Batik Karya Saya, Sang 'Rookie' Perajin Batik Muda

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Minggu, 02/10/2016 14:16 WIB
Batik Karya Saya, program yang baru dicanangkan tahun ini guna memberikan rasa bangga pada anak muda terhadap batik. Remaja putri di Tuban piawai membatik. Kini, siswa SMK di Jakarta pun berkesempatan belajar membatik. (ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo/ss/nz/15)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tujuh tahun sudah batik ditabalkan sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Sejak saat itu pula Indonesia mencanangkan Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.

Biasanya, sebagian masyarakat merayakan hari spesial ini dengan mengenakan batik favorit, baik berupa pakaian, gaun, kain, celana, maupun pernik seperti bando, scarf, dompet atau tas.

Pada tahun ini, sejumlah acara digelar guna memperingati Hari Batik Nasional. Salah satunya, acara dengan nama serupa: Hari Batik Nasional, yang akan diselenggarakan selama satu pekan, mulai hari ini, Minggu (2/10).




Salah satu program menarik yang ditawarkan yaitu Batik Karya Saya. Program yang baru dicanangkan tahun ini guna memberikan rasa bangga pada anak muda terhadap batik, juga menelurkan para 'rookie' perajin batik muda.

"Jadi anak muda paham bahwa dengan membatik, mereka bisa berbuat banyak. Misalnya, membuat baju sendiri, minimal. Mungkin nantinya berkembang jadi bisa bikin batik untuk keluarga atau temannya," ujar Nita Kenzo sebagai Ketua Yayasan Batik Indonesia sekaligus ketua panitia acara Hari Batik Nasional.

Selain itu, Nita menambahkan, "Program ini juga bisa mengembangkan kreativitas mereka. Mereka bisa menjadi bibit unggul untuk mengembangkan batik di Indonesia."

Menurutnya, salah satu permasalahan batik Indonesia kini adalah kurangnya generasi penerus perajin batik atau yang ia sebut sebagai regenerasi perajin batik.

"Mereka jadi bisa melihat secara langsung proses membatik," tambahnya, "tidak hanya dari televisi atau di desa yang ada perajin batiknya saja."

Maka dari itu, "Kami memberikan pelatihan membatik ini agar mereka lebih mencintai batik dengan tidak hanya melihat hasil akhirnya saja, tapi juga melihat prosesnya," papar Nita secara khusus kepada CNNIndonesia.com.

Pelatihan tersebut diberikan secara cuma-cuma oleh Yayasan Batik Indonesia kepada SMK 27 Jakarta. Sekolah tersebut dipilih lantaran memiliki jurusan tata busana. "Kami menganggap kalau keterampilan batik itu sangat relevan dengan tata busana," kata Nita.

Rupanya keputusan memilih SMK 27 Jakarta pun tepat. Sekitar 50 siswa yang ditunjuk oleh guru untuk mengikuti pelatihan ini mampu mengkreasikan batik dengan apik.

"Kreativitas mereka berkembang, termasuk saat membuat ornamen batik. Mereka sudah bisa membayangkan, jika membuat motif seperti ini nantinya pola bajunya akan seperti apa," kata Nita.

Pelatihan tersebut telah diberikan sebanyak 13 kali selama September. Para siswa memulai latihannya setiap pulang sekolah. Jumlah siswa yang tak banyak pun membuat pelatih batik sanggup memantau perkembangan mereka satu per satu.

"Kami memang menganjurkan 50 siswa saja dulu karena ini baru pertama kali dibuat [programnya]. Kalau terlalu banyak, takut nanti instruktur enggak bisa meng-handle satu per satu," kata Nita.

Ia juga optimis bahwa siswa yang berkesempatan menjadi perwakilan sekolah ini mampu mengajarkan rekan sekolah lain. Nantinya, hasil batik yang dibuat oleh siswa-siswa sekolah kejuruan tersebut akan digunakan saat pawai pada Minggu (2/10) saat Car Free Day.

Jika Anda tertarik melihat kegiatan Hari Batik Nasional, Anda bisa berkunjung ke Museum Nasional di kawasan Medan Merdeka, Jakarta.

Selain pameran edukasi, juga akan diadakan pula dialog dengan topik yang berbeda setiap hari, lokakarya batik untuk masyarakat umum, serta pameran batik raya yang menawarkan batik dengan harga kurang dari Rp300 ribu. (vga/vga)