Kemenpar Dorong Pembangunan Homestay di Atambua

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 11/12/2016 09:20 WIB
Pembangunan homestay terhitung lebih singkat dibandingkan hotel. Harga yang terjangkau diharapkan menarik wisatawan untuk berkunjung. Hamparan sawah yang menguning dengan latar belakang gunung Lakaan di Atambua. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meminta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu, Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) agar memperbanyak tempat penginapan rumahan alias homestay, sekaligus meningkatkan pelayanannya bagi para wisatawan.

"Kami mengharapkan daerah-daerah tujuan wisata, termasuk Belu di Atambua ini agar memperbanyak homestay, karena jumlah hotel sudah mulai makin banyak," kata Asisten Deputi Pengembangan Pasar Asia Pasifik Kemenpar Vinsensius Jemadu di Atambua, NTT, seperti yang dikutip dari Antara pada Minggu (11/12).

Menurut Vinsensius, pembangunan hotel membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat tahun. Sedangkan homestay dapat dibangun dengan jangka waktu yang lebih cepat.


"Selain itu, kalau hotel harus pesan dari jauh-jauh hari dan harganya juga tidak murah. Maka, kami dorong Pemkab Belu supaya memperbanyak homestay, sehingga ada tempat penginapan yang terjangkau," ujar Vinsensius.

Ia menuturkan berbagai kegiatan seni dan hiburan, seperti Festival Crossborder Atambua 2016, akan terus digelar di kawasan yang merupakan pintu masuk di Indonesia Timur ini.

Festival Crossborder Atambua 2016 digelar di Kabupaten Belu, mengingat daerah tersebut berada di dekat pintu perbatasan Mota'ain, yang menghubungkan antara Indonesia dengan Timor Leste, sehingga diharapkan jumlah wisatawan meningkat, terutama dari negara tetangga, seperti Timor Leste, Australia, New Zealand dan sebagainya.

Rangkaian kegiatan Festival Crossborder Atambua 2016 telah digelar oleh Kemenpar setiap satu bulan sekali, terhitung mulai Juni hingga Desember 2016.

“Festival ini akan tetap digelar. Kalau perlu, datangkan artis-artis nasional ke sini. Kami berharap Atambua bisa menjadi destinasi pariwisata yang dikenal di Indonesia dan juga negara-negara di Asia Pasifik," kata Vinsensius.

(ard)