki lapangan pekerjaan baru. Bahkan, jika ditekuni lebih lanjut, menjadi perajin batik juga dapat meringankan beban ekonomi keluarga.

"Tapi perlu diingat," ujarnya serius, "kita harus tetap mendahulukan batik tradisi [batik tulis dan batik cap]. Itu yang utama. Saat ini serangan printing juga luar biasa."

Nita beranggapan bahwa penghargaan yang diberikan oleh UNESCO tersebut bagaikan pisau bermata dua. Pasalnya, di satu sisi penghargaan tersebut memberikan semangat yang luar biasa pada produsen batik printing. Namun, di sisi lain justru membuat produksi batik tradisi semakin terpuruk.

Untuk itu, salah satu cara yang ia gunakan untuk melestarikan batik tradisi adalah dengan program Batik Karya Saya yang diselenggarakan dalam acara Hari Batik Nasional. Di program itu, Yayasan Batik Indonesia memberikan lokakarya membatik kepada 50 siswa jurusan tata busana di SMK 27 Jakarta.

"Dengan begitu, mereka akan tahu mana yang batik dan mana yang bukan, tanpa harus melihat prosesnya. Karena batik itu bukan benda, melainkan proses pembuatan," jelas Nita. "Jadi kalau ingin anak cinta dengan batik, maka harus mengerti prosesnya seperti apa." (vga/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK