Melansir AFP, Yin Hongzhang, mantan wakil direktur pusat pengujian obat BPOM China menerima hukuman kurungan penjara 10 tahun dan denda sebesar 500 ribu yuan atau Rp967 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yin ditahan sejak April 2015 dan dituduh menerima pembayaran terkait dengan suap dari empat perusahaan bioteknologi atas izin berbagai vaksin, termasuk untuk SARS dan flu burung.
Skandal Yin terungkap pada Maret 2015 dan membuat geger masyarakat China.
Kasus tersebut melibatkan penyimpanan yang tidak layak, transportasi, dan penjualan vaksin bernilai puluhan juta dollar yang ternyata sebagian besar sudah kedaluwarsa.
Kejadian tersebut tidak menimbulkan korban, namun kebanyakan masyarakat China marah akibat anaknya tidak mendapatkan perlindungan vaksin, sementara masyarakat China hanya dapat memiliki satu anak akibat peraturan pemerintah. Peraturan ini diterapkan guna membatasi populasi yang terus bertambah.
Publik China semakin marah karena kasus tersebut disembunyikan oleh oknum pemerintah. Oknum tersebut sudah ditangkap hampir satu tahun sebelum penangkapan Yin.
Kasus vaksin kedaluwarsa juga pernah terjadi pada 2010. Seorang ibu dan putrinya dari provinsi Shandong menjual 25 jenis vaksin berbeda dengan tanggal kedaluarsa yang tidak terjaga. (chs/chs)