Rona Bias ala Sebastian Gunawan dalam 'Aristocrat'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 13/10/2016 07:27 WIB
Lewat koleksi busana Aristocrat, Sebastian Gunawan bermain-main dengan bias karakter gender, menggabungkan feminin dan maskulin. Lewat koleksi busana Aristocrat, Sebastian Gunawan bermain-main dengan bias karakter gender, menggabungkan feminin dan maskulin. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebastian Gunawan, atau Seba, sudah kepalang dikenal sebagai desainer yang mengagungkan keanggunan dan unsur feminin dalam setiap karyanya.

Koleksi busana Seba bagai mendefinisikan ulang sosok wanita era modern. Namun kali ini sedikit berbeda. Agaknya ia ingin sejenak keluar dari zona nyaman.

Dalam koleksi lini ready-to-wear deluxe miliknya, Sebastian Red, Seba bermain-main dengan bias karakter gender. Aristocrat, sang tajuk, menggabungkan feminin dan maskulin.


Seba memang bukan yang pertama menyuguhkan bias. Namun untuk membedakan dengan yang pernah ada, Seba membawa kenangan masa lalu dari Eropa abad ke-18 ke dunia milenium.

"Sebenarnya ide ini mengambil dari sebuah film Italia, The Leopard. Film ini menceritakan kondisi ningrat era 1800-an di Italia," kata Sebastian saat ditemui usai pagelaran Aristocrat di Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, pada Selasa (11/10).

The Leopard adalah film garapan Luchino Visconti, pada 1963. Film berbahasa Italia ini mengisahkan kehidupan kaum bangsawan di Sisilia, Italia, pada 1860. Berlatar menurunnya masa emas bangsawan Eropa era Victoria, film ini justru menunjukkan keengganan masyarakat kelas atas meninggalkan kebiasaan hedonisme.

Seba dan istrinya, Cristina Panarese, melihat hal lain. Mereka lebih tertarik dengan kostum para pemain yang kemudian diganjar nominasi Academy Awards sebagai Best Costume Design. Pasangan kreatif ini melihat kebanyakan wanita di era itu mengenakan bawahan gaun rok lebar dengan atasan off shoulder, sedangkan kaum pria mengenakan tuksedo.

"Banyak kostum yang bisa diambil poin-poinnya oleh saya dan Kristine untuk diadaptasi ke zaman ini," kata Seba.

Bukan hanya off-shoulder, model seperti lengan balon, pinggang kecil, rok lebar, hingga kerah khas tuksedo juga diusung Seba untuk koleksi kali ini. Permainan potongan simetris serta bordiran makin menegaskan kesan klasik.

Namun bukan Seba namanya bila tak memberikan kesan modern dari bentuk dan modifikasi fungsi siluet. Semisal jumpsuit yang biasanya bernuansa maskulin dan kasual, dimodifikasi oleh Seba dengan potongan tertentu sehingga tampil seksi dan feminim.

Begitu pula potongan kerah putih layaknya kemeja lelaki. Dengan penuh kreativitas, Seba menempatkan kerah putih di baby doll dress yang menggemaskan. Hasilnya, dress tersebut tetap feminin, namun terasa 'kekuatan' dari si elemen kecil: kerah baju.

Melalui Aristocrat, Seba terlihat ingin lebih bermain dengan model dan desain demi menyajikan berbagai macam pilihan pakaian. Seba seolah tak ingin ambil pusing dan benar-benar menyerahkan pilihan suka atau tidak kepada publik.

"Yang saya lihat, wanita zaman sekarang ingin yang mudah namun tetap cantik, mewah dan seksi. Nah, kami mencoba mengawinkan kebiasaan wanita zaman sekarang, yaitu keinginan pasar, dengan detail yang pernah ada dari kehidupan sebelumnya," kata Seba.

"Sebagai desainer, kami hanya ingin memberikan pilihan lebih banyak saja kepada masyarakat sesuai DNA kami," lanjutnya. "Seksi bagi kami itu tidak harus terbuka."

Butuh sembilan bulan bagi Seba untuk merampungkan 78 koleksi, yang delapan di antaranya bermodel gaun pengantin, juga terinspirasi nuansa Victoria.

Desainer yang tergabung dalam the Asian Couture Federation atau ACF ini memang kerap memberikan ide mengejutkan dalam menampilkan sosok wanita, termasuk di Aristocrat. Seba terbilang sukses memberikan bias zaman dan karakter gender dalam koleksi kali ini.

Di satu sisi, Aristocrat membawa kenangan klasik yang pernah ada di sejarah peradaban manusia, namun terbilang masih relevan untuk dikenakan di era modern, atau bahkan di masa mendatang.

Di sisi yang lain, meski busana ini ditujukan untuk kaum hawa, namun Seba membangkitkan aspek maskulin yang perkasa tanpa meninggalkan sisi romantisme dan kehangatan dari makhluk bernama wanita. Seba meninggalkan kesan seperti pelangi, bias yang menghasilkan keindahan tersendiri dan segar.

(end/vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK