Lancong Semalam

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Minggu, 29/01/2017 08:18 WIB
Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Pemandangan kota Singkawang, Kalimantan Barat, dari atas atap Gedung Singkawang Grand Mall. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa puluh tahun yang lalu, Singkawang menjadi kota persinggahan para penambang emas asal China sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Monterado. Dua kawasan yang berada di Kalimantan Barat (Kalbar) itu memang berdekatan, hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.

Para penambang yang berbahasa China dengan logat Khek menyebut kota ini dengan nama San Keuw Jong, yang berarti kawasan dengan mata air mengalir dari gunung sampai laut. Kondisi geografis itu juga membuat kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna ini diselimuti oleh lahan hijau yang subur walau beriklim tropis basah.

Karena merasa kalau bertani dan berdagang lebih menjanjikan, maka para penambang lalu memutuskan untuk berubah profesi dan menetap di Singkawang.


Awalnya, kota ini merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Sambas. Setelah Undang Undang No. 12/2001 diterbitkan pada Oktober 2011, kota ini baru resmi menjadi daerah otonom.

Walau tidak sepopuler Pontianak—ibukota Kalbar yang berada berjarak empat jam perjalanan, namun saat ini Singkawang sudah mulai berkembang menjadi kota yang sibuk.

Jumlah penduduk di kota ini sekitar 246 ribuan, dengan mayoritas penduduk merupakan orang keturunan Tionghoa, Dayak dan Melayu, yang beragama Buddha, Khonghucu, Islam, Katolik, Protestan, Tao dan Hindu.

Banyaknya penduduk keturunan Tionghoa yang memeluk Buddha dan Khonghucu membuat banyaknya bangunan vihara atau kelenteng yang dibangun di Singkawang. Kota ini bahkan mendapat julukan 'Kota Seribu Kelenteng' dan 'Hong Kong-nya Indonesia'.

Berbagai tradisi tahunan khas Tionghoa pun rutin diselenggarakan di sini, seperti Imlek, Cap Go Meh dan Ceng Beng. Bahkan, salah satu pawai yang diselenggarakan setiap Cap Go Meh, Pawai Tatung, disebut sebagai yang terbesar di dunia. Pawai tersebut merupakan perpaduan dari budaya Tionghoa dan Dayak.

Pada pertengahan Januari ini, CNNIndonesia.com mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Singkawang. Saat itu, suasana Imlek sudah mulai terasa, dengan banyaknya dekorasi berwarna merah yang digantung di setiap sudut kota.

Tidak sulit untuk mengunjungi kota dengan cuaca panas terik ini. Wisatawan yang memiliki waktu selama dua minggu bahkan bisa sekaligus mengunjungi Pontianak dan Sambas.

Perusahaan maskapai penerbangan besar banyak yang memiliki rute penerbangan ke Singkawang. Tarif tiketnya pun mulai dari Rp300 ribuan. Seluruhnya mendarat di Bandara Internasional Supadio di Pontianak.

Dari bandara, wisatawan bisa langsung menyewa taksi berjenis sedan dengan tarif sekitar Rp500 ribu tanpa tarif tambahan yang lain. Pastikan taksi memiliki kondisi yang baik, karena perjalanan dari Bandara Supadio menuju Singkawang berjarak sekitar empat jam perjalanan. Oleh karena itu, pilihlah penerbangan paling pagi agar tidak terlalu malam saat sampai di Singkawang.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Perjalanan menuju Singkawang dari Pontianak. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Jangan khawatir, karena ada banyak terdapat stasiun pengisian bahan bakar, minimarket dan rumah makan di sepanjang perjalanan. Biasanya, supir taksi akan mengarahkan penumpang untuk makan siang di salah satu rumah makan, namun penumpang boleh menolaknya secara halus.

Tak banyak pilihan tempat menginap di Singkawang. Dari situs pemesanan akomodasi Agoda, tercatat hanya ada empat hotel yang ada di sana, dengan tarif mulai dari dari Rp120 ribuan sampai Rp700 ribuan.

CNNIndonesia.com memilih untuk menginap di Swiss-Bellin Singkawang, hotel berbintang tiga yang berada satu gedung dengan Singkawang Grand Mall di Jalan Alianyang.

