Menilik Tren Fesyen dari Pekan Busana Paris Fashion Week

Rahman Indra, CNN Indonesia | Senin, 23/01/2017 16:09 WIB
Menilik Tren Fesyen dari Pekan Busana Paris Fashion Week Rancangan Dior untuk koleksi Fall/Winter dalam pekan Paris Fashion Week (Men's) pada 18-22 Januari 2017. (Foto: AFP PHOTO / FRANCOIS GUILLOT)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekan peragaan busana pria di Paris yang berlangsung Rabu (18/1), baru saja berakhir pada Minggu (22/1) malam. Sejumlah label ternama dari Dior hingga Louis Vuitton menghadirkan rancangan terbaiknya dan cukup mencuri perhatian.

Setidaknya ada lima tren fesyen yang dapat diambil dari pekan peragaan busana Paris Fashion Week kali ini.

Berjiwa muda


Generasi milenial dan jiwa muda menjadi salah satu tren yang ditegaskan dalam peragaan busana Paris. Hal yang jarang terjadi ketika catwalk memberi fokusnya pada rancangan untuk kalangan remaja dan mereka yang berada di usia 20-an tahun. 

Beberapa di antaranya didominasi jaket hoodie, dan penampilan yang chic. Label asal Jepang Facetasm bahkan menghadirkan model dengan jerawat buatan.

Beberapa potongan khas anak muda juga disuguhkan The Etudes, Lanvin, dan Sankuanz (dari China) dengan semangat kebebasan. Kris Van Asscge, dari Dior menampikan koleksi yang ditujukan bagi anak-anak muda dan mereka yang sangat melek akan dunia fesyen.

"Saya selalu ingin menggambarkan momen ketika anak laki-laki beranjak menjadi pria dewasa, dan mereka masih ingin menggapai mimpi, hasrat besar dan juga kebebasan," tuturnya pada AFP.

Cantuman logo

Beberapa label dengan kasat mata mencantumkan logo di rancangan mereka kali ini, di antaranya Dior, Loewe, Balenciaga, Andrea Crews, Louis Vuitton, Icosae dan bahkan Dries Van Noten.

Sebagai trendsetter, tak bisa dilepaskan dari nama Demna Gvasalia. Trik logo yang dilakukannya untuk Balenciaga, cukup menarik dan mencuri perhatian, bahkan termasuk di antaranya logo kampanye Bernie Sander.

Sayangnya pencantuman logo ini tidak berlaku sukses untuk kolaborasi paling ramai dibicarakan tahun ini, antara Louis Vuitton dan Supreme. Bahkan, New York Times menyebutnya 'versi kolaborasi fashion bunuh diri.'

Wanita dimana-mana

Meski pekan peragaan busana kali ini bertajuk khusus untuk pria, ada banyak model wanita (dan juga rancangannya) yang bertebaran di peragaan kali ini, dan itu dapat dimaklumi.

Salah satu alasannya karena beberapa rancangan ada yang ditujukan tidak hanya untuk pria tapi juga dapat dikenakan oleh wanita. Hanya saja, Van Assche dari Dior merasa hal ini membuat definisi pakaian pria jadi bias dan hilang.

Penegasan warna

Beberapa warna yang sedang 'in' saat ini kembali ditegaskan dan mendominasi, di antaranya warna keemasan, cokelat tua, dan merah.

Beberapa yang mencolok dalam pemakaian warna dan bahan ini di antaranya Paul Smith, Agnes b, Alexandre Matiussi, Kolor, Loewe, Berluti dan Haider Ackermann.

Rancangan Ann Demeulemeester dengan pinstripes, juga tak kalah menariknya, di antara label Christian Dada dan Henrik Vibskov.

Dominasi kasual

Bagaimanapun, kasual dan tampilan non formal adalah nuansa yang disuguhkan dalam pekan peragaan busana Paris. Hampir tak ada pakaian formal dalam pekan kali ini, kecuali rancangan Agnes b dan yang janggal dari Berluti, Ann Demeulemeester dan Wooyoungmi.

Jas dan busana pesta yang formal berganti dengan berbagai macam jaket kebesaran dan trainer yang dipadupadan dengan lainnya. Bahkan termasuk rancangan dari Dior, Balenciaga dan Vuitton sekalipun. (rah/rah)