Indonesia Lawan Kurang Gizi Lewat Konsumsi Sayur dan Buah

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 25/01/2017 12:29 WIB
Indonesia Lawan Kurang Gizi Lewat Konsumsi Sayur dan Buah Ilustrasi: Pemerintah berambisi lawan kondisi gizi buruk lewat konsumsi sayur dan buah. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam Hari Gizi Nasional (HGN) 2017 yang jatuh pada Rabu (25/1), pemerintah berambisi meningkatkan kesadaran konsumsi buah dan sayur penduduk dalam rangka melawan masalah kurang gizi kronis (stunting) yang masih terjadi di Indonesia.

"Masalah stunting masih merupakan masalah gizi secara nasional, karena masih di atas ambang batas. Begitu juga dengan masih tingginya angka ibu hamil yang kekurangan energi kronis dan anemia pada ibu hamil," kata pemerintah melalui keterangan resmi yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

"Demikian pula konsumsi sayur dan buah penduduk yang masih rendah," lanjut pernyataan tersebut.


Stunting merupakan masalah gizi kronis yang disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Kondisi ini dapat dialami janin dalam kandungan dan akibatnya baru nampak setelah berusia dua tahun.

Berdasarkan Global Nutrition Report (GNR) pada 2014, Indonesia masuk dalam 17 negara yang memiliki tiga masalah gizi pada balita, yaitu stunting, wasting, dan overweight. Wasting merupakan kondisi penurunan bobot tubuh secara sengaja.

Menurut hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2015, angka kejadian stunting sebesar 29 persen. Data tersebut juga menemukan bahwa angka konsumsi buah dan sayur masyarakat Indonesia masih rendah, hanya sebesar 57,1 gram per hari dan 33,5 gram per orang per hari.

Dalam kelompok sayur, jenis sayuran hijau atau daun adalah kategori yang paling sering dikonsumsi sekitar 79 persen, dibandingkan jenis sayur lainnya seperti sayuran buah, akar, dan bunga.

Keragaman buah-buahan Nusantara juga ternyata tidak menarik minat konsumsi masyarakat. Berdasarkan data PSG 2015 pula, konsumsi buah paling besar jatuh pada pisang dengan 15,1 persen.

"Masalah gizi jadi masalah serius yang patut mendapatkan perhatian. Biaya kemanusiaan dan ekonomi dari kurang gizi luar biasa besar, karena menyebabkan rendahnya kualitas manusia, pencapaian pendidikan, dan menurunnya daya saing bangsa," tulis pemerintah dalam pernyataan resminya.

Pemerintah berusaha memerangi masalah kurang gizi tersebut dengan mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Perbaikan Gizi. Presiden, melalui peraturan tersebut, memerintahkan seluruh masyarakat dan pemerintah menanggulani masalah gizi terutama pada balita.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mencanangkan gerakan meningkatkan kesadaran hidup sehat masyarakat dengan fokus pada tiga hal, yaitu meningkatkan aktifitas fisik, meningkatkan konsumsi sayur dan buah, dan deteksi dini penyakit.

"Gerakan ini butuh dukungan masyarakat," kata Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan saat ditemui Desember lalu.

"Membicarakan gizi bukan hanya tentang gizi makro seperti karbohidrat dan protein, namun juga mikro seperti yang dimiliki sayur dan buah itu juga sangat penting," lanjutnya.

(okt/end)