Selain baru dan strategis, hotel ini juga memiliki pemandangan yang sangat indah. Dari kamar yang berada di lantai sembilan, pemandangan matahari yang terbit dan tenggelam di balik barisan bukit hijau dapat dilihat dengan mudah.

Singkawang memiliki luas sekitar 504 meter persegi, jadi wisatawan yang tak memiliki banyak waktu tetap bisa menjelajahnya dalam waktu singkat. Lalu lintas di kota ini terbilang lengang, tapi tidak banyak transportasi umum yang beroperasi. Jalan keluarnya bisa menyewa mobil yang disewakan dengan tarif mulai dari Rp300 ribuan.

Berikut ini ialah rangkuman perjalanan wisata satu malam di Singkawang yang berhasil dihimpun oleh CNNIndonesia.com pada Sabtu (14/1):

06.00 WIB - Sarapan di Barello

Swiss-Bellin Singkawang baru beroperasi dua tahun yang lalu. Saat terakhir dikunjungi, hotel ini masih terus berbenah. Namun, fasilitas kamar, restoran dan kolam renangnya sudah bisa dinikmati oleh tamu.

Satu-satunya restoran yang ada di hotel ini bernama Barello. Dengan kapasitas sekitar 500 orang, restoran ini memiliki dua area, dalam dan luar ruangan. Untuk sarapan pagi, banyak tamu yang memilih untuk menikmatinya di luar ruangan, yang menyatu dengan area kolam renang dengan konsep tak bertepi.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Restoran Barello yang berada di Hotel Swiss-Bellin Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Walau menu sarapan pagi yang ditawarkan tidak terlalu istimewa, pemandangan matahari terbit di sela perbukitan yang menghijau menjadi nilai tambah restoran ini.

Tak hanya oleh tamu hotel, restoran Barello juga terlihat ramai dikunjungi oleh pengunjung lain yang ingin merasakan sensasi makan malam dengan pemandangan lampu kota Singkawang.

07.00 WIB - Jelajah Pulau

Setelah sarapan pagi, CNNIndonesia.com lalu memulai perjalanan ke Pantai Samudera di Bengkayang. Dengan mengendarai mobil, jarak dari hotel menuju ke pantai itu sekitar 30 menit. Sepanjang jalan, mata akan dihibur oleh pemandangan khas pedesaan, perkebunan jagung dan pemukiman penduduk yang sederhana.

Bagi yang menyetir kendaraannya sendiri, diharapkan waspada, karena sebagian besar penduduk menggunakan sepeda motor, mulai dari anak SMP sampai ibu rumah tangga. Silakan menyalip kendaraan yang ada di depan, namun perhatikan kendaraan yang berjalan dari arah sebaliknya.

Akses jalanan di Singkawang sudah sangat memadai. Dari penjelasan supir, diketahui kalau pembangunan jalan sudah dilakukan sejak masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kenyamanan tersebut terbukti saat mobil mulai memasuki jalan kecil menuju Pantai Samudera. Jalan kecil beraspal membelah hutan yang ditempati beberapa rumah penduduk.

Sampai di gerbang Pantai Samudera, petugas parkir menagih tiket masuk seharga Rp15 ribu perorang. Selebinya, tidak ada lagi biaya yang ditagih untuk seharian berwisata di sana.

Senasib dengan pantai-pantai yang ada di pelosok Indonesia, Pantai Samudera terlihat sepi. Hanya ada beberapa warung sederhana yang menjual kopi dan mie instan. Disarankan untuk membawa bekal sendiri sebelum merasa kecewa dengan menu dan harga ditawarkan.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Pantai Samudera di Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Dari jauh, terlihat pekerja sedang membangun pembangkit listrik tenaga uap, dermaga dan komplek penginapan sederhana. Pemilik warung di sana berharap pembangunan dapat segera selesai, sehingga wisatawan semakin banyak berdatangan.

Pantai Samudera berpasir putih dengan ombak yang tenang, oleh karena itu banyak wisatawan yang datang untuk berenang.

