Penduduk Lokal Minta Wisatawan Jaga Ketertiban

CNN Indonesia | Kamis, 17/11/2016 12:20 WIB
Penduduk Lokal Minta Wisatawan Jaga Ketertiban Turis asing melintas di Kuta, Bali. Warga lokal di destinasi wisata di Indonesia berharap turis bisa ikut menjaga kebersihan dan ketertiban. (CNNIndonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rupanya tak semua warga senang jika kotanya ramai dikunjungi wisatawan. Salah satu contoh penolakan ekstrem datang dari penduduk Kota Venesia, Italia, yang merasa risih dengan ramainya turis.

Alhasil, pada Sabtu (12/11) lalu, puluhan penduduk melakukan aksi demonstrasi bertajuk #Venoxodus dan mengancam akan bermigrasi ke kota lain.

Aksi demo yang ditujukan kepada pemerintah itu juga berlatar ketidakpuasan penduduk karena tingginya harga sewa rumah, berbanding terbalik dengan penginapan murah yang ditawarkan.


Belum lagi keberadaan puluhan juta wisatawan yang menyesaki jalanan kota setiap tahunnya.

Venesia memang menjadi destinasi wisata populer di Italia. Kota seribu kanal itu terkenal sebagai tempat romantis dan memiliki sejarah panjang.

Keresahan yang kini dialami penduduk Venesia, sebenernya tak jauh berbeda dengan apa yang dirasakan warga di kota-kota destinasi wisata di Indonesia. Sebut saja Bandung, Bali, dan Yogyakarta.

Banjirnya kunjungan wisatawan ke tiga destinasi tersebut, memicu keresahan warga, terutama soal kebersihan, ketertiban lalu lintas dan keamanan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pariwisata menunjukkan bahwa sejak Januari sampai September 2016, terdapat 8.362.963 wisatawan mancanegara (wisman) berkunjung ke Indonesia.

Jumlah itu meningkat sebesar 8,51 persen dari periode yang sama di tahun lalu yaitu sebanyak 7.707.034 wisman.

Peningkatan jumlah kedatangan wisatawan tentu saja menggairahkan industri pariwisata Tanah Air. Di balik itu, tentu saja muncul beragam komentar dari penduduk lokal, Ada yang merasa senang dengan banyaknya turis yang datang, ada juga yang terganggu, walau belum memicu protes seperti di Venesia.

Salah satu warga yang merasa senang ialah Muhammad Arief Wicaksono, mahasiswa di Yogyakarta.

“Kedatangan wisatawan menimbulkan dampak positif, terutama bagi ekonomi masyarakat,” kata Arief kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/11). “Sejauh ini sikap dari wisatawan positif, karena wisatawan yang datang sangat menghormati kebudayaan asli sini,” lanjutnya.

Tanggapan berbeda datang dari mereka yang tinggal di Bali dan Bandung. Dibanding Yogyakarta, dua destinasi ini memang lebih sering didatangi wisatawan. Di mata turis, Bali dan Bandung menawarkan paket wisata lengkap, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner dan belanja. 

Eka Amelia Rosidi (20) mengaku tidak punya masalah dengan ramainya wisatawan di Bali, walau demikian, ia merasa ada beberapa wisatawan yang mengabaikan peraturan yang berlaku.

“Beberapa wisatawan sering mengebut di jalan, mungkin karena jalanan di sini sering terlihat sepi. Tetap saja itu berbahaya, terutama bagi penduduk sekitar yang biasa melintas dengan sepeda atau berjalan kaki,” ujar Eka.

“Selain itu saya berharap agar wisatawan yang datang juga ikut membantu menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya,” lanjutnya.

Senada dengan Eka, Nanda Aulia (21) yang tinggal di Bandung juga merasakan hal yang sama. Protes Nanda dipicu kemacetan yang semakin sering terjadi di Kota Kembang, terutama saat akhir pekan dan hari libur nasional.

“Sama seperti wisatawan, penduduk Bandung juga ingin keluar rumah di akhir pekan. Tapi lalu lintas sudah terlalu padat, apalagi jika banyak kendaraan yang parkir tak beraturan,” ujar Nanda.

“Menurut saya kota ini sudah terlalu ramai. Semoga ada pembenahan aturan agar kenyamanan bagi wisatawan dan terutama penduduk lokal tetap terjaga,” harapnya. (Awita Ekasari Larasati/ard)