Analisis

Kaya Akan Sayur dan Buah, Indonesia Justru Kurang Gizi

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 25/01/2017 13:34 WIB
Kaya Akan Sayur dan Buah, Indonesia Justru Kurang Gizi Ilustrasi: Kondisi kurang gizi di Indonesia salah satunya dipicu konsumsi sayur dan buah yang rendah. (ANTARA Foto/Lucky R)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di kebanyakan daerah di Indonesia, sayur dan buah bukan jadi barang yang mahal apalagi langka. Namun ironisnya, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan komoditas asli Nusantara ini justru rendah yang kemudian memicu masalah baru, kekurangan gizi bagi generasi penerus.

Sebuah data dari studi Pemantauan Status Gizi (PSG) 2015 yang dicantumkan dalam Panduan Hari Gizi Nasional Kementerian Kesehatan 2017 menyebutkan bahwa konsumsi sayur dan buah masyarakat masih tergolong rendah, yaitu 57,1 gram per hari dan 33,5 gram per orang per hari.

Dengan kata lain, asupan sayur dan buah per tahun hanya mencapai 20,5 kilogram per kapita per tahun dan 12 kilogram per kapita per tahun.


Sedangkan temuan Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian pada 2011 lalu menemukan konsumsi buah-buahan di Indonesia cuma 34,5 kilogram per kapita per tahun, dan konsumsi sayur mencapai 40,35 kilogram per kapita per tahun.

Kedua temuan ini menunjukkan bahwa Indonesia jauh tertinggal dibanding standar konsumsi sayur dan buah yang layak menurut Badan Pangan Dunia atau FAO.

"Jumlah konsumsi buah ini jauh sekali dibandingkan dengan rekomendasi FAO sebesar 73 kilogram per kapita per tahun dan standar kecukupan untuk sehat sebesar 91,25 kilogram per kapita per tahun," kata Fiastuti Witjaksono, Kepala Departemen Gizi RSCM dan spesialis gizi klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, saat ditemui CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

"Data lainnya menunjukkan Indonesia adalah negara konsumsi buah terendah di regional Asia," kata Fiastuti sembari menunjukkan data Balitbang Kementan 2011, yang menggambarkan perbandingan konsumsi buah Indonesia dengan Singapura, China, Vietnam, dan Kamboja.

Dalam data tersebut terlihat bahwa China menjadi negara terbanyak mengonsumsi buah dengan capaian lebih dari 250 kilogram buah per kapita per tahun. Disusul dengan Singapura dan Vietnam, lalu Kamboja. Indonesia tidak sampai 50 kiloram per kapita per tahun.

Masyarakat kini dapat memilih mendapatkan sayur baik di pasar tradisional atau modern.Masyarakat kini dapat memilih mendapatkan sayur baik di pasar tradisional atau modern. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Kaya sayur dan buah

Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyarankan masyarakat mengonsumsi 400 gram buah dan sayur setiap hari. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menyarankan buah-buahan dikonsumsi dua hingga tiga porsi per hari. Namun ternyata berbagai rekomendasi ini masih belum mempan untuk telinga masyarakat Indonesia.

Padahal, sayur dan buah di Indonesia bukan barang asing. Menurut data produktivitas buah-buahan dari Kementerian Pertanian, setidaknya ada 22 jenis buah yang diproduksi Indonesia. Artinya, 22 buah ini belum termasuk buah lokal musiman atau dimiliki bukan sebagai komoditas produksi.

Buah-buahan tersebut beberapa di antaranya adalah alpukat, belimbing, duku, durian, jambu biji dan air, jeruk, mangga, manggis, nangka, nenas, pepaya, pisang, rambutan, salak, sawo, markisa, sirsak, sukun, apel, dan anggur.
Indonesia memiliki aneka ragam buah-buahan. Indonesia memiliki aneka ragam buah-buahan.(Pixabay/romanov)
Sedangkan dari jenis sayuran, Kementan mencatat ada 22 jenis sayuran yang jadi komoditas di Indonesia, dan 17 di antaranya merupakan sayuran utama yang biasa ditemukan masyarakat.

Sayuran-sayuran tersebut adalah kentang, kubis, kembang kol, sawi, wortel, lobak, kacang merah, kacang panjang, paprika, jamur, tomat, terung, buncis, ketimun, labu siam, kangkung, dan bayam.

Menurut data Kementan pada 2015, buah paling banyak diproduksi di Indonesia adalah pisang dengan lebih dari 7,2 juta ton dan mangga dengan lebih dari 2,1 juta ton. Sedangkan untuk sayur, komoditas terbanyak adalah kubis dengan 1,4 juta ton dan kentang dengan 1,2 juta ton.

Kurang gizi

Seperti diketahui, konsumsi sayuran dan buah yang rendah dapat mengacu pada berbagai masalah kesehatan. Dan sebagian besar penyakit akibat kurangnya sayur dan buah adalah degeneratif seperti obesitas, kardiovaskular, dan diabetes.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Brigham and Women Hospital dan Harvard Medical School menemukan penambahan satu porsi sayuran dan buah setiap kali makan per hari dapat mencegah kematian akibat penyakit jantung hingga 3,5 juta hanya dalam waktu dua tahun.

Manfaat lain dari konsumsi sayur dan buah adalah untuk kecerdasan anak. Penelitian yang dilakukan oleh University of Eastern Finland mendapati anak-anak yang mengonsumsi buah, sayuran, ikan, dan gandum utuh dalam tiga tahun pertama sekolah punya kemampuan otak lebih baik.

Namun manfaat konsumsi sayur dan buah tersebut tidak cukup menggerakkan masyarakat untuk menambah porsi asupan sayur dan buah.

Akibatnya, data Global Nutrition Report (GNR) menempatkan Indonesia masuk dalam 17 negara yang memiliki tiga masalah gizi pada balita, yaitu stunting atau kurang gizi, wasting atau penurunan bobot, dan overweight atau kelebihan berat badan.

Gizi buruk maupun busung lapar menghantui anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Gizi buruk maupun busung lapar menghantui anak-anak yang hidup di bawah garis kemiskinan. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Ketiga kondisi tersebut dapat berdampak buruh pada kesehatan dan kualitas hidup seseorang.

Pemerintah pun berusaha meningkatkan kesadaran konsumsi sayur dan buah, salah satunya adalah melalui Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Perbaikan Gizi.

Presiden, melalui peraturan tersebut, memerintahkan seluruh masyarakat dan pemerintah menanggulani masalah gizi terutama pada balita.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek mencanangkan gerakan meningkatkan kesadaran hidup sehat masyarakat dengan fokus pada tiga hal, yaitu meningkatkan aktifitas fisik, meningkatkan konsumsi sayur dan buah, dan deteksi dini penyakit.

"Gerakan ini butuh dukungan masyarakat," kata Eni Gustina, Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan saat ditemui Desember lalu. "Membicarakan gizi bukan hanya tentang gizi makro seperti karbohidrat dan protein, namun juga mikro seperti yang dimiliki sayur dan buah itu juga sangat penting." (end)