CNNIndonesia.com tidak menghabiskan banyak waktu di sana, karena segera loncat masuk ke perahu nelayan untu mengunjungi beberapa pulau yang ada di sekitarnya, Pulau Randaian dan Pulau Lemukutan.

Tarif naik perahu nelayan sekitar Rp1 jutaan dengan kapasitas 10 orang. Hati sempat was-was, karena tahu perahu hanya terbuat dari kayu. Tapi tidak seperti menempuh perjalanan dari Bali menuju Kepulauan Gili, lautnya masih terbilang tenang, malah lebih mirip sungai.

Sekitar 20 menit meninggalkan Pantai Samudera, dasar laut yang menghijau mulai terlihat, menandakan kalau perairan di sini tidak terlalu menyeramkan untuk diselami.

Nelayan yang bertindak sebagai kapten kapal mengatakan kalau butuh waktu 1,5 jam untuk sampai ke Pulau Randayan. Jika tidak disesaki orang, perahu kayu terbilang nyaman. Tapi daripada tertidur, mata lebih ingin menyaksikan pemandangan pulau-pulau kecil dengan perbukitan hijau yang dilewati.

Hampir sampai menuju Pulau Randayan, terlihat beberapa pulau tak berpenghuni yang rasanya menarik untuk dikunjungi. Namun, kapten kapal mengatakan kalau akses merapat ke sana cukup sulit, karena terjalnya karang di tepiannya.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Pulau Randayan. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Kapal merapat di dermaga Pulau Randaian. Hamparan pasir putih dan barisan pohon kelapa menyambut CNNIndonesia.com. Satu-satunya penginapan yang ada di sana dioperasikan oleh Randayan Island Resort.

Sekali lagi jangan bayangkan Bali atau Gili, karena jika tidak melakukan pemesanan sebelumnya, menu yang disediakan karyawannya hanyalah mie instan. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena pulau ini terpisah jauh dari Singkawang.

Selalu gunakan alas kaki sebelum menyicipi tepi pantainya. Karena walau berpasir putih, banyak pecahan karang yang cukup tajam. Aktivitas renang bisa dilakukan saat air pasang, selebihnya lebih baik menyelam.

Sama seperti makanan, lebih baik membawa sendiri perlengkapan menyelam. Tak perlu jauh-jauh sampai ke tengah lautan, dari pinggiran dermaga berbagai ikan kecil berwarna-warni sudah bisa diajak bermain.

Hampir dua jam menghabiskan waktu di Pulau Randayan, CNNIndonesia.com lalu melanjutkan perjalanan ke Pulau Lemukutan yang hanya berjalan sekitar 20 menit.

Kapal yang ditumpangi berpapasan dengan kapal-kapal nelayan lain yang terlihat ramai ditumpangi wisatawan. Banyak dari mereka yang mengunjungi kedua pulau ini selama musim liburan, namun wisatawan lokal terbilang jarang menginap.

Pulau Lemukutan sudah ada di depan mata. Suasana di sini terbilang lebih ramai, karena adanya kampung nelayan. Kapten kapal mengatakan kalau wisatawan luar negeri lebih memilih menginap di sini, karena pilihan tempat menginapnya lebih banyak, dengan tarif mulai Rp200 ribuan per malam.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Pulau Lemukutan. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Bangunan penginapannya memang tak sekokoh pulau sebelumnya, hanya berdinding dan beratapkan kayu. Tapi, siapa yang bisa menolak untuk bermalam dengan pemandangan atas dan bawah laut yang indah?

Ada banyak titik menyelam di sini, jenis ikan kecilnya pun lebih beragam, bahkan ada kerumunan ikan badut atau ikan Nemo yang bisa ditemui.

Medan menyelam di Lemukutan terbilang lebih ramah dibandingkan dengan di Randayan. Karangnya berlumut dan tak terlalu tajam, sehingga terasa nyaman untuk diselami atau direnangi. Saat matahari bersinar terik, terlihat jelas keindahan pemandangan bawah.

"Salah satu titik menyelam terbaik di Singkawang ada di Pulau Lemukutan. Medannya cocok untuk penyelam pemula," kata A. Kartadinata, salah satu penyelam yang ikut dalam rombongan kami.

