Terry Endropoetro
Penulis ialah penikmat wisata, kuliner dan rupa-rupa Indonesia. Memutuskan untuk berhenti menjadi wartawan di salah satu majalah wanita ternama untuk mengelola komunitas perjalanan wisata. Saat ini aktif menulis di blog.negerisendiri.com.

Indonesia Tidak Kenal 'Sampai Jumpa'

Terry Endropoetro, CNN Indonesia | Minggu, 11/12/2016 11:41 WIB
Segala keindahan alam dimiliki Indonesia. Tapi, sepertinya kita tidak terlalu mengenal kalimat 'Sampai Jumpa' untuk mengundang kembali wisatawan datang. Suasana berwisata di Pulau Morotai, Maluku Utara. (ANTARA FOTO/Fanny Octavianus)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Akhirnya ada yang sadar juga," kata saya dalam hati, ketika membaca berita bahwa Presiden Indonesia Joko Widodo akan menaikkan anggaran pariwisata daerah empat sampai lima kali lipat. Karena terus terang, gemas rasanya anggaran yang tidak memadai selalu dijadikan alasan pemerintah daerah untuk mengembangkan potensi wisata mereka.

Sebenarnya sejak 1991, promosi wisata Indonesia dengan tajuk Visit Indonesian Year sudah digaungkan. Walaupun sempat menarik cukup banyak wisatawan mancanegara (wisman), tapi sampai istilahnya diubah—menjadi Wonderful Indonesia atau Pesona Indonesia, jumlah wisman yang datang ke Tanah Air tetap saja kalah dengan yang datang ke negara tetangga. Kalah promosi!

Padahal apalah keindahan alam yang kita tidak punya. Pantai, laut, hutan, gunung, lembah, danau, savana, gumuk pasir, sampai salju semua ada.


Kekayaan alam yang dimiliki Indonesia memang menjadi daya tarik wisman untuk datang, lalu bagaimana dengan yang wisatawan lokal, yang seharusnya menjadi corong pertama promosi pariwisata negaranya?

Walau usaha menjual pariwisata Indonesia sudah dimulai sejak puluhan tahun yang lalu, tren pelesir di dalam negeri ternyata baru melanda masyarakat beberapa tahun belakangan.

Dulu, mengajak teman-teman berwisata ke sejumlah daerah di Indonesia bukan hal mudah. Banyak yang enggan, karena alasan akomodasi dan transportasi yang tidak senyaman di luar negeri.

Saat ini, dua hal itu memang mulai dibenahi dan juga masih banyak yang perlu diperbaiki. Tapi kalau menunggu sampai sebagus luar negeri, mau kapan menikmati indahnya alam Tanah Air?

Ada pula teman yang merasa jarak dari satu tempat ke tempat lain terlalu jauh. Padahal sebenarnya itulah kelebihan negeri ini, wilayahnya bahkan ratusan kali lebih luas dengan negara-negara tetangga. Tak akan ada habisnya untuk dijelajahi.

Dulu, mengajak teman-teman berwisata ke sejumlah daerah di Indonesia bukan hal mudah. Sekarang, semua orang seakan berlomba-lomba berfoto dengan latar belakang daerah yang sedang hits.Terry Endropoetro
Tapi, yang paling konyol, ada teman yang merasa udara di Indonesia terlalu panas untuk dirasakan saat jalan-jalan. Duh!

Keinginan teman-teman saya, termasuk wisatawan lokal lainnya, untuk berwisata di Indonesia tak bisa lepas dari ramainya media sosial, yang berperan membuka mata masyarakat kita tentang indahnya alam Indonesia.

Sekarang, semua orang seakan berlomba-lomba berfoto dengan latar belakang daerah yang sedang hits. Namun, media sosial juga bergantung dengan jaringan internet, yang kini seakan menjadi ketakutan baru teman-teman saya.

Soal koneksi internet jadi pengalaman tersendiri, ketika pada 2014 bertandang ke Banda Neira, kepulauan kecil di tengah laut Banda, Maluku. Hanya ada satu provider yang bisa dijangkau di sana.

Jangan bayangkan bisa menulis cuitan di Facebook atau Twitter, mengirim pesan pendek saja belum tentu langsung sampai tujuan, karena sinyal yang timbul-tenggelam.

Yang tak disangka, ternyata sinyal terkuat didapat ketika kami berada di puncak Gunung Api, gunung vulkanik aktif di kepulauan itu. Di ketinggian 625 meter di atas permukaan laut, suara ponsel teman berdentingan. Semua pesan masuk.

Jadilah waktu untuk turun gunung tertunda, karena menunggu teman membalas semua pesan dan e-mail.

Lain lagi pengalaman di pulau Kei Kecil, di tahun yang sama. Karena kebetulan penginapan saya berada tak jauh dari kantor Dinas Pariwisata, mampirlah saya ke sana.

Peta pariwisata berhasil didapat, ditambah beberapa brosur yang jelas sekali merupakan cetakan lama.

Menyewa ojek seharian merupakan keputusan yang tepat. Karena sejak keluar batas kota tak ada lagi papan penunjuk arah. Kalau saya sendirian pastilah bingung. Karena jarang ada orang lewat yang bisa ditanya, semua pergi ke kebun pada siang hari.

Dari jalan raya, tiba-tiba motor berbelok memasuki jalan tanah. Entah saya mau dibawa ke mana. Ternyata setelah melewati ladang dan perkebunan kelapa, ada perkampungan dan bentangan pantai berpasir putih, pantai Ohoidertavum.

Kami mengandalkan GPS dengan kearifan lokal alias 'Gunakan Penduduk Setempat' untuk bertanya. Dan jawaban yang saya dapat adalah, “jalan saja terus, nanti kalau ada pohon mangga baru belok kiri."Terry Endropoetro
Kami sempat tersesat saat mencari lokasi Goa Huang. Akhirnya kami mengandalkan GPS dengan kearifan lokal alias 'Gunakan Penduduk Setempat' untuk bertanya. Dan jawaban yang saya dapat adalah, “jalan saja terus, nanti kalau ada pohon mangga baru belok kiri."

Jadilah sepanjang jalan kami sibuk mencari-cari di mana si pohon mangga.

Tak hanya akomodasi, transportasi dan jaringan internet. Faktor manusia juga jadi masalah penting dalam pariwisata.

Alasannya, baiknya pengelolaan pariwisata di suatu tempat, akan membuat roda perekonomian di daerah tersebut terus berputar.

Jadi masyarakat setempat juga harus sadar wisata. Menawarkan keramahan, memberi informasi, menjaga kebersihan, dan segala hal yang membuat para wisatawan nyaman dan ingin kembali lagi berkunjung.

Soal kembali berkunjung, pernahkan memperhatikan tulisan di gerbang tempat-tempat wisata atau batas wilayah daerah di Indonesia? Sebagian besar bertuliskan 'Selamat Datang', 'Selamat Jalan' atau 'Terima Kasih'.

Jarang sekali yang menuliskan 'Sampai Jumpa Lagi'.

Padahal, mengharapkan wisatawan untuk datang kembali lebih baik daripada yang hanya sekali datang, bukan?

(ard/ard)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS