Mencicipi Hasil 'Persilangan' Kuliner Padang dan China

Puput Tripeni Juniman , CNN Indonesia | Jumat, 17/02/2017 19:25 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Saat ingin menikmati berbagai santapan makanan khas Padang, rumah makan Padang favorit pasti jadi tujuan. Banyak orang yang memilih rumah makan Padang kecil yang sederhana.

Namun belakangan ini, rumah makan Padang mulai naik kelas. Aneka makanan khas Padang ini tak lagi cuma dijual di rumah makan kecil, tapi di mal.

Ivan Sini adalah salah satu pria Padang yang membuka restoran Padang high-end di mal. Namun, sedikit berkreasi, Ivan justru menghadirkan kreasi makanan Padang peranakan.

Memori masa kecil yang begitu melekat tentang kenikmatan rasa makanan Padang di daerah pecinan membawa Ivan membuka restoran Padang peranakan, Cikang.

Rumah makan berkonsep kafe itu tak hanya menawarkan makanan Padang, tapi juga menjual cerita di balik makanan itu.

"Kami tidak jual makanan saja, tapi ada kisah di setiap makanan itu, kami punya budaya," kata Ivan beberapa waktu lalu.

Ivan bercerita saat ia masih kanak-kanak, sang ayah, Rizal Sini, kerap membawanya pulang kampung ke Padang setahun sekali.

Di muara Kota Padang, di daerah Pecinan yang terkenal dengan nama Pondok, Ivan mengahabiskan masa liburnya di Ranah Minang. Rutinitas tiap hari pada 70-an itu hampir selalu sama.

Rizal kerap membawa Ivan ke kedai kopi milik Lee Chi Kwang atau akrab dipanggil Ci Kang.

Di kedai ini, Rizal dan Ivan 'terpesona' dengan kopi khas Padang. Kopi ini jugalah yang menginspirasi Ivan menghadirkan kopi Padang sejenis di restorannya.

Warung Chi Kwang yang berada di tengah-tengah bangunan peninggalan kolonial Belanda dan berpadu dengan klenteng serta vihara, menjual beragam masakan khas Padang peranakan. Mulai dari jajanan tradisional 'teman' minum kopi hingga Sate Padang.

Konsep kedai Chi Kwang yang menjual jajanan pagi hingga makan malam diadaptasi oleh Ivan dan istrinya, Fenty Sini di Puri Indah Mall.

Chi Kwang Pindah Haluan

Chi Kwang bermetamorfosis dengan nuansa yang lebih modern di tengah toko-toko mewah di mal Jakarta. Untuk membangkitkan nostagia, Resto Cikang didesain dengan interior khas Padang peranakan.

Warna merah menjadi warna dominan di cafe ini. Mural gadih Minang (gadis Minang) yang berada di daerah Pondok lengkap dengan jam gadang menjadi gambar dinding di salah satu sudut cafe.

Di sisi lain, wallpaper diisi dengan ukiran garis-garis minimalis Tionghoa. Di dinding itu terpanjang foto-foto wilayah Padang dari masa dulu hingga kini berpadu dengan piring keramik khas budaya China. Lantunan lagu Minang dengan nada jazzy semakin melengkapi nostalgia cita rasa masakan Padang.

Di Puri Indah Mal ini tersedia 100 tempat duduk untuk pengunjung. Lokasi di mal di Jakarta Barat ini dipilih untuk menyasar kaum Tionghoa yang banyak bermukim di wilayah itu.

Pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu mengaku menargetkan orang-orang dengan gaya hidup menengah yang biasa nongkrong di cafe dengan usia 20 tahun ke atas.

Penyajian di Cikang Resto ini berbeda dengan rumah makan padang lainnya. Jika restoran Padang biasanya menyajikan makanan ditumpuk-tumpuk, di Cikang, makanan dibuat berdasarkan pesanan, sehingga membuat pengunjung mesti menunggu lebih lama. Cikang mengadaptasi konsep ala carte.

1 dari 2