Menjelang jam makan siang, CNNIndonesia.com meninggalkan Pulau Lemukutan untuk kembali menuju Pantai Samudera. Kulit yang terbakar terbayar dengan kegembiraan jelajah dua pulau berpemandangan indah yang ternyata juga dimiliki Singkawang.

13.00 WIB - Rumah Makan Along

Seorang teman yang merupakan warga asli Singkawang menceritakan sejarah rumah makan yang didatangi sambil tertawa-tawa. Salah satu ceritanya yang kocak ialah Koh Along, sang juru masak dan pemilik, terkenal ketus jika sedang melayani pelanggannya yang banyak mau.

Buka setiap hari tapi tutup sesuka hati, adalah semboyan Rumah Makan Along yang berada di Jalan Saman Bujang ini.

Hati sedikit gentar saat pertama kali berkenalan dengan Koh Along, pria keturunan Tionghoa berusia sekitar 50 tahunan dengan tato di pundak. Dia tak banyak bicara selagi sibuk memasak dengan tungku arangnya.

Menu daging babi menjadi menu utama rumah makan ini. Menu yang dipesan hari itu ialah Sam Chan Asam Manis, Semur Daging Babi, Kwetiau Babi, Iga Babi Bakar, Okra Rebus, Kuah Asam Manis, Nasi Goreng Babi dan Es Jeruk Besar.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Searah jarum jam: Sam Chan Asam Manis, Semur Daging Babi, Kwetiau Babi, Iga Babi Bakar. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Teman yang sudah menjadi pelanggan tetap—sehingga ia diizinkan membayar tagihan makannya sebulan sekali, menggoda Koh Along untuk membuatkannya Nasi Goreng Babi.

“Bikin nasi goreng untungnya ga banyak, mending lu pulang aja sana,” kata Koh Along setengah bercanda sambil sibuk memasak di balik tungku arangnya.

Seketika kami pun tertawa mendengarnya. Koh Along memang malas membuat menu yang dianggapnya merepotkan itu. Jadi, jika bukan pelanggan tetap jangan harap bisa memesannya sesuka hati.

Menu selesai dimasak dan dihidangkan langsung oleh istri Koh Along. CNNIndonesia.com memilih untuk tak menyantapnya dengan nasi, karena ingin mencicipi semuanya tanpa harus merasa kekenyangan.

Seluruh menu berbahan daging babi terasa enak, gurih, dan tanpa bau amis, karena Koh Along selalu menggunakan daging babi segar yang direndamnya terlebih dahulu dengan cuka tapai. Minyak yang digunakan pun minyak babi bikinannya sendiri.

Kisaran harga di sini mulai dari Rp25 ribuan untuk makanan dan Rp10 ribuan untuk minuman.

Tak diduga, Koh Along mengejutkan kami dengan menyuguhkan Nasi Goreng Babi. Ia menyuguhkan sendiri ke meja kami, kali ini sambil tersenyum.

“Jangan ditulis menu ini ada di sini, nanti pada rame yang mesen,” ujar Koh Along. Kami pun kembali terbahak-bahak.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Searah jarum jam: Okra Rebus, Kuah Asam Manis, Nasi Goreng Babi, Es Jeruk Besar. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Setelah menyeruput habis Es Jeruk Besar, CNNIndonesia.com mulai mendekati Koh Along untuk berbincang. Dengan raut muka yang serius, ia ternyata cukup ramah.

Dari perbincangan itu, diketahui kalau Rumah Makan Along merupakan warisan dari bapaknya yang sudah buka sejak 1965. Koh Along merupakan generasi ke-dua, yang mulai turun ke dapur setelah tobat menjadi preman di Jakarta.

Mendengar kisah kehidupan pribadi Koh Along tentu saja membuat makan siang kali ini menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

15.00 WIB - Belanja oleh-oleh

Singkawang terkenal dengan buah durian yang bernama Serondeng dan tumbuh lebat di hutan perbukitan. Dari awal sampai pertengahan tahun, buah tersebut panen, bersama buah langsat (duku) dan rambutan. Jadi saat berada di sana, CNNIndonesia.com melihat banyak kios buah yang menjajakannya di pinggir jalan.

