Komitmen Langka Melestarikan Batik Olahan Tangan

Munaya Nasiri, CNN Indonesia | Minggu, 02/10/2016 13:06 WIB
Produsen batik printing bertumbuh makin banyak. Namun produsen batik tulis tetap setiap menjaga tradisi, mengandalkan olahan tangan. Ilustrasi pameran batik (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mempertahankan keaslian batik adalah salah satu hal yang dipegang teguh oleh merek batik ternama Parang Kencana. Sejak tahun 1992, merek batik yang didirikan oleh Mariana Sutandi ini selalu membuat batik dengan malam panas.

Saat dihubungi CNNIndonesia.com pada Kamis (29/9) lalu, Meity Sutandi mengatakan bahwa Parang Kencana berkomitmen untuk melestarikan batik, "dan tidak pernah meninggalkan motif tradisional." 


Putri Mariana, yang menjabat sebagai Marketing Communication Parang Kencana, ini menambahkan, "Sampai sekarang, kami masih menggunakan batik yang sesungguhnya. Batik yang dibuat benar-benar dengan malam panas, karena batik itu proses. Kami tidak ada print. Sablon pun tidak. Semua murni buatan tangan."


Selain menjaga keaslian batik, Meity mengaku bahwa sejak awal didirikan, sang ibu ingin membuktikan bahwa batik bukanlah hal yang kuno.

"Kami menikmati susahnya membangkitkan anak muda untuk mengunakan batik," katanya. "Jadi ibu [Mariana)] terus-menerus memakai batik."

Hal itu dilakukan guna menunjukkan pada masyarakat bahwa batik bisa dipadu padan dengan busana lainnya. "Misalnya, kaus biasa dengan kain batik atau celana batik yang kasual," tambah Meity.

Untuk itu, desain dan warna yang diproduksi Parang Kencana juga mengikuti tren, seperti menggunakan warna-warna cerah.

"Kami juga tidak terlalu masalah untuk men-develop sesuatu [motif batik] yang tidak biasa, asalkan hasil akhirnya elok dan indah," papar Meity.

Lalu, ia menyontohkan, "Misalnya, ada gambar Monas dengan awan mega mendung. Itu kan elok dan jelas batiknya adalah batik mega mendung. Boleh membuat batik seperti itu asal filosofi dan batiknya jelas."

Ucapan tersebut pun sebelumnya pernah dilontarkan oleh Mariana saat ditemui CNNIndonesia.com pada Agustus 2016 lalu. "Dia [perajin] buat itu [batik] dari apa, inspirasinya apa, motifnya apa. Misalnya, terinspirasi dari Muhammad Ali, dibuat batik kawung tapi tetap ada [unsur] tinjunya."

Komitmen-komitmen itu lah yang akhirnya membuat Mariana cukup selektif memilah produk yang layak untuk dijual. Tak jarang, ia menolak barang yang menurutnya tidak apik.

"Misalnya, karena warna terlalu berantakan ibu [Mariana] suka bilang, 'Ini enggak bisa [dijual], terlalu kelihatan keluar garis atau terlalu tebal,'" papar Meity. Memang, pewarnaan yang dilakukan Parang Kencana juga masih dengan cara tradisional.

"Pewarnaan ini terkadang menghasilkan warna yang berbeda. Karena dalam pewarnaan juga membutuhkan cuaca yang bagus. Kadang sampel warna seperti apa tapi hasilnya berbeda. Ibu enggak bilang jelek, hanya dia bilang, 'Aku pengin warna yang seperti ini,'" jelas Meity. Maklum, mayoritas desain batik yang diproduksi Parang Kencana memang didesain langsung oleh Mariana.

Beruntung, Parang Kencana tidak melakukan produksi secara masal sehingga barang-barang yang tidak apik pun tidak terlalu banyak.

"Barang-barang reject tersebut kami karyakan untuk item lain, seperti dompet. Kami juga menghindari kesalahan dalam produksi, misalnya dengan membuat draft gambar untuk batik tulis. Meski terkadang pensil yang ada di kain pun enggak luntur saat diwarna," ujar Meity.

Jika pun terdapat produk yang kurang apik, maka pihak Parang Kencana akan menginfokan pada pelanggan, "dan juga dari segi harga mungkin agak berbeda."

Kini, merek batik yang sudah berjaya selama lebih dari dua dekade ini semakin menunjukkan kesuksesannya.

"Kami mencoba untuk peka dengan teknologi dan perkembangan sosial masyarakat seperti apa, agar tidak terlena," katanya. "Karena dulu nama Parang Kencana sempat dicatut untuk menjual kain dengan harga murah, padahal itu batik printing."

Meity pun mensyukuri kejayaan ini, dan berharap agar masyarakat juga ikut melestarikan batik.

"Semoga penghargaan UNESCO terhadap batik ini tidak sekadar dijadikan euforia biasa," katanya. Ia juga berterima kasih kepada Pemerintah yang telah mendukung perusahaan baik itu pemerintahan maupun swasta.

Guna merayakan Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober mendatang, Parang Kencana merayakannya dengan mengikuti pagelaran busana di ajang Batik Fashion Week 2016, pada 30 September-2 Oktober 2016 di Warehouse, Plaza Indonesia, Jakarta.

(vga/vga)