Drama Batin Jelang ODHA Buka Status

Vega Probo, CNN Indonesia | Kamis, 01/12/2016 09:41 WIB
Bukan hal mudah bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk membuka status dirinya. Stigma dan diskriminasi menjadi alasan utama. Ilustrasi: Bukan hal mudah bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk membuka status dirinya. Stigma dan diskriminasi menjadi alasan utama. (ANTARA FOTO/Abriawan Abhe)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan hal mudah bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) untuk membuka status kepada orang-orang terdekat, juga masyarakat, bahwa dirinya terjangkit virus mematikan. Stigma dan diskriminasi menjadi alasan utama.

Tak terkecuali bagi Hartini. Tiga bulan setelah menerima hasil pemeriksaan yang menyatakan tubuhnya positif terjangkit HIV, pada 2008, baru lah ia berani berterus terang kepada ibu angkat (ibu kandung telah tiada) dan putri sulungnya.

Selama tiga bulan, wanita yang akrab disapa Tini ini mengurung diri. Ia bersedih lantaran hasil pemeriksaan itu hanya berselang delapan bulan setelah putra bungsu yang berusia sembilan bulan meninggal akibat positif HIV, pada 2007.


“Ia meninggal dua minggu setelah vonis dokter,” kata Tini kepada CNNIndonesia.com. “Tidak pernah terpikir bahwa di kehidupan ini saya dan bayi saya terkena HIV. Saya hanya ibu rumah tangga, suami juga bukan pecandu narkoba atau seks.”

Semula Tini mengira, HIV hanya menjangkiti para pekerja seks dan pecandu narkoba, bukan awam seperti dirinya yang melulu di rumah. Sang suami berasumsi, Tini dan si bayi kemungkinan terjangkit HIV dari peralatan rumah sakit.

Virus—HIV—yang menggerogoti sistem imunitas tubuh membuat Tini gampang sakit. Selama berminggu-minggu, ia menderita diare, batuk, pilek, sampai jamur mulut. Tak bisa makan, bobot tubuhnya merosot dari 49 kilogram menjadi 36 kilogram.

“Saya makan bubur halus, itu pun pakai sedotan,” wanita kelahiran 1980 ini mengenang. Padahal semula, ia mengaku jarang sakit. “Tapi pas sakit langsung kayak pesakitan. Jalan tiga langkah butuh napas panjang dan gemetaran.”

Meski begitu, Tini tidak menyalahkan siapa pun. Ia tetap menjalani terapi secara rutin, hingga akhirnya bisa makan dan jalan secara normal, seperti sedia kala. Di sisi lain, ia belum berterus terang soal kondisinya kepada keluarga.

Selama masih tinggal bersama keluarga mertua di Jakarta, ia mengaku sakit lever. Ia hanya terbuka mengenai statusnya sebagai ODHA kepada ibu angkat dan anak sulung yang tinggal di Lampung. Syukur, si anak sulung menerima kondisinya.

“Waktu itu, ia masih SD. Tapi ia bilang, ‘Mami masih ada buat Widya sampai nanti lulus kuliah, menikah dan punya anak.’ Saya terharu, anak umur segitu kok yakin ibunya masih hidup.” Tini pun mempertebal semangat hidup demi anak.

Berbekal tekad, ia menjadi relawan di Puskesmas dan rumah sakit yang bertugas mengampanyekan HIV/AIDS kepada masyarakat. Tujuannya, selain untuk meretas stigma dan diskriminasi, juga menyebarluaskan pengetahuan tentang HIV/AIDS.

Kegiatan kampanye mempertemukan Tini dengan Baby Rivona Nasution, ODHA yang mendirikan Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) dan MAP Organization. Kini, Baby menjabat sebagai Koordinator Nasional IPPI.

Selama berkampanye, Tini menerima respon luar biasa dari masyarakat. Mereka, katanya, tidak pernah mencaci maki. Sebaliknya, malah menyemangati. “Dari situ saya percaya diri buka status [sebagai ODHA],” kata Tini.

Memang mudah bagi Tini membuka status sebagai ODHA di hadapan masyarakat, namun tidak demikian halnya di depan kekasih dan ayah kandung. Kenyataannya, tidak sedikit pria yang menyingkir setelah mengetahui Tini positif HIV.  

Setelah empat kali gagal membina rumah tangga, ia menikah lagi dengan seorang pria negatif HIV yang bersedia menerima Tini apa adanya. Sang suami juga lah yang mendukungnya untuk tampil di sebuah acara bincang-bincang di televisi swasta.

“Suami bilang, lakukan hal yang positif supaya orang lain juga menilai dan mengikuti perbuatan positif,” kata Tini. Ia pun tak gentar menjadi narasumber program Kick Andy di Metro TV untuk menerangkan soal HIV/AIDS dan ODHA.

Begitu acara itu ditayangkan, sang ayah bolak-balik menelepon Tini. Tapi ia tidak merespon lantaran takut sang ayah bakal memarahi setelah menontonnya. Setelah lebih dari 50 missed call, baru lah Tini balik menelepon ayahnya.

“Butuh kekuatan luar biasa untuk menelepon papa,” kata Tini, waswas. Diakuinya, watak sang ayah sangat keras, bahkan tak jarang berkata kasar. Tak ayal, Tini pun gentar menghadapi sang ayah yang menyesali kegagalan rumah tangganya.

“Tapi sampai kapan saya menutup diri?” Tini balik bertanya. “Kalau ODHA terus menutup diri, stigma dan diskriminasi bakal makin tinggi. Saya harus menunjukkan bahwa saya positif HIV, yang punya suami dan anak negatif HIV.”

Begitu menelepon, ternyata sang ayah sama sekali tidak memarahi Tini, sebaliknya malah memuji. “Hebat ya, Tini ngomong [di acara Kick Andy] tidak gelagapan,” Tini menirukan kata-kata ayahnya. Setelah itu, sang ayah mengaku menyesal.

“Papa merasa bersalah karena tidak tahu dan tidak ada saat saya membutuhkannya. Itu yang membuat papa sedih,” kata Tini. “Saya tidak menyangka respon papa selunak itu. Ketakutan saya tidak terjadi. Papa malah beri saya kekuatan.”

Setelah buka-bukaan soal statusnya sebagai ODHA di berbagai media massa berskala nasional, anggota IPPI ini tetap menerima respon baik dari masyarakat, termasuk para tetangga di lingkungan tempat tinggalnya di Tangerang.

Tini percaya, perkataan suaminya terbukti benar, “Bila kita melakukan hal positif, maka orang lain pun akan menilai dan melakukan hal yang sama positifnya.” Meski tidak dimungkiri, ada juga segelintir orang yang menjauhi ODHA.

“Saya banyak belajar. Kehidupan ternyata indah. Saya tidak perlu menakutkan hal yang belum terjadi,” kata Tini. “Dulu, saya gelas kosong. Sekarang sudah terisi, dan saya siap berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan orang lain.”

(vga/vga)