Salah satu toko oleh-oleh khas Singkawang terletak di Jalan Hermansyah. Sebagian besar barang dagangannya berupa manisan dan dodol buah serta sayur, seperti durian, salak, nanas, sampai tomat.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Toko oleh-oleh khas Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Sebelum membayar, pembeli dipersilakan untuk menyicipi dari potongan-potongan kecil yang dimasukkan dalam toples.

Yang banyak dibeli oleh wisatawan untuk oleh-oleh ialah Dodol Durian dan Manisan Nanas, yang masing-masing harganya Rp85 ribuan per enam potong dan Rp35 ribuan per bungkus besar.

16.00 WIB - Makan durian

Tak puas hanya membeli durian dalam bentuk dodol, maka CNNIndonesia.com pun mampir di salah satu kios penjual duren yang berada di ujung Jalan Alianjang.

Puluhan duren dijajakan di atas terpal, dengan beragam ukuran. Yang paling besar dihargai Rp30 ribu perbuah, bisa lebih murah jika membeli dalam jumlah banyak.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Kios penjaja buah durian di Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Buah durian yang dibeli bisa langsung dimakan di tempat. Beruntung, saat itu cuaca sedang mendung, sehingga duduk di bangku plastik yang ditempatkan pinggir jalan tak terasa terlalu terik.

Setelah dirasa, daging durian tidak terlalu tebal, namun tetap terasa manis. Jadi bagi yang memiliki pantangan, bisa menyantapnya dengan tenang, meski tetap harus dibatasi jumlahnya.

17.00 WIB - Pasar Hong Kong dan Kelenteng

Waktu terbaik untuk mengunjungi kelenteng di sini ialah menjelang sore hari, karena tidak akan menganggu orang yang sedang beribadah di siang harinya.

Tempat beribadah lain seperti masjid dan gereja tetap tersedia, namun jumlah kelenteng masih jauh lebih banyak. Itu karena mayoritas penduduk Singkawang merupakan keturunan Tionghoa yang memeluk agama Khonghucu.

Banyaknya bangunan kelenteng, mulai dari pemukiman penduduk sampai kaki bukit, membuat kota ini mendapat sebutan Kota Seribu Kelenteng.

Dua kelenteng yang dikunjungi oleh CNNIndonesia.com ialah Tri Dharma Bumi Raya di Jalan Antasari dan Budhi Dharma di Jalan Sinar Budi.

Tri Dharma Bumi Raya sudah berdiri sejak 1878 dan menjadi ikon kota Singkawang. Tepat di belakangnya terdapat Masjid Raya Singkawang yang dibangun sejak 1885. Walau berbeda ajaran, namun eksistensi dua tempat ibadah itu menandakan kalau kehidupan umat beragama di kota ini sarat dengan tenggang rasa.

Saat dikunjungi, pengurus kelenteng ini sedang melakukan pembenahan dalam rangka menyambut Imlek. Meski demikian, mereka tetap melayani pengunjung yang ingin bersembahyang.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Vihara Tri Dharma Bumi Raya di Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Di dekat kelenteng ini, ada pasar yang juga legendaris, bernama Pasar Hong Kong. Sebagian besar toko menjual pakaian jadi dan barang elektronik. Tapi, ada juga beberapa toko yang menjual pakaian khas Tionghoa yaitu cheongsam. Warnanya cerah dan dibuat dalam berbagai ukuran, dari bayi sampai orang dewasa.

Tak jauh dari sana ada Tugu Naga yang gagah berdiri. Sama seperti kelenteng Tri Dharma Bumi Raya, tugu ini juga merupakan ikon kota Singkawang.

Singkawang, 'Sepetak' Chinatown di Indonesia Tugu Naga, ikon kota Singkawang yang berdekatan dengan Pasar Hong Kong. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Tiang dengan ukiran naga ini sempat dirusak oleh kelompok massa dari salah satu pasangan calon kepala daerah yang merasa kecewa dengan keputusan Komisi Pemilihan Umum pada November 2016. Saat dikunjungi CNNIndonesia, lampu dan bangunan tugu sudah kembali diperbaiki.

