KBRI di Eropa Susun Taktik Gaet Wisman

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 29/11/2016 11:30 WIB
KBRI di Eropa Susun Taktik Gaet Wisman Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berjarak belasan ribu kilometer, ternyata wisatawan Eropa masih tertarik untuk mengunjungi Indonesia. Kedatangan mereka tentu saja meningkatkan angka pertumbuhan kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) dan ekonomi dari sektor industri pariwisata Tanah Air.

“Penerbangan dari negara-negara Eropa ke Indonesia sekitar 18 jam. Sudah melakukan perjalanan sebegitu jauh, mereka lalu tinggal lebih lama di sini, paling cepat dua minggu. Jadi, pengeluaran wisatawan Eropa sekali berlibur cukup besar,” kata Alexandra Ancilla, Humas W Hotel Seminyak, Bali, saat berbincang dengan CNNIndonesia.com pada beberapa waktu yang lalu.

Wisatawan Eropa, khususnya kawasan Eropa Tengah dan Nordik, memang memiliki pendapatan per kapita yang tertinggi di dunia.


Sebagai contoh, Norwegia memiliki GDP per kapita US$61 ribuan (sekitar Rp825 jutaan), Finlandia US$48 ribuan (sekitar Rp649 jutaan), serta Denmark dan Swedia US$46 ribuan (sekitar Rp622 jutaan).

Negara-negara lainnya umumnya memiliki pendapatan per kapita sekitar US$20 ribuan sampai US$30 ribuan (sekitar Rp270 jutaan sampai Rp406 jutaan).

Adapun yang terendah cuma satu, yaitu Ukraina dengan pendapatan per kapita US$8 ribuan (sekitar Rp108 jutaan). Namun, dibandingkan negara tetangganya, jumlah penduduknya yang pergi berlibur justru yang terbanyak, yaitu sekitar 22,5 juta orang per tahunnya.

Oleh karena itu, usaha menggaet wisatawan Eropa ke Indonesia terus dilakukan oleh pemerintah dan jajaran terkaitnya.

Salah satunya ialah yang dilakukan oleh 14 Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Eropa Tengah dan Nordik.

Dikutip dari keterangan resmi yang diterima CNNIndonesia.com pada Selasa (29/11), ke-14 KBRI itu mengadakan pertemuan membahas usaha mendatangkan wisatawa di Warsawa, Polandia, pada Senin (28/11).

Pertemuan selama dua hari itu dihadiri oleh duta besar dari Austria, Kroasia, Serbia, Hungaria, Bulgaria, Swedia, Denmark, Norwegia, Rumania, Ukraina, Finlandia, Slowakia, dan Cheska. Sedangkan dari pBelarusia dan Lithuania berhalangan hadir.

Dari Jakarta hadir Direktur Eropa Tengah Kementerian Pariwisata, Nia Niscaya, serta Atase Imigrasi Berlin Kementerian Luar Negeri, Wicaksono.

Hadir pula untuk memberikan presentasi adalah perwakilan dari perusahaan penerbangan, yaitu Emirates, Qatar Airways, Lot Polish Airlines, Garuda Indonesia serta agen perjalanan dari Eropa dan Indonesia.

Duta Besar untuk Polandia, Peter Frans Gontha, mengatakan kalau pemerintah harus melakukan langkah yang progresif untuk meningkatkan pariwisata Indonesia. Apalagi setelah melihat angka pendapatan per kapita di atas.

“Ini potensi yang sangat besar. Namun, selama ini mereka mengalami kesulitan untuk terbang ke Indonesia. Mereka harus pergi ke beberapa negara lain dulu sebelum terbang ke Indonesia,” kata Dubes Peter.

“Jika disepakati untuk menentukan satu negara hub maka akan memudahkan mereka untuk berwisata ke Indonesia,” lanjutnya.

Dikutip dari data Kemenpar, dari Januari sampai September 2016, jumlah wisman yang telah datang ke Indonesia sebanyak 8.362.963 orang.

Jumlah ini naik 8,51 persen dari periode yang sama pada tahun lalu, sebanyak 7.707.034 orang.

Sedangkan, jumlah wisatawan Eropa yang telah datang ke Indonesia dari Januari sampai September 2016 sekitar 1,1 jutaan orang, dengan jumlah wisatawan asal Inggris sebanyak 248.986 orang, Belanda sebanyak 150.874 orang, Jerman 177.112 orang, Perancis 197.165 orang dan negara Eropa lainnya sebanyak 420.956 orang.

Untuk dapat sampai ke Indonesia, wisatawan Eropa biasanya transit di Singapura, Dubai atau Doha.

Penentuan negara hub tentu saja memberi kenyamanan dan meminimalisir kerepotan bagi mereka, yang sudah melakukan penerbangan jauh. Jadi, tidak ada lagi rasa kapok untuk berkunjung ke Indonesia.

(ard/ard)