Berjarak sepuluh menit dari sana, CNNIndonesia.com mengunjungi Budhi Dharma.

Walau berada di pinggir jalan, namun kelenteng ini berada di lahan yang lebih luas. Bangunannya pun terbilang baru, karena empat tahun yang lalu baru selesai direnovasi.

Setiap kelenteng pasti memiliki warna yang cerah, didominasi merah dan kuning, yang dianggap sebagai warna peruntungan dalam kepercayaan etnis Tionghoa.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Vihara Bumi Dharma di Singkawang. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Selain itu, sosok dewa-dewa juga diukir dalam pintu, tembok, meja, guci, sampai atapnya.

Dekorasi yang paling meriah ada di Budhi Dharma. Memasuki gerbangnya seakan memasuki komplek kerajaan dalam film ‘Crouching Tiger Hidden Dragon’. Megah dan artistik, adalah dua kata yang dapat menggambarkannya.

Pengurus membuka pintu vihara setiap hari selama jam kerja, bagi yang ingin sembahyang atau sekedar berfoto. Karena merupakan tempat ibadah, jadi jangan lupa untuk menjaga kesopanan selama di sana.

19.00 WIB - Choi Pan

Usai mengunjungi Pasar Hong Kong dan kelenteng, CNNIndonesia.com lalu diajak untuk menikmati camilan khas etnis Tionghoa, yaitu choi pan.

Berada di Jalan Padang Pasir, rumah makan yang kami datangi sangatlah sederhana, hanya berupa bilik kayu yang berada di halaman depan rumah.

Rumah makan ini sudah buka sejak 30 tahun yang lalu. Setiap harinya, mereka melayani pembeli yang makan langsung di tempat maupun dibungkus. Tapi ada baiknya untuk menelepon dulu untuk melakukan pemesanan menu.

Singkawang, 'Sepetak' Hong Kong di Indonesia Choi pan dalam proses pembuatan tradisional dengan tungku kayu bakar. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)

Tak perlu menunggu lama untuk menyantap, karena menu choipan hanya dimasak dengan teknik kukus selama 15 menit dalam tungku kayu bakar. Banyak tempat makan di Singkawang yang masih menggunakan tungku kayu bakar. Yang jelas, memasak dengan media tersebut emmang membuat makanan terasa lebih sedap.

Menu choi pan yang ditawarkan memiliki isiann yang beragam, mulai dari bengkoang, kucai, dan lobak. Walau semua isiannya dari sayuran, namun sang pemilik tetap membumbuinya dengan gurih.

Choi pan bisa dimakan langsung atau dengan saus sambal. Karena ukurannya yang tak terlalu besar, sepertinya satu orang dewasa sanggup menghabiskan 15-20 butir choi pan.

Satu butir choi pan dihargai Rp1.500. Untuk minuman, harganya mulai dari Rp10.000, dengan pilihan Es Teh Manis, Es Jeruk Besar dan Es Susu Kacang Kedelai.

20.00 WIB - Masterpiece

Selain tempat makan, tak ada pilihan lain untuk menghabiskan malam di Singkawang. Beruntungnya, Singkawang Grand Mall sudah beroperasi, sehingga masyarakat di sini tak perlu lagi menghabiskan waktu 8 jam untuk bolak balik ke Pontianak hanya untuk menonton bioskop atau berkaraoke.

Salah satu tempat yang sedang ramai didatangi anak muda di Singkawang ialah Masterpiece Karaoke yang berada di lantai teratas Singkawang Grand Mall.

Tak hanya menyediakan ruang-ruang berkaraoke, pusat keramaian ini juga menggelar acara live band dan DJ di lobinya setiap malam minggu.

Masyarakat Singkawang yang sepertinya haus akan hiburan sangat betah berada di sini. Beberapa dari mereka tak hanya duduk mengobrol, tapi juga menyumbangkan suaranya untuk bernyanyi di atas panggung.

Berakhirnya kemeriahan di Masterpiece pada pukul 02.00 WIB, berakhir pula wisata satu malam di Singkawang. CNNIndonesia.com pun kembali ke kamar hotel untuk beristirahat.

(ard)